JawaPos.com - Belakangan ini, banyak orang penasaran dengan karakter weton Wage. Beberapa menyebut bahwa weton ini punya kecenderungan "jahat" atau sifat negatif tertentu. Tapi, benarkah demikian?
Dalam budaya Jawa, weton adalah kombinasi hari dan pasaran yang diyakini mencerminkan kepribadian seseorang. Weton Wage termasuk salah satu yang kerap diperbincangkan karena dianggap membawa karakter yang kuat, bahkan tak jarang disebut sebagai weton yang "berat."
Namun, perlu dipahami bahwa setiap weton memiliki kelebihan dan kekurangan, termasuk Wage. Secara simbolis, pasaran Wage diasosiasikan dengan elemen air dan cakra ajna atau mata ketiga.
Baca Juga: Sukses dan Tahan Banting, 7 Weton Ini Diramalkan Mudah Raih Kekayaan dan Finansial Melimpah
Dalam pandangan spiritual, ini adalah simbol dari kecerdasan, intuisi, dan kekuatan batin. Artinya, orang dengan weton Wage sebenarnya memiliki potensi besar dalam hal berpikir strategis dan kemampuan merenung yang dalam.
Meski demikian, YouTube Titik Damai Saja juga menyebutkan beberapa sifat negatif yang sering muncul pada orang dengan weton Wage. Mereka disebut bisa jadi mudah tersinggung, ceroboh, keras kepala, atau terkesan sombong.
Bahkan ada anggapan bahwa mereka sering sulit diajak bekerja sama atau mudah salah paham. Namun anggapan negatif itu sebaiknya tidak ditelan mentah-mentah. Weton Wage juga memiliki banyak sisi positif yang tak kalah menonjol.
Banyak tokoh besar dalam sejarah Jawa yang lahir di weton Wage dan dikenal sebagai sosok yang cerdas, berani, dan punya kemampuan spiritual tinggi. Mereka juga dikenal punya kekuatan batin serta intuisi yang tajam dalam mengambil keputusan penting.
Sebagai contoh, weton Minggu Wage disebut dinaungi lintang Waluku atau Orion, yang dalam primbon dipercaya membawa keberuntungan dan kemapanan. Orang dengan weton ini digambarkan disiplin, pandai menjaga rahasia, dan memiliki potensi besar untuk sukses secara materi maupun spiritual.
Oleh karena itu, anggapan bahwa weton Wage itu "jahat" sebaiknya dilihat sebagai bagian dari simbol budaya, bukan kebenaran mutlak. Ramalan dan primbon bisa dijadikan bahan introspeksi dan pengingat diri, tetapi tidak boleh dijadikan acuan utama dalam menilai baik buruknya seseorang.