JawaPos.com - Dunia pendidikan di Siak tengah berduka sedalam-dalamnya. Muhammad Aqil Arizal, seorang pelajar kelas III SMP Sains Tahfizh Islamic Center Siak, meninggal dunia dalam sebuah insiden tragis saat menjalani ujian praktik sains pada Rabu (8/4).
Aqil bukan sekadar pelajar biasa. Di mata guru dan teman-temannya, ia dikenal sebagai sosok yang cerdas, saleh, dan memiliki kreativitas di atas rata-rata. Namun sayang, inovasi senapan rakitan 3D yang ia buat justru meledak dan mengenai wajahnya saat diperagakan di depan kelas.
Ayahnya bernama Jali, dinas di DPMK, sementara ibunya di Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan, Ratry Asti Dwi Ariani.
Siswa Berprestasi dan Juara Robotik Riau
Kepergian Aqil meninggalkan luka besar bagi sekolahnya. Ia adalah anak yang haus akan ilmu pengetahuan dan selalu memiliki ide-ide segar. Belum lama ini, Aqil baru saja mengharumkan nama sekolahnya dengan memenangkan lomba robotik tingkat Provinsi Riau.
Baca Juga: Sahroni Diperas Rp 300 Juta oleh Pegawai KPK Gadungan, Motifnya "Amankan" Kasus Hukum
Ketekunannya juga membuahkan hasil manis di bidang akademik. Pengurus Yayasan Islamic Center Siak, Nizamul Muluk, mengungkapkan rasa bangganya terhadap capaian almarhum. Ia bahkan telah dinyatakan diterima di sekolah bergengsi MAN IC Perawang.
"Kami bangga dengan Aqil yang saat ini duduk di kelas III, hasil tes nasional dia lulus di MAN IC Perawang," kata Nizamul dikutip dari Riau Pos (JawaPos Group), Jumat (10/4)
Kronologi Tragedi Saat Ujian Praktik
Insiden bermula sekitar pukul 09.30 WIB saat ujian praktik IPA berlangsung di halaman dalam sekolah. Aqil yang tergabung dalam kelompok berisi sembilan orang, hendak mempresentasikan hasil karyanya berupa senapan 3D lengkap dengan bubuk mesiu sebagai pelurunya.
Kasatreskrim Polres Siak, AKP Dr Raja Kosmos, menjelaskan bahwa sebelum kejadian, Aqil sempat meminta rekan-rekannya untuk menjaga jarak demi keamanan.
"Karena korban akan menunjukan/memperagakan aksi ujian praktiknya yang berupa senapan 3D rakitan yang dibuat korban," jelas Kosmos.
Nahas, saat pelatuk ditarik, senjata tersebut justru meledak hebat. Suara ledakan dan asap memenuhi aula sekolah, sementara serpihan plastik dan besi berhamburan.
"Tak hanya itu, ledakan juga mengenai kepala korban sehingga korban mengalami luka di bagian wajah," tambahnya.
Dedikasi Tinggi Hingga Titik Terakhir
Semangat Aqil dalam berkarya terlihat dari usahanya memastikan proyek ini sempurna. Meski sempat ada perlengkapan yang tertinggal, ia tetap berusaha melengkapinya agar presentasi berjalan maksimal.
Kabid SMP Disdik Siak Herman menceritakan momen terakhir Aqil sebelum beraksi. Gurunya, Indah, sebenarnya sudah memberikan kelonggaran agar Aqil menggunakan alat seadanya saja. Namun, Aqil tetap berupaya memberikan yang terbaik hingga perlengkapan tersebut sampai ke tangannya.
Baca Juga: Dubes RRT Kunjungi Bina Bangsa School, Pererat Kerja Sama Pendidikan
Ironisnya, karya yang merenggut nyawanya ini sebenarnya sudah diuji coba di rumah dan dinyatakan aman. Pihak keluarga, melalui sang Uwak, Dr Fauzi Asni, menyatakan telah ikhlas menerima musibah ini.
"Saat dilakukan uji coba di rumah, karya sains korban aman dan berhasil," ungkap Fauzi Asni yang juga menjabat Asisten I Setkab Siak.
Evaluasi Dunia Pendidikan
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Siak Romy Lesmana Dermawan menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait pedoman pembelajaran praktik di sekolah agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
"Disdik belum bisa mendahului penyelidikan kepolisian. Namun, dari sisi pembinaan sekolah akan dilakukan review dan evaluasi secepatnya," tegas Romy.
Kini, Aqil telah beristirahat dengan tenang. Ia pergi sebagai seorang inovator muda yang gugur saat sedang mencintai dunianya: dunia sains dan kreativitas.