JawaPos.com — Momentum Hari Raya Nyepi yang berlangsung pada Kamis (19/3/2026) membawa dampak signifikan bagi sektor pariwisata di Banyuwangi. Okupansi hotel melonjak drastis hingga 95 persen bahkan menembus 100 persen, menjadikan kota di ujung timur Pulau Jawa itu mendadak penuh sesak oleh wisatawan.
Fenomena ini tak lepas dari penutupan sementara penyeberangan di Pelabuhan Ketapang selama Nyepi. Ribuan pelaku perjalanan dari dan menuju Bali terpaksa tertahan, lalu memilih menginap di Banyuwangi sebagai alternatif paling rasional.
Sejak pagi hingga malam, sejumlah hotel tampak dipadati tamu yang datang silih berganti.
Baca Juga: KPK Fasilitasi Yaqut Cholil dan 66 Tahanan lain untuk Shalat Idul Fitri
Area parkir basement hingga halaman hotel penuh kendaraan roda dua dan roda empat, menciptakan suasana yang jauh lebih ramai dibanding hari biasa.
Yang menarik, sebagian besar kendaraan yang terparkir didominasi oleh mobil dengan plat nomor DK. Hal ini menjadi indikator kuat banyaknya wisatawan atau pemudik dari Bali yang memilih bertahan sementara di Banyuwangi sambil menunggu penyeberangan kembali dibuka.
Beberapa hotel yang mengalami lonjakan signifikan antara lain Hotel Santika Banyuwangi di Kelurahan Sobo dan Kokoon Hotel Banyuwangi di kawasan Dadapan.
Kedua hotel ini bahkan mencatat kenaikan okupansi yang terbilang ekstrem dalam waktu sangat singkat.
Baca Juga: Kompak Tersenyum, Denada dan Ressa Rizky Rosano Akhirnya Bertemu Menjelang Lebaran Idul Fitri 2026
Asisten Service Manager Kokoon Hotel, Yudi P, mengungkapkan tingkat hunian kamar di hotelnya melonjak tajam hanya dalam sehari.
“Dari total 163 kamar, sebanyak 145 kamar sudah terisi. Artinya hampir 90 persen, dan kemungkinan masih akan bertambah hingga malam,” ujarnya.
Lonjakan ini sangat kontras dibandingkan hari sebelumnya yang cenderung landai. Pada Rabu (18/3/2026), jumlah kamar yang terisi hanya 27 unit sehingga kenaikannya terasa sangat signifikan.
“Kenaikannya hampir 90 persen dibanding kemarin,” tambah Yudi. Kondisi ini menunjukkan betapa kuatnya efek momentum Nyepi terhadap pergerakan wisatawan dan kebutuhan akomodasi di Banyuwangi.
Menurut Yudi, peningkatan okupansi dipicu oleh dua faktor utama yang terjadi secara bersamaan. Pertama, aktivitas di Bali berhenti total selama Nyepi sehingga mobilitas wisatawan terhenti mendadak.
Kedua, penutupan penyeberangan di Pelabuhan Ketapang membuat banyak pelaku perjalanan tidak memiliki pilihan lain.
Baca Juga: H-1 Lebaran 2026, 38 Ribu Penumpang Kereta Padati Stasiun di Daop 8 Surabaya
“Banyak tamu dari Jakarta dan daerah lain yang hendak ke Bali, tapi tidak bisa menyeberang karena pelabuhan ditutup. Akhirnya mereka memilih menginap di Banyuwangi,” jelasnya.
Hal serupa juga disampaikan resepsionis Hotel Santika, Aisah, yang merasakan langsung lonjakan tamu. Ia menyebut okupansi hotelnya bahkan telah mencapai titik maksimal dalam waktu singkat.
“Hari ini sudah penuh 100 persen. Padahal kemarin masih di angka 48 persen,” ungkapnya. Perubahan drastis ini menjadi bukti nyata bagaimana momentum tertentu bisa langsung mengerek performa industri perhotelan.
Lonjakan okupansi hotel ini sekaligus menegaskan peran strategis Banyuwangi sebagai pintu gerbang utama menuju Pulau Bali.
Baca Juga: Puncak Mudik Lebaran 2026 di Soetta Tembus 191 Ribu Penumpang, Naik 4,4 Persen dari Tahun Lalu
Saat akses penyeberangan ditutup, wilayah ini otomatis menjadi titik transit utama bagi wisatawan maupun pemudik.
Selain faktor Nyepi, momen menjelang Idulfitri juga ikut mendorong mobilitas masyarakat meningkat tajam.
Banyak pelaku perjalanan memilih berangkat lebih awal untuk menghindari puncak arus mudik, namun justru bertemu dengan penutupan akses penyeberangan.
Akibatnya, terjadi penumpukan kendaraan dan penumpang di jalur penyeberangan Jawa–Bali.
Situasi ini secara tidak langsung mengalihkan arus ekonomi ke Banyuwangi, terutama pada sektor perhotelan dan jasa pendukung lainnya.
Kondisi ini menjadi berkah tersendiri bagi pelaku industri perhotelan yang sebelumnya sempat mengalami fluktuasi tingkat hunian.
Baca Juga: Puncak Mudik Lebaran 2026 di Soetta Tembus 191 Ribu Penumpang, Naik 4,4 Persen dari Tahun Lalu
Momentum Nyepi dan arus mudik Lebaran memberikan dorongan signifikan yang sulit didapat dalam kondisi normal.
Dengan tingkat hunian yang hampir penuh di berbagai hotel, sektor pariwisata Banyuwangi kembali menunjukkan daya tahan yang kuat.
Kota ini tak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga berfungsi sebagai hub transportasi strategis di Jawa Timur.
Baca Juga: Donald Trump Tegaskan Tak Tambah Pasukan AS di Timur Tengah, Klaim Iran Sudah Dilumpuhkan
Ke depan, pelaku industri berharap lonjakan seperti ini bisa terus berlanjut, terutama saat puncak arus mudik dan arus balik Lebaran 2026.
Jika dikelola dengan baik, momentum ini bisa menjadi peluang emas untuk meningkatkan daya saing pariwisata Banyuwangi secara berkelanjutan.