← Beranda
Geger! Video Biduan Dangdut Joget di Panggung Isra Miraj Banyuwangi Viral, MUI Dalami soal Penistaan Agama
Ryandi ZahdomoSabtu, 17 Januari 2026 | 21.28 WIB
Viral sebuah video yang menunjukkan siswa SD dari SDN 1 Kenayan, Kelurahan Kenayan, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, sedang nyawer biduan. (Platform X).

 

JawaPos.com - Jagat maya mendadak gempar setelah sebuah video pendek viral di grup WhatsApp dan media sosial pada Jumat (16/1). Video tersebut merekam aksi seorang biduan perempuan yang asyik bernyanyi dan berjoget di atas panggung dengan latar belakang tulisan: Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Insiden yang memicu kecaman luas ini diketahui terjadi di Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. Dalam rekaman tersebut, sang biduan tampil mengenakan busana hitam dengan iringan musik semi orkes, tepat di lokasi yang seharusnya menjadi tempat ibadah dan pengajian.

Saksi Mata: Ada Aksi Saweran di Depan Tokoh Agama

Dikutip daru Radar Banyuwangi (JawaPos Group), kekecewaan mendalam dirasakan oleh warga sekitar. Ali Nurfatoni, warga Kecamatan Songgon, membenarkan lokasi kejadian tersebut. Ia mengaku sangat menyayangkan adanya hiburan dangdut di tengah momentum keagamaan.

“Benar, itu di Parangharjo, Songgon,” ujar Ali Nurfatoni saat dikonfirmasi.

Pria yang akrab disapa Boston ini mengaku terkejut karena di lokasi tersebut awalnya hadir para tokoh masyarakat dan pemuka agama. Bahkan, ia melihat adanya aksi saweran yang dianggap sangat tidak pantas.

"Saya melihatnya sangat miris. Kok bisa ada hiburan seperti itu di panggung peringatan Isra Mi’raj. Ini sudah kebablasan," tegasnya.

Klarifikasi Panitia: Hanya Hiburan untuk Tim Kebersihan

Merespons kegaduhan yang terjadi, Polsek Songgon bergerak cepat memanggil pihak penyelenggara. Ketua Panitia Acara, Muhammad Hadiyanto, mengakui adanya musik dangdut tersebut namun memberikan pembelaan bahwa acara hiburan dimulai setelah agenda utama selesai.

"Kami menggelar musik dangdut itu setelah selesainya kegiatan peringatan Isra Mi’raj. Itu juga atas permintaan masyarakat," ungkap Hadiyanto.

Ia berdalih bahwa saat biduan tersebut naik ke panggung, para kyai dan tamu undangan sudah meninggalkan lokasi. Hiburan tersebut diklaim hanya untuk menyemangati panitia yang sedang beres-beres.

"Untuk tamu undangan dan tokoh agama sudah pulang. Musik itu digelar untuk menghibur panitia yang sedang bersih-bersih lokasi pengajian," jelasnya.

Hadiyanto pun menyampaikan permohonan maafnya secara terbuka. "Kami mohon maaf jika kegiatan ini dinilai mengganggu ketertiban dan menimbulkan kegaduhan di media sosial," tambahnya.

MUI Banyuwangi Berang, Singgung Potensi Penistaan Agama

Meski panitia sudah meminta maaf, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi tidak tinggal diam. Wakil Ketua Umum DP MUI Banyuwangi, Kiai Sunandi Zubaidi, mengecam keras tindakan yang dinilai merendahkan nilai-nilai Islam tersebut.

"Peristiwa ini sangat disayangkan. Keluhuran dakwah dicoreng dengan perbuatan-perbuatan yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islami," tegas Kiai Sunandi.

Menurutnya, alasan panitia bahwa acara digelar setelah pengajian sama sekali tidak bisa diterima karena dilakukan di panggung yang sama dan masih dalam rangkaian waktu peringatan hari besar.

"Alasan itu tidak bisa diterima. Ini bisa mengarah pada penistaan agama. Harus ada teguran keras agar tidak terulang," tegas pengasuh Pondok Pesantren Al-Kalam tersebut.

Ancaman Jalur Hukum dan Panduan Baru PHBI

MUI Banyuwangi kini sedang berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mendalami kasus ini lebih lanjut. Jika ditemukan bukti kesengajaan untuk melecehkan agama, MUI siap menempuh jalur hukum.

"Kami masih melakukan pendalaman. Jika memang ada motif penistaan, kami tidak segan membawa ke jalur hukum," tandas Kiai Sunandi.

Ke depannya, MUI akan menerbitkan tausiyah resmi sebagai panduan bagi masyarakat dalam menyelenggarakan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) agar kejadian serupa tidak terulang kembali di Bumi Blambangan.

EDITOR: Estu Suryowati