JawaPos.com–Upaya mendorong desa sebagai motor ekspor terus diperkuat. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) meluncurkan program pengembangan desa devisa berbasis komoditas jahe gajah di Kabupaten Sukabumi, dengan melibatkan ratusan desa untuk menembus pasar internasional.
LPEI bersama bea cukai dan PT Karabha Digdaya serta pemerintah daerah mengakselerasi pengembangan komoditas unggulan menjadi produk ekspor berdaya saing global. Salah satunya melalui inisiatif desa devisa jahe gajah yang digulirkan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Kepala Divisi Jasa Konsultasi LPEI Maria Sidabutar menjelaskan, peluncuran program ini menjadi langkah awal untuk mengonsolidasikan potensi desa agar mampu menembus pasar global. Diharapkan, dengan peluang pasar yang luas, mampu menjadikan Indonesia sebagai sentra ekspor jahe.
Baca Juga: Siswa SD Bhayangkari Balikpapan Diajarkan Hasilkan Uang dari Sampah, Hasilnya Diinvestasikan ke Emas
Program ini melibatkan sedikitnya 147 desa yang telah memiliki potensi produksi jahe gajah berkualitas ekspor. Inisiatif tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga penguatan kelembagaan, kualitas, hingga kesiapan ekspor.
”Kita meresmikan atau meluncurkan inisiatif baru di Kabupaten Sukabumi, tepatnya di Desa Nagrak. Banyak potensi yang bisa kita kembangkan untuk menjadi komoditas ekspor,” ujar Maria Sidabutar dikutip, Minggu (3/5).
Maria menegaskan, komoditas jahe gajah memiliki peluang besar di pasar internasional, terutama karena permintaan global terhadap produk rempah terus meningkat.
”Tidak kurang dari 147 desa di kawasan ini berhasil memproduksi jahe gajah dengan kualitas unggul. Ini memiliki potensi pasar global yang cukup luas, sehingga kita membutuhkan kolaborasi para pemangku kepentingan,” kata Maria Sidabutar.
Dalam program ini, LPEI menggandeng berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, koperasi, hingga sektor swasta. PT Karabha Digdaya dilibatkan sebagai pendamping untuk memberikan supervisi dan penguatan kapasitas petani.
Selain itu, peran bea cukai juga dihadirkan untuk memberikan edukasi terkait prosedur ekspor. Sehingga pelaku usaha desa memahami aspek administratif dan teknis yang dibutuhkan.
Maria menekankan, kesiapan ekspor tidak hanya ditentukan ketersediaan produk, tetapi juga kualitas, kontinuitas pasokan, serta kesiapan infrastruktur.
”Pasar sebenarnya terbuka, tetapi perlu adanya supervisi dari para ahli yang berpengalaman agar dalam menyiapkan infrastruktur tidak mengalami kesulitan. Ketika ada permintaan dari luar negeri, mereka juga sudah siap dalam hal pengemasan sehingga produk yang sampai tetap terjaga standar kualitas dan kuantitasnya,” jelas Maria Sidabutar.
Dia juga menyoroti pentingnya menjaga konsistensi kualitas sebagai kunci keberlanjutan ekspor. Tantangan bagi petani adalah memenuhi permintaan dengan kualitas yang konsisten. Oleh karena itu, pelatihan akan diberikan dalam beberapa tahap, termasuk etika bisnis.
Baca Juga: Kiai di Pati Diduga Lecehkan Puluhan Santriwati, Korban Enggan Lapor karena Takut Kualat
”Jika ada permintaan, kualitas tidak boleh diturunkan,” tambah Maria Sidabutar.
Menurut dia, pasar global kini semakin selektif, terutama terhadap aspek keberlanjutan lingkungan. Pemahaman penggunaan pestisida non kimia sangat penting karena pasar Eropa sangat menyukai produk yang ramah lingkungan.
”Ini menjadi salah satu keunggulan produk kita sebagai produk yang environmental friendly,” ujar Maria Sidabutar.
Meski belum menetapkan nilai ekspor secara pasti, Maria optimistis potensi pasar jahe gajah sangat besar, baik di Asia maupun Eropa. Dia menambahkan, keberhasilan ekspor sangat bergantung pada kesiapan desa, baik dari sisi produk, kelembagaan, maupun infrastruktur pendukung.
”Nilai ekspor bervariasi, tetapi kita harus melihat potensi pasarnya. Jika desa sudah siap, baik dari sisi produk, kelembagaan, dan infrastruktur, dalam waktu satu tahun sudah bisa ekspor,” tandas Maria Sidabutar.
Dari sisi pendampingan, PT Karabha Digdaya menegaskan komitmennya dalam mendorong penguatan UMKM berbasis ekspor.
Baca Juga: Mapolda DIY Dibangun, Kapolri Ingatkan Pelayanan Prima dan Kolaborasi
”Dari kami di PT Karaba, ini merupakan bentuk aksi nyata dan komitmen perusahaan terhadap pengembangan UMKM, khususnya calon eksportir jahe gajah,” ujar Plt Corporate Secretary PT Karabha Digdaya Andy Revy Rohadian.
Dia berharap, program ini mampu melahirkan lebih banyak pelaku usaha yang berdaya saing. Targetnya adalah sebanyak mungkin menghasilkan UMKM yang berdaya guna dan mampu meningkatkan kesejahteraan, baik bagi pelaku usaha maupun masyarakat luas.
Sementara itu, Bea Cukai menekankan pentingnya literasi ekspor bagi pelaku usaha desa. Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi KPPBC TMP A Jakarta Betty Endang Purbawati Aprilyana menegaskan, ekspor bukanlah hal yang sulit jika didukung koordinasi yang baik.
”Kami ingin meyakinkan para petani bahwa ekspor itu mudah dan tidak ada hambatan untuk menembus pasar global,” ujar Betty Endang Purbawati Aprilyana.
Baca Juga: Kesaksian Warga Soal Kiai Cabuli Puluhan Santriwati di Pati: Sudah Lama Dengar
Dia menambahkan, selama ini kendala utama justru terletak pada minimnya komunikasi antar pihak. Dengan kolaborasi lintas sektor, pemerintah optimistis desa-desa di Indonesia dapat menjadi basis baru ekspor nasional.
Program desa devisa diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga mendorong kesejahteraan petani serta memperluas kontribusi UMKM terhadap perdagangan internasional.