JawaPos.com - Banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar) menyisakan duka mendalam bagi korban terdampak.
Sawah terendam luapan sungai. Padi yang sebentar lagi dipanen jadi rusak. Tidak hanya itu, lubuk ikan larangan dan pipa Pamsimas juga terdampak.
Berdasar informasi yang diterima oleh awak media, Sungai Batang Sandir di Jorong Sawahlaweh, Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, meluap sejak Rabu (13/5).
Sampai Jumat (15/5), debit air sungai yang disebut penduduk sebagai Batang Aia Pondam itu masih tinggi, deras, dan berwarna cokelat.
Penjabat (Pj) Wali Nagari Tungkar Syafriwan mengungkap, sungai yang meluap itu telah memutus pipa Pamsimas yang mengalir untuk ratusan rumah warga.
Tidak hanya itu, luapan air merusak lubuk ikan larangan Pokmawas Pondam dan merendam areal persawahan masyarakat.
”Seminggu lagi, padi di sawah kami mau dipanen. Tapi mau bilang apa. Datang banjir. Habis semua,” kata Efa dan Jusni Ancok, petani yang sawah garapannya rusak akibat luapan air sungai.
Hujan deras yang turun pada Rabu malam lalu juga mengakibatkan bencana di 3 jorong di Nagari Tungkar terdampak. Yakni, Jorong Taratak, Jorong Sialang, dan Jorong Dalam Nagari. Akibat bencana tersebut, rumah warga rusak dan beberapa ruas jalan terdampak.
Anggota DPRD Limapuluh Kota M. Fajar Rillah Vesky yang sudah meninjau lokasi terdampak bencana meminta pemerintah daerah setempat segera menetapkan status tanggap darurat. Sebab bencana alam yang terjadi sudah meluas sampai ke beberapa kecamatan.
Kondisi tersebut mengganggu kehidupan dan penghidupan warga. "Pemkab Limapuluh Kota harus segera menetapkan status tanggap darurat, untuk melegalisasi penggunaan Biaya Tak Terduga (BTT) sebesar Rp 2,5 miliar yang terdapat dalam pos belanja APBD 2026.
Sekaligus untuk memobilisasi bantuan dari berbagai pihak, seperti BNPB, Pemprov Sumbar dan BWS Sumatera V,” ucap M. Fajar Rillah Vesky dalam keterangan resmi pada Sabtu (16/5).
Berkaitan dengan luapan Sungai Batang Sandir yang merusak areal pertanian penduduk dan sarana air bersih masyarakat, Fajar sudah berkoordinasi dengan bupati dan Pemda Limapuluh Kota.
Dia juga melaporkan kejadian tersebut kepada anggota DPR Zigo Rolanda dan BWS Sumatera V di Padang. Mengingat 2 tahun lalu, Sungai Batang Sandir pernah dinormalisasi oleh BWS Sumatera V.
”Area yang dinormalisasi BWS Sumatera V, 2 tahun lalu, masih dibilang aman dari luapan Sungai Batang Sandir.
Sedangkan yang belum dinormalisasi menimbulkan kerusakan parah. Karenanya, kita berharap kembali bantuan BWS Sumatera V untuk menormalisasi Batang Sandir,” imbuhnya.
Sumbar, , Banjir, Limapuluh Kota, Padi