← Beranda
Kiai Rembang Ingatkan Calon Ketum PBNU Jangan Saling Menjatuhkan, Jadikan Gus Dur sebagai Contoh
Sabik Aji TaufanSenin, 11 Mei 2026 | 21.03 WIB
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar 2, Sarang Rembang, Jawa Tengah, Abdullah Ubab Maimoen saat bertemu Abdussalam Shohib. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar 2, Sarang Rembang, Jawa Tengah, Abdullah Ubab Maimoen mengingatkan kepada para tokoh yang maju dalam bursa calon ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak saling serang selama proses pencalonan. Para calon harus memperlihatkan sikap santun dan beretika.

Ubab mengatakan, pesan ini penting untuk diingat para tokoh karena Muktamar ke-35 NU sebentar lagi akan digelar. Para calon harus berlomba-lombah dengan kebaikan untuk mendapat kepercayaan umat.

“Jangan sampai saling menjelek-jelekkan antar calon. Bahkan, jangan banding-bandingkan secara negatif seperti pemilihan pejabat hingga pertengkaran terbawa hingga setelah pemilihan,” kata Gus Ubab di Semarang, Senin (11/5).

Sebagai salah satu Mustasyar PBNU, Ubab berharap pemilihan ketua umum dilakukan melalui muktamar resmi. Mekanisme ini sama dengan yang terjadi saat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terpilih sebagai ketua umum PBNU. 

Baca Juga: Nadiem Makarim Klaim Tak Pernah Putuskan Pengadaan Chromebook, Keputusan Selesai pada Level Dirjen

“Saya ingin prosesnya mulus, menjadi (Ketua Umum PBNU) dengan jalan mulus, purna (selesai tugas) pun juga berakhir mulus. Seperti Gus Dur, saat menjadi maupun berakhir dengan mulus,” imbuhnya.

Ubad mengaku senang sudah ada sosok seperti Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar Jombang Abdussalam Shohib yang maju sebagai calon. Dia mendoakan siapapun yang terpilih adalah sosok terbaik.

“Saya tidak ada pilihan. Saya senang saja Gus Salam nyalon. Jadi, siapapun yang jadi, tentu Allah yang mengatur dan menghendakinya,” ucapnya. 

Sementara, Gus Salam menyatakan bersyukur bisa sowan kepada para sesepuh NU dan pesantren di Jawa Tengah. Di samping ziarah, juga bisa bertemu dengan ketua-ketua PCNU se-Jawa Tengah untuk mandapat masukan dan menyerap aspirasi.

“Saya sowan ke KH Ali Qoishor Abdul Haq Dalhar sebelum ziarah makbaroh. Karena Mbah Dalhar adalah ulama besar dan kharismatik sejaman dengan Mbah Hasyim Asy’ari,” kata Gus Salam

“Kami ingin tabarrukan, karena peran dan perjuangan Mbah Dalhar mewarisi para pendahulunya, Laskar Kiai semasa Pangeran Diponegoro, sekaligus menyerap nuansa spiritualitas Islam di kerajaan Mataram saat menghadapi kolonial Belanda,” tandasnya.

EDITOR: Sabik Aji Taufan