← Beranda
Pasar Global Kian Ketat, Hilirisasi Nikel Indonesia Dituntut Lebih Berkelanjutan
Banu AdikaraKamis, 4 Juni 2026 | 03.39 WIB
Ilustrasi aktivitas pertambangan nikel di kawasan Pulau Obi, Halmahera Selatan, Rabu (21/1/2026). (ANTARA/Abdul Fatah)

 

JawaPos.com — Di tengah meningkatnya permintaan global terhadap nikel sebagai bahan baku kendaraan listrik dan transisi energi, industri hilirisasi Indonesia menghadapi tantangan baru, yakni membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat berjalan seiring dengan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang semakin ketat.

Isu tersebut menjadi salah satu fokus dalam North Maluku Sustainability Trip yang mempertemukan pelaku industri, investor, akademisi, organisasi internasional, dan pembuat kebijakan untuk melihat langsung perkembangan ekosistem hilirisasi nikel di Maluku Utara.

Berdasarkan data terbaru, Indonesia masih menjadi pemilik cadangan nikel terbesar di dunia. Namun, di tengah meningkatnya tuntutan pasar terhadap rantai pasok mineral kritis yang bertanggung jawab, keberhasilan industri tidak lagi hanya diukur dari kapasitas produksi, tetapi juga dari praktik keberlanjutannya.

Baca Juga: Hyundai Sambut Positif Rencana Insentif untuk EV Berbasis Baterai Nikel

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda dalam keterangan tertulisnya mengatakan hilirisasi telah menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi daerah.

“Tahun lalu ekonomi Maluku Utara tumbuh sekitar 34 persen secara tahunan, sementara pada kuartal pertama 2026 mencapai 19,64 persen, tertinggi di Indonesia. Sebagian besar dari industri hilirisasi khususnya di nikel. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa hilirisasi telah menciptakan nilai tambah yang nyata bagi daerah,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah daerah menegaskan bahwa pertumbuhan industri harus dibarengi penguatan pengawasan lingkungan, transparansi, dan keterlibatan masyarakat.

“Lima puluh tahun dari sekarang, Maluku Utara tidak boleh hanya dikenal karena nikel yang diambil dari tanahnya, tetapi karena nilai yang berhasil kita tinggalkan bagi masyarakatnya,” kata Sherly.

Baca Juga: Prabowo Terima Surat Investor Tiongkok soal Pajak dan Kuota Nikel

Dalam forum tersebut, sejumlah organisasi internasional seperti Nickel Institute, International Council on Mining and Metals, Initiative for Responsible Mining Assurance, dan Global Battery Alliance turut membahas isu transparansi rantai pasok, perlindungan biodiversitas, pengembangan masyarakat, hingga praktik pertambangan yang bertanggung jawab.

Perwakilan Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia sekaligus Direktur BYD Haka Auto, Ahmad Fikri Susanto, menilai ekspektasi investor dan pembeli global kini berubah.

“Investor dan pembeli global kini ingin melihat lebih dari sekadar volume produksi. Mereka ingin memahami bagaimana rantai pasok dikelola, bagaimana lingkungan dijaga, dan bagaimana masyarakat turut merasakan manfaat pembangunan. Upaya membangun kepercayaan kini menjadi sama pentingnya dengan membangun kapasitas produksi itu sendiri,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Vice Chair for International Affairs Kadin Indonesia, Bernardino Vega. Menurutnya, standar keberlanjutan kini semakin menentukan akses investasi dan pasar bagi industri mineral.

“Perusahaan yang mampu menunjukkan praktik pertambangan yang baik serta kinerja ESG yang kredibel dan dapat diverifikasi adalah perusahaan yang akan memperoleh investasi jangka panjang dan akses yang lebih strategis ke pasar global,” katanya.

Sementara itu, Presiden Direktur Indonesia Weda Bay Industrial Park, Kevin He, menegaskan bahwa pertumbuhan industri harus diimbangi tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

“Kemajuan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Ekspansi industri harus menciptakan peluang dan manfaat yang nyata bagi masyarakat lokal. Dan keberhasilan jangka panjang hanya dapat dicapai melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan seluruh mitra terkait,” ujarnya.

Selain menjadi salah satu pusat hilirisasi nikel terbesar di Indonesia, kawasan IWIP juga disebut telah menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar. Saat ini sekitar 85 persen pekerja di kawasan tersebut berasal dari Maluku Utara.

Melalui berbagai inisiatif keberlanjutan yang mulai diterapkan, Maluku Utara berupaya menunjukkan bahwa masa depan industri nikel tidak hanya ditentukan oleh besarnya cadangan mineral, tetapi juga oleh kemampuan membangun rantai pasok yang transparan, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.

EDITOR: Banu Adikara