← Beranda
TikTok Perkuat Literasi, Uji Deteksi Spam dan Perluas Pelabelan Konten Buatan AI
Nanda PrayogaRabu, 22 Juli 2026 | 01.45 WIB
Ilustrasi TikTok. (Freepik)

 

JawaPos.com - TikTok memperkuat komitmennya dalam menciptakan ekosistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang lebih transparan dan bertanggung jawab.

Platform video pendek tersebut memperkenalkan serangkaian langkah baru, mulai dari memperluas program literasi AI, menguji sistem deteksi konten spam berbasis AI, hingga memperkuat transparansi melalui kerja sama dengan organisasi global.

Langkah tersebut dilakukan seiring meningkatnya penggunaan AI dalam pembuatan konten. TikTok menilai teknologi ini mampu membuka peluang kreativitas baru, tetapi di sisi lain juga berpotensi disalahgunakan untuk memproduksi konten secara massal yang dapat menyingkirkan karya autentik para kreator.

TikTok mengumumkan akan memperluas materi edukasi mengenai AI sekaligus melanjutkan investasi dalam kemitraan dengan berbagai pakar tepercaya. Perusahaan juga tengah menguji peningkatan sistem deteksi untuk mengidentifikasi akun yang mengunggah konten spam berbasis AI, serta bergabung sebagai Dewan Pembina Coalition for Content Provenance and Authenticity (C2PA) guna memperkuat standar transparansi konten AI.

Baca Juga: BGN Kenalkan 5 Pejabat Anyar, Ada Mantan Kapuspenkum Kejagung

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi AI, TikTok bekerja sama dengan organisasi seperti NAMLE dan pakar AI Henry Ajder untuk menyusun panduan baru yang membantu pengguna memahami sekaligus menggunakan teknologi AI secara bertanggung jawab.

Selain itu, TikTok meluncurkan pusat edukasi baru di dalam aplikasi yang menyajikan berbagai materi praktis agar pengguna lebih mudah mengenali konten yang dibuat menggunakan AI ketika mencari topik terkait.

TikTok juga terus menggandeng organisasi seperti NoFiltr dan Raspberry Pi Foundation untuk menghadirkan konten edukasi mengenai AI kepada komunitasnya.

Sejak program tersebut diluncurkan pada November 2025, berbagai organisasi yang terlibat telah memperoleh lebih dari 200 juta tayangan melalui konten edukasi tentang penggunaan AI yang bertanggung jawab. Hingga kini, TikTok mengalokasikan lebih dari USD 4 juta untuk mendukung program tersebut dan menyatakan akan terus menambah investasi guna memperluas jangkauan serta dampaknya.

"Kami percaya bahwa setiap orang perlu memahami konteks, merasa percaya diri, dan memiliki kendali atas pengalaman mereka dengan AI di TikTok. Kami terus berinvestasi dalam teknologi, kemitraan, dan materi edukasi yang membantu masyarakat mengenali konten buatan AI, memahami bagaimana konten tersebut dibuat, serta menggunakan berbagai alat ini secara kreatif dan bertanggung jawab," ujar AI Lead Global Public Policy TikTok, Tom Varghese.

Selain memperkuat edukasi, TikTok juga meningkatkan pengawasan terhadap penyalahgunaan AI. Perusahaan menilai teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan konten spam dalam jumlah besar yang berpotensi menurunkan visibilitas karya orisinal para kreator.

TikTok menyebut kebijakan terhadap konten spam telah lama diterapkan. Pada kuartal pertama tahun ini, platform tersebut menghapus lebih dari 86 juta akun palsu dari layanannya.

Dalam beberapa pekan mendatang, TikTok akan menguji sistem deteksi baru untuk mengidentifikasi akun yang mengunggah konten spam berbasis AI, khususnya pada topik yang dinilai berisiko memengaruhi kepercayaan dan kesejahteraan masyarakat. Topik tersebut meliputi politik dan peristiwa terkini, tips keuangan, serta kesehatan.

Baca Juga: PWNU Jatim Usung Gus Kikin Jadi Kandidat Ketua Umum PBNU di Muktamar ke-35 NU

Di sisi lain, TikTok terus memperluas teknologi pelabelan terhadap AI Generated Content (AIGC) agar kreator dapat menandai konten buatan AI secara lebih bertanggung jawab. Dua tahun lalu, TikTok menjadi platform video pertama yang mengadopsi teknologi Content Credentials dari C2PA untuk membantu pengguna mengetahui apakah sebuah konten dibuat atau mengalami penyuntingan signifikan menggunakan AI.

Kini, TikTok juga resmi bergabung sebagai Dewan Pembina C2PA untuk mendorong penerapan standar transparansi AI yang lebih luas di industri.

Hingga saat ini, TikTok telah memberikan label pada lebih dari 3 miliar video sebagai konten buatan AI melalui kombinasi teknologi Content Credentials, fitur pelabelan oleh kreator, serta teknologi invisible watermarking atau tanda air tak terlihat.

TikTok menyatakan berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari upaya jangka panjang dalam menciptakan pengalaman AI yang aman sekaligus mendukung kreativitas pengguna. Perusahaan juga terus mengembangkan berbagai fitur berbasis AI, seperti Smart Split, AI Outline, serta menguji fitur Manage Topics yang memungkinkan pengguna mengatur seberapa banyak konten AI yang inginTagging: TikTok, TikTok AI

EDITOR: Sabik Aji Taufan