← Beranda
X Kalah Soal Merek Tweet, Startup Ini Langsung Ambil Alih dan Luncurkan Tweet.app
Nanda PrayogaSabtu, 5 September 2026 | 15.01 WIB
Platform media sosial X. (Yahoo)

 

JawaPos.com - Sengketa merek dagang antara perusahaan milik Elon Musk, X, dan startup Operation Bluebird memasuki babak baru. Pengadilan federal di Delaware memutuskan bahwa X berhak mempertahankan sejumlah merek dagang yang berkaitan dengan Twitter, tetapi perusahaan tersebut dinilai kemungkinan telah meninggalkan dua merek lainnya, yakni kata "tweet" dan logo burung Twitter.

Seperti dilansir dari TechCrunch, putusan itu membuka peluang bagi Operation Bluebird untuk menggunakan dua merek tersebut. Startup yang berbasis di Virginia itu kemudian mengganti nama situsnya dari Twitter.now menjadi Tweet.app dan mulai membuka akses jejaring sosialnya kepada publik.

Kasus ini bermula ketika Operation Bluebird berupaya meluncurkan jejaring sosial yang disebut sebagai pesaing platform X. Namun, X menggugat penggunaan sejumlah merek yang dianggap masih menjadi miliknya. Pengadilan kemudian melarang startup tersebut menggunakan nama Twitter.now dan mengabulkan permohonan X untuk mendapatkan putusan sela terkait delapan merek yang berhubungan dengan Twitter.

Di sisi lain, hakim menolak permohonan X untuk menghentikan penggunaan merek "Tweet" dan logo burung Twitter. Hakim Pengadilan Distrik AS Colm F. Connolly menilai Operation Bluebird kemungkinan besar dapat membuktikan bahwa X Corp. telah menghentikan penggunaan secara nyata (bona fide) atas kedua merek tersebut serta tidak memiliki niat untuk kembali menggunakannya.

Baca Juga: Gemini Spark Kini Bisa Kelola Google Photos, Edit Foto hingga Bikin Album Otomatis

Meski demikian, putusan tersebut belum menjadi keputusan akhir mengenai kepemilikan merek. Persidangan masih akan berlanjut untuk menentukan apakah X pada akhirnya tetap memiliki hak atas berbagai merek Twitter, terutama setelah perusahaan melakukan rebranding dan kini menggunakan nama X di sebagian besar wilayah.

Bagi Operation Bluebird, langkah tersebut menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali identitas Twitter yang ditinggalkan setelah Musk mengubah nama platform tersebut. Di halaman utama situsnya, startup itu secara terbuka menyatakan ingin mengambil kembali apa yang ditinggalkan Musk ketika mengganti nama platform menjadi X dan "membuang logo burung itu saat ia pergi."

Operation Bluebird didirikan oleh dua pengacara, yakni Michael Peroff yang berbasis di Illinois dan Stephen Coates, mantan pengacara merek dagang Twitter. Latar belakang keduanya membuat langkah startup tersebut terlihat lebih dari sekadar upaya membangun jejaring sosial baru.

Perusahaan tampaknya juga melihat nilai komersial dari merek-merek Twitter yang ditinggalkan X. Alih-alih menciptakan identitas baru, Operation Bluebird memilih memanfaatkan merek yang sudah memiliki pengenalan kuat di kalangan pengguna internet.

Meski demikian, Tweet.app tidak hanya berhenti pada persoalan hukum. Startup tersebut telah membuka akses awal bagi pengguna. Kepada TechCrunch, perusahaan mengungkapkan bahwa lebih dari 172.000 orang telah mengajukan permintaan nama pengguna (handle) sebelum layanan resmi dibuka.

Antusiasme tersebut kemungkinan tidak terlepas dari ikatan emosional pengguna terhadap nama Twitter. Selama bertahun-tahun, istilah "tweet" telah menjadi bagian dari kebiasaan pengguna media sosial, bahkan setelah platform tersebut berganti nama menjadi X.

Operation Bluebird juga mengenakan biaya sebesar USD 20 kepada pengguna untuk memesan nama pengguna sekaligus bergabung dengan jejaring sosial tersebut. Biaya itu setidaknya dapat membantu perusahaan membiayai berbagai kebutuhan, termasuk proses hukum yang masih berjalan.

Coates, yang kini menjabat sebagai presiden Operation Bluebird, mengatakan pihaknya melihat perbedaan perlakuan X terhadap nama Twitter, logo burung, dan istilah "tweet".

Baca Juga: Dorong Ekonomi, Industri Baja Fokus TKDN dan Kapasitas Produksi

"Mereka mempertahankan kata itu. Mereka melepas logo burung, dan mereka melepas istilah 'tweet'," tulis Coates dalam pengumuman perubahan merek yang dibagikan melalui surel kepada TechCrunch.

Menurut dia, istilah "tweet" pada dasarnya tidak merujuk pada entitas perusahaan, melainkan aktivitas seseorang ketika menyampaikan sesuatu melalui platform tersebut.

"Sebuah 'tweet' tidak pernah menjadi entitas perusahaan. Itu adalah satu orang yang menyampaikan sesuatu. Kata itu bertahan selama tiga tahun upaya perusahaan untuk menggantinya, karena publik menolak untuk berhenti menggunakannya. Menurut kami, hal itu menunjukkan kepada siapa kata tersebut sebenarnya menjadi milik," ujarnya.

Untuk saat ini, Operation Bluebird memang belum memperoleh kemenangan penuh. X masih mempertahankan sejumlah merek Twitter dan proses hukum belum selesai. Namun, putusan sela tersebut memberikan ruang bagi Tweet.app untuk menggunakan dua simbol yang selama ini sangat identik dengan Twitter, yakni kata "tweet" dan logo burungnya.

EDITOR: Sabik Aji Taufan