← Beranda

Jumat Pon dan Hitungan Jodoh: Mana yang Serasi, Mana yang Sarat Ujian?

Leni Setya WatiMinggu, 6 Juli 2025 | 16.57 WIB
Ilustrasi weton (freepik)

JawaPos.com - Dalam tradisi Primbon Jawa, kecocokan jodoh tidak hanya dilihat dari rasa cinta atau kesamaan karakter semata.

Ada pula pendekatan berbasis weton, yaitu perpaduan antara hari dan pasaran kelahiran seseorang yang dipercaya membawa pengaruh terhadap nasib, termasuk dalam kehidupan rumah tangga.

Artikel ini akan membahas hitungan jodoh bagi mereka yang lahir pada weton Jumat Pon, serta memberikan dua contoh kombinasi: satu yang dinilai serasi, dan satu lagi yang dianggap mengandung risiko, menurut perhitungan Primbon.

Dikutip JawaPos.com dari kanal YouTube Sabdaning Ratu, Minggu (6/7), berikut hitungan jodoh untuk mereka yang lahir pada weton Jumat Pon.

Baca Juga: Ini Pekerjaan yang Cocok untuk Pemilik Weton Jumat Pon Agar Cepat Meraih Kesuksesan, Menurut Primbon Jawa

Contoh Jodoh yang Dinilai Serasi: Jumat Pon Bertemu Minggu Legi

Pemilik weton Jumat Pon memiliki jumlah neptu 13, sedangkan Minggu Legi memiliki neptu 10. Jika dijumlahkan, hasilnya 23.

Dalam Primbon Jawa, angka 23 sangat istimewa karena jatuh pada tibo Sanggar Waringin, yaitu simbol dari hubungan yang awet dan harmonis. Tibo ini melambangkan rumah tangga yang kuat dalam menghadapi tantangan.

Bukan berarti tidak ada perbedaan pendapat, namun konflik yang muncul umumnya bersifat ringan dan mudah diselesaikan. Kombinasi ini dinilai saling menguatkan, baik secara emosional maupun spiritual.

Secara garis rezeki, Jumat Pon 'tibo dunyo,' yang menandakan potensi kuat untuk mencapai kemakmuran.

Sementara itu, Minggu Legi berada dalam 'tibo pati,' yang dalam hitungan Primbon mengandung unsur risiko atau kemungkinan kegagalan. Namun, karena jodohnya serasi, risiko tersebut dianggap bisa ditekan.

Apabila masih terdapat pengaruh buruk seperti tibo pati, hal itu tetap bisa diupayakan penghapusannya melalui ritual ruwatan atau sedekah weton, dua bentuk laku spiritual yang lazim dilakukan dalam budaya Jawa.

Lebih dari itu, pasangan ini dinilai serasi dalam hal keuangan, sama-sama pandai mencari nafkah dan mampu menjaga kestabilan ekonomi rumah tangga.

Dengan demikian, kombinasi Jumat Pon dan Minggu Legi tergolong sebagai hitungan jodoh yang baik karena lebih banyak mengandung unsur keberuntungan dan keharmonisan.

Contoh Jodoh yang Perlu Diwaspadai: Jumat Pon Bertemu Jumat Pahing

Sementara itu, kombinasi Jumat Pon (13) dengan Jumat Pahing (15) menghasilkan jumlah neptu 28.

Dalam Primbon Jawa, angka ini berada dalam tibo 'kangelan kasial-sial saking putrane,' yang berarti cobaan dalam rumah tangga berasal dari anak.

Menurut kepercayaan ini, pasangan dengan hitungan seperti ini cenderung mengalami ujian berat dari perilaku anak, seperti kenakalan, permasalahan hukum, atau tindakan yang merusak nama baik keluarga.

Dampaknya dapat berupa kehilangan jabatan, kehancuran keuangan, atau konflik berkepanjangan. Namun demikian, Primbon juga menekankan bahwa perilaku anak bukan hanya bawaan, melainkan juga hasil pola asuh.

Oleh karena itu, bila perhitungan ini menunjukkan risiko dari anak, maka yang harus dibenahi adalah pendekatan parenting dan perhatian orang tua.

Dari sisi rezeki, kombinasi ini juga kurang menguntungkan. Jumat Pon dikenal sebagai tipe pekerja keras dan pandai mencari penghasilan, 'tibo cocok.'

Sedangkan Jumat Pahing berada dalam 'tibo silit,' yang menggambarkan sosok yang boros atau tidak mampu mengelola keuangan. Ketimpangan ini dikhawatirkan dapat menimbulkan ketidakseimbangan dalam rumah tangga.

Dari segi karakter, pasaran Pon sering dikaitkan dengan sifat sensitif, mudah cemburu, dan cenderung overthinking. Sementara Pahing dikenal sebagai pribadi yang terbuka dan ramah, bahkan kepada lawan jenis.

Perbedaan karakter ini dapat menimbulkan ketegangan, terutama jika tidak diimbangi dengan komunikasi yang sehat. Faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah pertemuan dua hari Jumat.

Dalam Primbon, Jumat bertemu Jumat dipercaya memperkuat unsur kesulitan dalam hidup bersama. Oleh karena itu, kombinasi ini dikategorikan sebagai hitungan jodoh yang kurang baik.

Perlu ditegaskan bahwa Primbon adalah warisan budaya yang bersifat titen atau hasil pengamatan leluhur selama ratusan tahun.

Meski dihormati sebagai bagian dari kearifan lokal, Primbon sebaiknya tidak dijadikan sebagai satu-satunya dasar dalam menentukan arah hidup.

Hitungan jodoh dapat menjadi bahan pertimbangan, namun keberhasilan rumah tangga pada akhirnya bergantung pada niat baik, komunikasi yang sehat, kesadaran bersama untuk bertumbuh, serta saling memahami satu sama lain.

Jika ada unsur negatif dalam hitungan weton, maka upaya untuk memperbaiki pola pikir, memperkuat spiritualitas, dan membangun kesadaran bersama bisa menjadi kunci untuk mengubahnya.

 
 
 
EDITOR: Setyo Adi Nugroho