JawaPos.com – Bulog Karangsoko Trenggalek alokasikan beras sekitar 836.240 kilogram atau 836 ton untuk bantuan pangan.
Beras tersebut rencananya akan didistribusikan ke desa-desa, namun tak semua orang mendapatkannya.
Kepala Gudang Bulog Karangsoko, Defri Harianto mengatakan bahwa beras bantuan pangan tersebut diberikan kepada keluarga penerima manfaat (KPM).
Di mana setiap KPM akan menerima sekitar 10 kilogram per bulan.
“Ini sudah mulai dikirim ke desa-desa sejak 26 Februari lalu,” ujarnya seperti dikutip dari Radar Tulungagung (Jawa Pos Group) pada Sabtu (2/3).
Terkait stok beras, Defri Harianto mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak perlu risau.
Pasalnya, stok Bulog Karangsoko kini sekitar 670 ton untuk beras kualitas medium. Jumlah tersebut diprediksi cukup hingga memasuki hari raya Idul Fitri mendatang.
“Dari stok tersebut ada beras bantuan pangan, serta stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP),” paparnya.
Tidak hanya itu, Defri juga mengatakan bahwa Bulog juga mendapatkan pasokan beras impor sekitar 500 ton.
Beras impor dari luar negeri tersebut dijadwalkan tiba dalam waktu dekat. Sehingga, jumlah stok yang dimiliki Bulog bisa bertambah.
“Dalam minggu-minggu ini akan datang beras dari LN (luar negeri) sebanyak 500 ton,” katanya.
Sementara itu, untuk stok beras SPHP, dirinya mengaku selalu berubah. Bulog akan mengikuti permintaan dan harga pasar untuk memenuhi kebutuhan.
Pihaknya juga akan bekerja sama dengan satgas pangan untuk memastikan permintaan masyarakat terhadap beras bisa terpenuhi.
Namun, di sisi lain, masyarakat Bumi Menak Sopal ini sempat resah dengan kenaikan harga beras.
Di mana beras premium dijual sekitar Rp 15.500 per kilogram, bahkan sebelumnya bisa tembus Rp 20 ribu per kilogram.
“Belum pernah harga di pasaran sampai bisa setinggi ini,” ungkap Hasbunal Kafi, salah seorang pembeli beras di pasar basah.
Dia berharap harga beras bisa segera kembali stabil. Terlebih, kini sudah mendekati bulan Ramadhan. Di mana permintaan beras dan bahan pangan lain pasti juga meningkat.
“Jika harga (bahan pangan, Red) di pasaran naik, rakyat pasti bingung. Harus putar otak agar uang yang dimiliki bisa mencukupi,” kata Sriyati, salah seorang ibu rumah tangga.