JawaPos.com- Hidangan ikan baik yang berasal dari laut maupun darat selalu menjadi menu favorit pendamping nasi. Namun apa jadinya jika ikan justru tak boleh dikonsumsi dan cenderung dilarang di masyarakat Desa Arenan, Kecamatan Kaligondang.
Bahkan mitos yang berkembang, jika makan salah satu jenis ikan tambra (tor tambroides,sp) yang berasal dari aliran Sungai Tambra dekat Sungai Klawing, warga Arenan bisa buta seumur hidup. Bagaimana mitos itu saat ini dan asal usulnya?
Wilayah arenan yang ada di dekat aliran Sungai Klawing selalu ramai dikunjungi warga saat liburan sebagai tempat favorit memancing dan leha-hela.
Namun, ada di satu tempat ada mitos dan diyakini warga untuk larangan memakan ikan dari sungai bagi masyarakat Arenan.
Konon pada masa itu, Arenan masih berupa kadipaten yang dipimpin Adipati Singayuda. Istrinya memiliki adik kandung bernama Pretimasa, yang ditakuti karena selain sakti mandraguna juga bertabiat jahat dan nekat serta menganiaya siapapun yang menghalangi niat dan keinginannya.
Sampai suatu ketika keluarga kadipaten merasa perbuatan salah satu keluarganya itu sudah memalukan dan harus diambil tindakan. Lalu dibuatkan sayembara. Yaitu yang bisa menangkap hidup atau mati akan dijadikan saudara kadipaten dan hadiah besar.
Kepala Desa Arenan, Esti Hartanti mengatakan, cerita tersebut didapat turun temurun. Konon saat itu sangat susah menumbangkan adik ipar adipati. Karena selain memiliki ajian Rawa Rontek atau jika tubuhnya menyentuh tanah akan hidup dan menyatu kembali, adik adipati itu juga sangat kejam dan bengis.
Setelah tak ada yang bisa menangkap Pretimasa, pihak kadipaten berembuk dan ternyata istri adipati menemukan titik kelemahan adiknya. Yaitu kesukaan makan ikan tambra. Tak berpikir lama, serombongan prajurit dan keluarga kadipaten mendatangi Pretimasa yang kala itu ada di salah satu gua batu di Sungai Tambra. Yaitu didalam Watu Wedus (Batu Kambing).
“Saat dibujuk menggunakan masakan paling enak olahan pemakan rumput, muncullah Pretimasa. Namun masyarakat yang sudah berkumpul dan dipersiapkan untuk menyerang jika adik adipati itu muncul. Lalu jasadnya agar dibuang terpisah,” tutur Esti.
Saat baru menikmati beberapa bagian ikan tambra, Pretimasa diserang ratusan warga kadipaten hingga tewas dan tubuhnya dipotong dipisahkan.
Sebelum meninggal, Pretimasa bersumpah, barang siapa yang memakan ikan kesayangannya sampai kapanpun, matanya akan buta. Terutama warga Kadipaten Arenan, yang sekarang Desa Arenan.
“Kalau masyarakat yang saat ini berusia sekitar 50-80 tahun di Arenan, masih percaya. Namun untuk generasi sekarang, kemungkinan masih menganggap hanya sebatas mitos,” tambahnya.
Data yang dihimpun Radarmas, ikan tambra Kali Klawing terakhir ditemukan dalam ukuran raksasa pada tahun 2008 silam di wilayah aliran Sungai Klawing dengan berat 15 kilogram. Ikan itu terdampar dan masuk golongan ikan yang saat ini semakin turun populasinya. (Amrullah Nurcahyo/sus/nas/JPG)