← Beranda

Liburan Sekolah dengan Wisata Edukatif Bareng Keluarga, Belajar Astronomi di Planetarium Jakarta

Agas Putra HartantoSenin, 24 Juni 2024 | 17.12 WIB
DI MANA SIH?: Pengunjung anak-anak antre di depan teleskop untuk meneropong matahari dari Planetarium Jakarta pada Kamis (20/6).

Laporan hasil belajar sudah diterima. Kini saatnya berlibur bersama keluarga. Di dalam negeri, banyak opsi eduwisata yang bisa dipilih. Mulai planetarium hingga observatorium dan perpustakaan. Menambah wawasan sambil bersenang-senang adalah tawaran yang sulit ditolak.

PLANETARIUM Jakarta punya program khusus menyambut libur sekolah kali ini. Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-497 DKI Jakarta, Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (UPPKJTIM) meluncurkan Liburan Bersama Planetarium Jakarta. Kegiatan itu berlangsung selama tujuh hari. Masing-masing pada 20–22 Juni dan 24–27 Juni 2024.

Ada apa saja di planetarium? Jawa Pos berkesempatan mengunjungi area yang ada di kompleks TIM itu pada Kamis (20/6). Rombongan anak-anak dan orang tua mereka memadati lobi dan plaza teater kecil sejak pukul 09.00.

Sembari menunggu antrean, mereka disuguhi astrofotografi. Potret awan magellan besar dan kecil menampakkan bintang-bintang yang merupakan bagian dari galaksi. Ada pula potret sabuk galaksi atau yang biasa disebut milky way.

Memasuki planetarium mini, pengunjung dibuai tampilan langit dari proyektor yang melengkung mengikuti kubah. Alam semesta tersaji di depan mata dalam dimensi pagi, siang, sore, malam, dan kembali lagi ke pagi.

Staf Astronomi Planetarium dan Observatorium Jakarta Mila Izzatul Ikhsanti mengajak para pengunjung mengamati fenomena astronomi di langit Jakarta hari itu. Langit masih berwarna biru dengan matahari yang beranjak naik dari ufuk timur. ’’Siang hari langitnya kalau cerah pasti warnanya kebiruan. Di sini teman-teman ada yang tahu nggak kenapa sih langit warnanya biru?” tanyanya kepada anak-anak.

Pertanyaan itu sempat membuat anak-anak saling pandang, berpikir sejenak, lalu tersenyum. Mila lantas menjelaskan peran atmosfer yang memulas birunya langit. Warna itu muncul karena sinar matahari berpendar terhadap lapisan gas tersebut.

Mila kemudian mempercepat waktu ke sore hari. Matahari tampak bergerak ke arah barat. Dia menjelaskan bahwa fenomena tersebut adalah gerak semu harian benda langit. Sebenarnya bukan matahari yang bergerak, melainkan bumilah yang berotasi. ’’Sehingga seolah-olah melihat matahari yang bergerak dari timur ke barat,” imbuhnya.

Waktu dipercepat lagi ke malam. Langit yang semula terang perlahan menggelap. Tampak kelap-kelip jutaan bintang. Bulan yang menjadi satelit alami bumi juga terlihat terang bulat.

Dari planetarium mini, pengunjung berpindah ke teropong matahari. Anak-anak antusias menjajal teleskop untuk mengintip sang surya. Lewat teleskop, pengunjung bisa melihat bintik atau bercak hitam matahari yang disebabkan medan magnet yang menembus permukaan matahari.

Puas mengamati matahari, anak-anak bersenang-senang dengan roket air. Petugas dan para pengunjung dewasa membantu anak-anak memasang roket air pada tiang peluncur. Ada juga yang membantu memompa roket air. Setelah semuanya siap, anak-anak menekan peluncur dan lepas landaslah roket ke angkasa.

’’Wuuaaahaha tinggi banget,” ujar salah seorang anak.

Putri Mahmudah yang menemani buah hatinya, Aisyah Aliya, mengaku puas berkunjung ke Planetarium Jakarta. ’’Seru! Tambah pengalaman baru sih daripada mereka di rumah main handphone, mendingan ke sini,” ungkapnya.

Yang lebih menarik, Planetarium Jakarta tidak memungut biaya tiket atau apa pun. Para pengunjung cukup mendaftar melalui link yang bisa diakses via akun Instagram @planetariumjkt. Namun, untuk menjaga kenyamanan, ada batasan pengunjung. Tiap sesinya, maksimal hanya 25 orang yang bisa bertualang ke planetarium mini. Tunggu apa lagi!? (han/c7/hep)

EDITOR: Ilham Safutra