← Beranda

Getaran Sabda Menjadi Kenyataan! Tujuh Weton Pemilik Khodam Pahit Lidah yang Dikenal Berucap Sakti dan Sarat Energi Gaib di Masa Mendatang

Zulfa Putri HardiyatiKamis, 18 Desember 2025 | 13.29 WIB
Getaran Sabda yang Menjadi Kenyataan: Tujuh Weton Pemilik Khodam Pahit Lidah yang Dikenal Berucap Sakti dan Sarat Energi Gaib di Masa Mendatang (ISTOCK)

JawaPos.com - Dalam jagat kejawen, tutur kata bukan hanya sekadar rangkaian bunyi. Ia diyakini sebagai getaran gaib yang membawa daya, mengikat kejadian, bahkan mempercepat terwujudnya suatu kenyataan.

 Masyarakat Jawa sejak lama memegang keyakinan bahwa ucapan manusia—terutama yang lahir dari batin kuat—dapat menjadi sabdo dadi, yakni perkataan yang menjadi nyata.

 Pada sejumlah individu tertentu, kekuatan ini diyakini semakin kuat karena adanya keselarasan dengan khodam Pahit Lidah, energi halus yang membuat ucapan mereka memiliki bobot spiritual yang lebih dalam.

Menurut kanal YouTube Primbon Cirebon, terdapat tujuh weton yang dipercaya memiliki khodam Pahit Lidah atau idu geni, yaitu kekuatan lisan yang sakti, yang membuat apa pun yang mereka ucapkan lebih mudah menjadi kenyataan.

Karena itu, para pemilik weton ini selalu diingatkan untuk menjaga perkataan agar tidak memunculkan hal-hal yang tak diinginkan dalam waktu dekat.

Berikut uraiannya dalam balutan narasi spiritual yang lebih mendalam.

1.      Rabu Kliwon

Dalam primbon Jawa, Rabu Kliwon berada di bawah naungan watak Lintang Kuning Srengenge, simbol jiwa pemimpin dan pengayom.

Mereka dikenal kuat memegang janji, berhati-hati dalam berucap, dan tidak suka mengecewakan orang lain. Justru karena keteguhan batin inilah energi Pahit Lidah sering menyatu dengan mereka.

 Ucapannya mudah menjadi kenyataan, sehingga weton ini sangat dianjurkan menjaga tutur kata dengan penuh kesadaran.

2.      Rabu Pon

Masih dari naungan Lintang Kuning Rembulan, Rabu Pon membawa sifat lembut, ramah, dan mudah menenangkan hati orang lain.

Ketenangan batinnya menjadi jembatan bagi khodam Pahit Lidah untuk melekat.

 Karena itu, setiap kata yang keluar dari pemilik weton ini bisa mengandung daya. Mereka diminta menghindari ucapan sembrono, terutama saat sedang emosional.

3.      Kamis Pon

Weton ini berada di bawah Lintang Kuning Srengenge, simbol jiwa pemimpin yang tegas namun pendiam.

Meski tidak mudah menunjukkan emosi, keteguhan prinsip dan kekuatan batin mereka membuat ucapan yang terlontar menjadi sangat kuat.

 Kamis Pon juga dinaungi Sumur Sinaba, yang artinya menjadi tempat curhat banyak orang, sehingga kata-kata mereka sering dianggap sebagai petunjuk hidup. Justru karena itu, kehati-hatian sangat diperlukan.

4.      Kamis Kliwon

Dinaungi Lintang Kuning Geni, Kamis Kliwon dikenal sebagai pribadi yang periang, penuh cinta, pekerja keras, dan mampu menyimpan rahasia.

Kekuatan Pahit Lidah melekat karena kepekaan batin dan ketulusan hatinya.

Ucapannya sering terwujud begitu saja, baik yang positif maupun negatif. Maka mereka dianjurkan menjaga lisan agar selalu memberi kebaikan.

5.      Kamis Legi

Weton ini membawa etos kerja tinggi, kemandirian, dan karisma yang besar. Karena jarang berbicara jika tidak perlu, kata-kata mereka justru lebih memiliki bobot energi.

 Inilah yang membuat khodam Pahit Lidah mudah bersemayam dalam weton ini. Pemilik Kamis Legi disarankan berpikir matang sebelum berbicara, karena ucapan mereka bisa membawa dampak besar bagi sekitar.

6.      Jumat Kliwon

Dibawah Lintang Kuning Rembulan, Jumat Kliwon membawa energi penenang, wibawa, dan daya pikat yang kuat. Mereka sosok penolong, loyal, dan selalu menepati janji.

Keseimbangan batin inilah yang menguatkan daya sabdo dadi dalam diri mereka. Setiap ucapan memiliki potensi membentuk realitas baru, sehingga kehati-hatian dalam berbahasa sangat ditekankan.

7.      Sabtu Legi

Sabtu Legi berada di bawah watak Lintang Kuning Rembulan, melambangkan keteduhan jiwa dan kemampuan merangkul banyak orang. Mereka tegas, mudah bergaul, dan memiliki bakat kepemimpinan.

Energi khodam Pahit Lidah dalam weton ini menjadikan kata-katanya sangat kuat dan mudah terwujud. Karena itu, mereka harus menjaga agar lisannya selalu membawa kebaikan.

Dalam kepercayaan Jawa, ucapan adalah doa sekaligus arah hidup. Ketujuh weton ini diyakini memiliki kekuatan yang lebih besar dibanding weton lainnya, sehingga apa pun yang terucap bisa menjadi kenyataan di masa mendatang.

 Namun tetap, segala yang terjadi kembali pada kuasa Sang Pencipta—manusia hanya bisa menjalani laku bijak, menjaga hati, dan menata tutur kata dengan penuh kesadaran.

Dengan memahami karakter dan energi weton masing-masing, kita bisa lebih mawas diri dalam menyikapi kehidupan, sekaligus menjadikan setiap ucapan sebagai jalan menuju kebaikan dan kesejahteraan.

EDITOR: Hanny Suwindari