JawaPos.com - Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Jawa Timur, Abdussalam Shohib merasa prihatin atas terjadinya pelecehan seksual oleh kiai di Pati, Jawa Tengah terhadap 50 santriwati. Pemerintah diminta segera memberikan perlindungan kepada para korban.
“lima puluhan korban dari keluarga kurang mampu, sebagiannya yatim. Pemerintah harus dan segera memberi perlindungan secara menyeluruh kepada korban dan keluarganya,” kata Gus Salam, Selasa (5/5).
Dia menilai, perbuatan pelaku telah memberikan luka mendalam kepada korban. Derita ini meliputi sisi ekonomi, psikologi, sosial, dan masa depan.
Pemerintah perlu membuat program nyata untuk menyelamatkan para korban. Dengan begitu, para korban bisa pulih dan melanjutkan hidup seperti sediakala.
Baca Juga: Skandal Jual Beli Jabatan Perangkat Desa, 3 Kades di Kediri Divonis hingga 7 Tahun Penjara
“Keprihatinan mendalam tidak hanya kita rasakan untuk korban dan keluarga. Komunitas pesantren pun sangat terpukul oleh ulah oknum, seperti itu. Tapi itu tadi kita minta, negara dan pemerintah wajib hadir untuk mereka dengan perlindungan serta pemulihan kondisi korban dan keluarganya,” tambahnya.
Gus Salam mengatakan, peristiwa pelecehan di lingkungan pesantren sudah terjadi berulang kali. Oleh karena itu, pemerintah harus memberikan perhatian maksimal untuk memutus mata rantai kejahatan tersebut.
“Tragedi Tlogosari, Pati dan kejadian serupa harus menjadi momentum bagi pesantren dan jam’iyyah NU di semua tingkatan untuk instrospeksi supaya kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
“Pesantren seperti kita ini harus bersikap reflektif. Menyadari kekurangan, mencari celah-celah kelemahan supaya bisa kita perbaiki sebaik mungkin untuk khidmah ilmu dan generasi masa depan. Itu sepenuhnya amanat,” tambahnya.
Gus Salam menyadari bahwa jam’iyyah Nahdlatul Ulama memiliki perangkat dan sumber daya yang sangat cukup untuk ikut mendampingi pesantren, melalui Rabithah Ma’ahid Indonesia (RMI) dalam memperbaiki kelemahan dan mengembangkan inovasi pelayanan.pesantren kepada para santri, anak didiknya.
“sepanjang NU juga memiliki prioritas untuk melayani pesantren, melalui RMI bisa menyiapkan sistem, prosedur sekaligus upaya pendampingan dalam menyelaraskan perubahan untuk kemajuan pesantren,” pungkasnya.