← Beranda
Irigasi Tenaga Surya Mulai Atasi Krisis Air Sawah di Karawang
Dimas ChoirulJumat, 19 Juni 2026 | 01.48 WIB
Irigasi Tenaga Surya Mulai Atasi Krisis Air Sawah di Karawang. (Istimewa)

JawaPos.com - Harapan baru muncul bagi petani di Desa Ciwulan dan Pulosari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, setelah sistem irigasi tenaga surya mulai mengalirkan air ke lahan pertanian yang selama bertahun-tahun mengalami kekurangan pasokan saat musim kemarau.

Kehadiran teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan di wilayah tersebut.

Air dari saluran tersier kini dapat dialirkan ke area persawahan yang sebelumnya sulit mendapatkan pasokan irigasi. Kondisi itu menjadi solusi bagi petani yang selama ini menghadapi keterbatasan air karena lokasi lahan yang jauh dari jaringan irigasi.

Baca Juga: Real Madrid Resmi Datangkan Ibrahima Konate dari Liverpool

Sistem irigasi tersebut dikembangkan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Institut Teknologi PLN (ITPLN) dengan memanfaatkan pompa air bertenaga surya berbasis electrifying agriculture.

Anggota Tim Sugeng Purwanto, menjelaskan bahwa sistem yang dibangun tidak hanya memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi utama, tetapi juga dilengkapi baterai penyimpanan energi serta sistem kendali motor berbasis Variable Frequency Drive (VFD).

"Petani memperoleh sumber energi yang lebih bersih sekaligus pasokan listrik yang lebih stabil untuk mengoperasikan pompa irigasi. Energi dari panel surya pada siang hari tidak seluruhnya digunakan langsung, sebagian disimpan dalam baterai sehingga pompa tetap memiliki cadangan daya ketika intensitas matahari menurun," ujar Sugeng, Kamis, (18/6).

Teknologi tersebut memanfaatkan panel surya berkapasitas 8 kilowatt peak (kWp) yang mengubah sinar matahari menjadi energi listrik. Energi kemudian diatur melalui solar charge controller berbasis Maximum Power Point Tracking (MPPT), disimpan ke baterai, lalu dikonversi menjadi listrik arus bolak-balik melalui inverter untuk menggerakkan pompa air.

Baca Juga: Terlibat dalam Berbagai Aksi Kekerasan, Satgas Operasi Damai Cartenz Tembak Pentolan KKB

Agar operasional pompa lebih efisien, sistem juga menggunakan VFD 7,5 kilowatt yang mampu mengubah suplai listrik satu fasa menjadi tiga fasa. Teknologi ini memungkinkan motor pompa 5,5 kilowatt melakukan soft start, sehingga lonjakan arus saat pompa dinyalakan dapat diminimalkan.

Tak berhenti di situ, tim juga telah menyiapkan pengembangan lanjutan dengan meningkatkan kapasitas VFD menjadi 10 kilowatt dan mengganti motor pompa menjadi 7,5 kilowatt guna meningkatkan debit air yang dapat disalurkan ke area pertanian.

 

Ketua Tim Meyhart Bangkit Sitorus, mengatakan program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan teknologi, tetapi juga pada keberlanjutan pemanfaatannya oleh masyarakat.

Tim melakukan pelatihan kepada petani mengenai pengoperasian sistem, keselamatan kerja, perawatan baterai, hingga pemeriksaan rutin perangkat.

"Kami ingin masyarakat mampu mengelola sistem ini secara mandiri sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang," ucap Meyhart.

Baca Juga: Peter Cklamovski Mundur dari Timnas Malaysia, Gara-gara Skandal Pemalsuan Dokumen 7 Pemain?

Kepala Desa Ciwulan, Warkat Subrata, mengungkapkan bahwa pompa tenaga surya sudah mampu mengalirkan air ke lahan pertanian meski pembangunan jaringan pipa hingga saluran tersier belum sepenuhnya selesai.

"Air sudah bisa dialirkan. Ini bukan lagi sekadar eksperimen, tetapi teknologi yang mulai memberi dampak nyata bagi masyarakat," kata Warkat.

Menurut dia, Pemerintah Desa Ciwulan bersama Desa Pulosari telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp320 juta hingga Rp350 juta untuk mendukung pembangunan sistem tersebut. Pada tahap berikutnya, anggaran akan difokuskan untuk penyelesaian jaringan perpipaan hingga titik akhir saluran tersier.

EDITOR: Bintang Pradewo