← Beranda
Pembebasan Sisa Lahan JLS Trenggalek Segera Dimulai, Pemkab Ungkap Kendalanya
Elista Ita YustikaRabu, 7 Februari 2024 | 15.05 WIB
Ilustrasi - JLS Trenggalek. ANTARA/Destyan Handri Sujarwoko.
JawaPos.com -  Pembangunan giga proyek jalur lintas selatan (JLS) Yogyakarta - Malang akan berlanjut pada tahun ini. Kini, target yang akan dirampungkan adalah JLS Trenggalek.

Menyusul hal tersebut, dilansir JawaPos.com dari Antara, Pemerintah Kabupaten Trenggalek Jawa Timur mulai mengangsur sisa target pembebasan secara bertahap lahan untuk pembangunan JLS Yogyakarta - Malang tersebut.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Trenggalek Ramelan saat ditanya awak media terkait perkembangan dan kemajuan proyek JLS Trenggalek, pada Senin (5/2).

Baca Juga: Tegas! TPT Tempuh Jalur Pengadilan untuk Bebaskan 29 Bidang Tanah Terdampak Tol Kediri - Tulungagung, Ini Indikasinya

"Untuk semester pertama tahun ini kami mengupayakan untuk membebaskan lahan sepanjang 16 kilometer di lahan milik Perhutani. Ruasnya yang dibebaskan ada di antara Pantai Cengkrong Kecamatan Watulimo hingga Pantai Ngampiran Kecamatan Munjungan," kata Ramelan.

Ramelan menyebut, jika diukur secara kuantitatif, sisa target lahan yang harus dibebaskan untuk melanjutkan proyek pembangunan JLS tersebut adalah sepanjang 42 kilometer.

Yang mana, jalan itu diketahui melintasi kawasan hutan negara yang dikelola oleh Perhutani serta sebagiannya lagi merupakan lahan milik warga setempat.

Baca Juga: Jelang Imlek, Asosiasi Muda Jawa Timur Sambangi Warga Pecinan Surabaya

Menurut Ramelan, untuk dapat membebaskan lahan sepanjang 42 kilometer itu, anggaran yang dibutuhkan tak main - main. Yakni, mencapai kisaran Rp285 miliar.

APBD Trenggalek tidak mampu menutupinya sekaligus. Apalagi, dalam APBD Trenggalek tahun 2024 ini, anggaran yang sediakan untuk membiayai pembebasan lahan JLS hanya Rp500 juta atau setengah miliar saja.

Sehingga dari angka saja sudah terlihat bahwa plafon APBD Trenggalek untuk JLS itu terlalu jauh dibanding asumsi total biaya pembebasan lahan 42 kilometer tersebut.

Baca Juga: BBPOM di Pekanbaru Temukan Gudang Penyimpanan Kosmetik Impor Ilegal

"Tahun ini hanya ada Rp500 juta. Kecil sekali itu. Ada target dari pusat tahun 2029 harus menyambung Malang-Yogya, PR terbesar memang ada di Trenggalek," ucapnya.

Melihat kondisi tersebut, Ramelan tak yakin jika target tersambungnya JLS Yogyakarta - Malang pada 2029 itu bakal terwujud. Sehingga, menurutnya dukungan anggaran dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat akan sangat membantu.

Bahkan jika pun bisa ditekan, ia khawatir hal itu akan mengganggu postur APBD Trenggalek.

Baca Juga: Kementerian PUPR Sebut Renovasi Stadion Teladan selesai di Oktober 2024

Apalagi kebutuhan anggaran pembebasan lahan itu tidak memiliki selisih jauh dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Trenggalek selama setahun.

"Jadi kalau di pendapatan kita, PAD kita satu tahun hanya Rp314 miliar. Artinya, di sisa waktu ini kami harus menganggarkan Rp80 miliar per tahun. Pasti akan mengganggu postur APBD," ucapnya.

Ramelan juga menyinggung, pada semester satu ini pihaknya berencana akan membebaskan lahan sepanjang 16 kilometer di lahan milik Perhutani.

Baca Juga: Ke Tempat Hiburan Malam Bersama Dua Senior, Seorang Anggota Polres Rohil Meninggal Dunia Diduga Overdosis

Ruas yang dibebaskan, ada di antara Pantai Cengkrong Kecamatan Watulimo hingga Pantai Ngampiran Kecamatan Munjungan.

Menurutnya, pembebasan lahan di Perhutani itu akan jadi prioritas pemkab. Sebab, anggaran yang dibutuhkannya tidak terlalu besar karena sistem yang digunakan adalah pinjam pakai.

Untuk melancarkan pembangunan JLS itu, Ramelan menyebut, pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat.

Baca Juga: Sambangi Ponpes Libroyo, Erick Didoakan untuk Menangkan Prabowo Satu Putaran

Rencananya, jika pembebasan lahan Perhutani itu tuntas pada tahun ini, maka tahun 2025 dan 2026 bakal dimulai pembangunan fisik.

EDITOR: Hanny Suwindari