← Beranda
Mengunjungi Pahlawan Street Center (PSC), Malioboro-nya Kota Madiun: Dulu Banjir Air, Kini Banjir Manusia
Dhimas GinanjarSabtu, 21 Oktober 2023 | 18.37 WIB
IKON DUNIA: Replika Menara Eifel yang berdiri di atas sungai di kawasan PSC menjadi salah satu spot favorit para pengunjung.

Dulu, Kota Madiun bukanlah daerah jujukan wisata. Tapi, di era Wali Kota Maidi, Kota Brem itu berhasil disulap menjadi destinasi andalan baru Jatim. Wisata tematik jadi andalan. Ikonnya adalah Pahlawan Street Center (PSC).

---

MALIOBORO-nya Madiun. Itulah salah satu julukan yang disematkan untuk PSC. Destinasi tersebut merupakan buah keseriusan Pemkot Madiun menata objek wisata di Jalan Pahlawan yang dulunya dikenal akan banjirnya.

Jerih payah itu berbuah manis. Sebab, PSC tidak hanya bernuansa Malioboro. Tapi, lebih dari itu. Sajian yang bisa dinikmati para traveler lebih komplet lagi.

Saat menyusuri PSC, pengunjung serasa diajak berkeliling dunia. Sebab, sederet replika ikon terkenal di sejumlah negara ada di sana. Mulai Patung Merlion, kereta api (KA) Shinkansen, Menara Eiffel, rumah Tudor, London Bridge, hingga Kakbah.

Deretan ikon dunia yang berdiri di PSC masih bertambah. Saat ini yang menyusul dibangun adalah jam Big Ben, Patung Liberty, kincir angin Belanda, serta Tugu Monas di Alun-Alun Kota Madiun.

”Banyak orang kagum dengan ikon-ikon dunia dari berbagai negara. Nah, ketertarikan itulah yang coba kami bawa ke sini (Kota Madiun, Red). Dan, hasilnya memang banyak yang tertarik,’’ kata Wali Kota Madiun Maidi.

Awalnya, keberadaan ikon-ikon dunia di PSC itu sempat mendapat tanggapan negatif dari sebagian kalangan. ”Tapi, kenyataannya lebih banyak orang yang menilai positif dan tertarik mengunjungi Kota Madiun,’’ ujar Maidi.

Selain deretan ikon dunia, ada sajian lain yang sayang jika dilewatkan para traveler. Di sana, sebuah kereta api pemberian INKA dan PT KAI dipajang dan disulap menjadi restoran. Sementara, di setiap kelurahan juga dibangun lapak UMKM yang bisa dijadikan sebagai jujukan wisata kuliner.

Berwisata di PSC makin mudah dengan Madiun Bus on Tour (Mabour), bus wisata yang bisa dinaiki wisatawan mulai sore hingga malam. Mabour menjadi sarana transportasi yang disediakan pemkot kepada wisatawan untuk berkeliling menikmati suasana Kota Madiun. Tidak hanya itu, pemkot juga membangun spot wisata khusus kuliner di Bogowonto.

Objek wisata tematik itu paling enak dikunjungi saat malam. Sebab, gemerlap sinar lampu hias membuat suasana PSC begitu berwarna. Dan, tentunya dapat dinikmati secara cuma-cuma.

Keberadaan PSC terbukti sukses membuat Kota Madiun menjadi daerah jujukan wisata. Buktinya adalah tingginya tingkat kunjungan. Pada 2022, misalnya, tercatat sebanyak 45.104 wisatawan datang berkunjung. Artinya, rata-rata sekitar 1.500 wisatawan berkunjung setiap hari ke Kota Madiun.

’’Dulu, Kota Madiun disingkiri. Kini, kota ini kerap disinggahi. Begitu juga kawasan PSC, semula Jalan Pahlawan banjir air. Kini, menjadi banjir manusia,’’ terang Maidi. (ggi/her/c7/ris)

Cagar Budaya hingga Wisata Religi Tetap Terjaga

MESKI identik dengan kawasan perkotaan, Kota Madiun juga memiliki kekayaan budaya luar biasa. Itu dibuktikan dengan adanya sederet cagar budaya dan tempat-tempat bersejarah di kota ini. Di antaranya, Masjid Kuno Taman dan Masjid Kuno Kuncen.

RAMAI: Sejak disulap menjadi destinasi wisata tematik, kawasan PSC tak pernah sepi pengunjung.
RAMAI: Sejak disulap menjadi destinasi wisata tematik, kawasan PSC tak pernah sepi pengunjung.

Masjid Kuno Taman dulunya bernama Masjid Donopuro. Tempat ibadah itu dibangun Kanjeng Raden Ngabehi Kiai Ageng Misbach alias Kiai Donopuro pada 1754. Pada masa tersebut, masjid itu menjadi tempat syiar atau penyebaran ajaran agama Islam di wilayah Karesidenan Madiun.

Tak hanya itu, di masjid tertua di wilayah Madiun tersebut juga terdapat makam para pemimpin Madiun zaman dulu. Hingga pada 1981, masjid itu masuk daftar cagar budaya dan nama masjid diganti menjadi Masjid Kuno Taman. ’’Cagar budaya di Kota Madiun kami jaga dan rawat kelestariannya,’’ kata Wali Kota Madiun Maidi.

Sementara itu, Masjid Kuno Kuncen juga memiliki sejarah penting dalam berdirinya Madiun. Masjid itu didirikan Bupati Pertama Madiun Pangeran Timoer atau Ki Ronggo Jumeno. Pada 1575, Ronggo Jumeno memindahkan pusat pemerintahan dari Sogaten ke Desa Wonorejo atau Kuncen.

Selain membangun pemerintahan, Ki Ronggo Jumeno mendirikan masjid. Awalnya, rumah ibadah tersebut dibangun di sisi selatan bangunan sekarang. Karena dinilai kurang strategis, pada 1590 dipindah ke sebelahnya.

Kini, Masjid Kuncen tercatat sebagai cagar budaya yang menjadi satu kesatuan dengan makam kuno yang lokasinya di belakang masjid. Di makam tersebut bersemayam bupati-bupati Madiun seperti Ki Ronggo Jumeno, Raden Mas Bagus Petak, Adipati Martoloyo, Adipati Balitar, dan Tumenggung Balitar Tumapel.

Selain itu, di kawasan makam kuno terdapat Sendang Kuncen yang acap digunakan masyarakat untuk menggelar kegiatan kebudayaan.

’’Saat ini kawasan Masjid Kuno Kuncen kami sentuh rehabilitasi. Mulai pembangunan menara masjid hingga rehabilitasi sendang pasca-ekskavasi tim BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Jawa Timur. Untuk desain pembangunan dan rehabilitasi, kami sesuaikan rekomendasi BPCB Jatim,’’ jelas Maidi. (ggi/her/c12/ris)

DESTINASI WISATA DI KOTA MADIUN

  • Pahlawan Street Center
  • Pahlawan Business Center
  • Pahlawan Religi Center
  • Bogowonto Culinary Center
  • Ngrowo Bening Edupark
  • Lapak UMKM

Sumber: diolah

EDITOR: Dhimas Ginanjar