JawaPos.com - Sebuah video yang memperlihatkan keributan antara seorang guru dan sejumlah siswa di SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, mendadak viral di media sosial. Insiden yang terjadi di Kecamatan Berbak ini diduga berakhir dengan aksi pengeroyokan terhadap sang guru.
Sebuah video memperlihatkan adu argumen panas yang semula hanya lisan, namun berubah menjadi kericuhan fisik yang tak terkendali.
Kronologi Awal: Teguran yang Dinilai Tidak Pantas
Baca Juga: 3 Zodiak yang Terus Berpacaran dengan Sosok Red Flag, Kerap Diselingkuhi di Dalam Hubungan
Guru yang menjadi korban pengeroyokan, Agus Saputra, akhirnya buka suara terkait kronologi kejadian. Menurut Agus, konflik bermula saat jam pelajaran berlangsung, sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.
Agus mengaku mendapatkan teguran dengan nada tidak sopan dari salah satu siswa yang berada di dalam kelas.
"Dia menegur dengan tidak sopan dan tidak hormat kepada saya dengan meneriakan kata yang tidak pantas saat dia belajar," ujar Agus dikutip dari Kaltim Post (JawaPos Group), Rabu (14/1).
Merasa marwahnya sebagai pendidik direndahkan, Agus mendatangi kelas tersebut mencari tahu siapa yang berteriak. Namun, bukannya permintaan maaf yang didapat, ia justru merasa ditantang oleh siswa tersebut.
"Saya masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu," katanya.
Situasi makin panas hingga terjadi kontak fisik pertama. "Dia langsung menantang saya. Saya refleks menampar satu kali, dan dari situlah awal kejadian ini," lanjut Agus.
Ketegangan ternyata tidak berhenti di situ. Perselisihan berlanjut hingga jam istirahat bahkan sampai pukul 16.00 WIB.
Namun, Agus menegaskan bahwa dirinya sempat mengupayakan mediasi di kantor sekolah sebelum insiden pengeroyokan terjadi. Ia meyakini bahwa rekaman CCTV sekolah akan mengungkap fakta yang sebenarnya.
"Sempat ada mediasi sebelum pengeroyokan itu terjadi. Saya sudah berusaha tenang dan saat itu saya berada di dalam kantor, ada CCTV sebagai bukti," jelasnya.
Di sisi lain, narasi yang beredar di platform X menyebutkan bahwa emosi siswa tersulut karena ucapan guru yang dianggap menyinggung kondisi ekonomi keluarga mereka.