← Beranda

Nikmat dan Lezat! Ternyata Begini Sejarah Kupang Lontong Khas Sidoarjo

Fitri Rahma WardaniMinggu, 31 Maret 2024 | 13.49 WIB
Kupang Lontong merupakan makanan khas Sidoarjo./ Sumber Foto: X/@GNFI

 

JawaPos.Com – Kupang lontong merpakan satu hidangan spesial dari Sidoarjo yang terdiri dari kupang, potongan lontong, dan tambahan lentho (jenis gorengan yang terbuat dari singkong parut, kacang tolo, serta parutan kelapa yang dibumbui).

Kupang termasuk dalam jenis kerang laut dan memiliki bentuk oval hampir serupa, cenderung lonjong, serta dilapisi oleh cangkang. Warna tubuh kupang bervariasi antara putih kekuningan dan cokelat kehitaman.

Perpaduan antara bumbu petis, bawang putih segar, dan kupang, disajikan dengan kuah asam pedas manis yang menyegarkan, menciptakan cita rasa yang istimewa dan enak. Karena itu, kupang lontong sangat pas dinikmati sebagai hidangan siang ketika cuaca sedang panas.

Menurut Ir. Abriyani  dalam jurnal Sejarah dan Keberlanjutan Kupang Lontong di Kabupaten Sidoarjo oleh Rahma Sasi Safrida, sejarah hidangan kupang lontong telah ada sejak zaman dahulu dan dikenal sebagai hidangan khas di wilayah pesisir, khususnya bermula dari daerah Balongdowo, Candi, Sidoarjo.

Namun, jejak lebih lanjut mengenainya sulit ditelusuri karena hidangan ini telah diwariskan secara turun-temurun sejak puluhan tahun lalu.

Tiap tahun penduduk Balongdowo mengunjungi makam Dewi Sekardadu, yang diyakini sebagai Dewi Kemakmuran, untuk memohon agar hasil laut, termasuk kupang lontong, melimpah.

Baca Juga: Resep Sajian Khas Perayaan Cap Go Meh: Lontong, Opor Ayam, dan Telur Pindang dalam Satu Piring

Dewi Sekardadu yakni Putri Blambangan meninggal di laut dan jasadnya ditemukan oleh para nelayan kupang dari Balongdowo. Sejak itu, tradisi upacara Nyadran dilakukan oleh nelayan kupang Balongdowo setiap bulan Maulud menjelang Ramadhan.

Dari kisah Dewi Sekardadu yang jasadnya ditemukan oleh nelayan kupang, dapat disimpulkan bahwa di desa Balongdowo, masyarakat telah mengolah hasil laut seperti kupang sejak berabad-abad yang lalu.

Dari sejumlah fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa Kupang Lontong telah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, meskipun tidak ada catatan atau saksi hidup yang memudahkan penelusuran sejarahnya.

Perkembangan Kupang Lontong dari dulu hingga sekarang, dinilai tumbuh dengan pesat, namun tidak ada inovasi baru.

Tingkat konsumsi kupang lontong di masyarakat bervariasi. Ada yang sangat menyukainya dan mungkin mengonsumsinya hingga dua kali seminggu, sementara yang lain mungkin hanya sesekali atau menganggapnya sebagai hidangan yang kurang penting.

Sebaliknya, ada juga yang sama sekali tidak menyukainya karena alasan kebersihan dan kekhawatiran akan pencemaran limbah pada hewan laut tersebut. Namun, meskipun ada beberapa yang tidak menyukainya, tingkat konsumsi kupang lontong secara keseluruhan tetap stabil.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti