JawaPos.com - Hampir semua becak di Provinsi Aceh tidak dikayuh, karena warga Aceh menggunakan sepeda motor dan kursi penumpang yang ditempatkan di sisi kirinya sebagai becak. Keunikan ini menjadi daya tarik bagi turis yang datang, termasuk JawaPos.com yang berkeliling ke beberapa tempat di Provinsi Aceh belum lama ini.
Ada yang unik dengan becak motor di Gayo Lues, salah satu kota di Aceh Tenggara. Bentuknya seperti bajaj dan bisa ditumpangi oleh tiga orang. JawaPos.com naik di belakang pengendara dan dua rekan lainnya duduk disamping motor yang ada tempat duduknya. Motor tersebut dimodifikasi dengan diberi atap supaya penumpangnya tidak kepanasan.
Budiman Sahara, 31, salah satu sopir becak di Gayo Lues mengatakan, atap kursi penumpang bisa dibuka maupun ditutup sesuai permintaan. Namun pada umumnya atap itu ditutup karena cuaca di Aceh Tenggara saat ini terkadang tiba-tiba hujan meski panas terik sebelumnya.
Di Gayo Lues tidak ada angkutan umum seperti angkot, delman, atau ojek. Becak motor menjadi satu-satunya transportasi umum. Jalanan di sana pun cukup sepi sehingga tak ada kemacetan atau bising seperti Banda Aceh. Bisa dibilang, Gayo Lues cocok dijadikan destinasi untuk menyepi dan bermeditasi.
Dataran tinggi di Gayo Lues juga dijuluki Negeri Seribu Bukit. Bagaimana tidak, sepanjang mata memandang, jalanan naik-turun dan berkelok membentang. Kanan-kiri pegunungan dan kebun kopi. Hijau adalah warna kota ini.
Daerah Gayo Lues pun 80 persennya merupakan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Tak heran, sungai-sungainya yang ada di bahu jalan begitu jernih dan pemandangan hijau luas membentang. Udaranya cukup dingin. Beberapa burung liar pun bisa dilihat mata telanjang dengan mudah di kawasan ini.
Udara yang dingin sebanding dengan hawa lapar yang kerap datang menghampiri. JawaPos.com berkeliling kota pada pagi hari untuk mencari sarapan. Rupanya, di Gayo masyarakatnya gemar makan ikan. Di setiap rumah makan, aroma aneka ikan dengan tajamnya bumbu rempah-rempah begitu menggoda.
Penggemar daging ayam harus siap-siap rindu di sini, karena jarang sekali rumah makan yang menyediakan daging ayam. Hmm..sepertinya masyarakat Gayo Lues ini menjadi masyarakat kesayangan Bu Susi Pudjiastuti.
Masyarakat Gayo Lues mengaku, ikan adalah lauk yang mudah didapatkan meski di daerah pegunungan. Warga setempat kurang menggemari daging ayam dan sedikit warga yang memelihara ayam.
"Di sini lebih suka makan ikan, kan danaunya tidak jauh juga danau, (Danau Laut Tawar), sungai-sungai, kalau melihara ayam pun petelur," tutur Mardiansyah, 35, warga kecamatan Blangkejeren, Gayo Lues.
Usai sarapan, perjalanan dilanjutkan ke Desa Penggalangan, Kecamatan Blangkejeren. Di sana ada suatu tempat yang cukup hits dinamakan Bukit Cinta dan banyak muda-mudi berswafoto karena tempat tersebut memang Instagramable.
Maksud hati ingin ke Kedah, salah satu pintu masuk pendakian Gunung Leuser, namun becak motor tak menyanggupinya. Cuaca dan medan yang cukup naik turun alasannya. Dari Blangkejeren ke Kedah masih 1,5 jam dan cuaca tidak mendukung.
Ongkos berkeliling naik becak motor di Gayo pun termasuk ekonomis. Hanya Rp 5.000 per orang untuk jarak dekat dan Rp 15.000-25.000 untuk jarak jauh. Sayangnya, becak motor ini hanya beroperasi usai subuh hingga pukul 21.00 WIB.
"Cuma sampai jam 9 malam, di sini jam 8 udah sepi biasanya," tutur Budiman.
Benar saja, hanya segelintir sudut kota yang ramai di malam hari. JawaPos.com pun mampir ke Blower Coffee, kedai kopi yang terkenal selalu ramai di Aceh Tenggara untuk mencicipi kopi gayo sembari menikmati suasana sejuk nan menenangkan.
JawaPos.com menyarankan untuk berkunjung ke Gayo Lues sekitar April-Juli untuk mendapatkan pemandangan lebih baik. Panen kopi pun biasanya terjadi di bulan itu, sehingga wisatawan bisa ikut wisata kebun kopi. Berkunjung di musim penghujan siap-siap kecewa karena kabut kerap tebal tiap hujan.