← Beranda

Hadapi Badai Kebangkrutan, Startup Perlu Prioritaskan Model Bisnis

Estu SuryowatiSabtu, 9 Juli 2022 | 04.47 WIB
Photo
JawaPos.com - Pada pertengahan tahun ini, Indonesia telah diterpa badai kebangkrutan startup. Bertubi-tubi, banyak perusahaan rintisan yang sebelumnya woro-woro dan jadi tren nyatanya tak mampu bertahan. Beberapa diantaranya akhirnya menutup operasional perusahaan.

Pencarian dan pengembangan startup khususnya startup teknologi sendiri diketahui menjadi salah satu program pokok Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Bahkan, Kementerian yang digawangi oleh Politisi Partai Nasdem Johnny G.Plate itu baru saja menutup program pengembangan Startup Studio Indonesia (SSI) Batch 4.

Milestone Day, acara puncak SSI Batch 4 digelar sebagai bagian akhir dari serangkaian program inkubasi ini. Setelah menjalani lima bulan pelatihan, 15 belas startup yang terpilih dari ribuan pendaftar, berkesempatan untuk mempresentasikan bisnis dan pencapaiannya selama mengikuti program SSI, di hadapan para pemangku kepentingan, seperti lembaga pemerintah dan venture capital.

Di tengah badai kebangkrutan, para mentor sepakat bahwa startup perlu memantapkan pondasinya agar tidak hanya jadi tren sesaat, kemudian hilang dan tenggelam. Startup perlu memprioritaskan model bisnisnya, jeli melihat peluang dan menghasilkan keuntungan agar bisa bertahan.

"Kami ingin menanamkan mindset pada para founder startup untuk terus menjaga visi jangka panjang. Ini adalah saat yang baik untuk merefleksikan pengembangan model bisnis dan mengerahkan sumber daya perusahaan dalam merancang inovasi produk yang berkelanjutan dan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat," ungkap Koordinator Startup Digital, Sonny Hendra Sudaryana melalui jumpa pers daring, Jumat (8/7).

Sebagai informasi, Startup Studio Indonesia merupakan program Kemenkominfo yang bertujuan untuk mendampingi dan membina para startup tahap awal (early-stage) selama 15 pekan agar bisa menemukan product-market fit (PMF).

Sejauh ini, SSI telah menuntaskan total 4 batch pelatihan, dengan total 65 alumni startup berprestasi. Sebagai catatan, total pendanaan yang tersalur ke startup alumni SSI Batch 1-3 hingga Mei 2022 mencapai Rp 332,1 miliar. Dari setiap batch sebelumnya, 30-40 persen alumni telah mendapatkan pendanaan tahap awal.

Dengan kondisi pasar yang terpengaruh oleh ekonomi makro global, yaitu inflasi tinggi di Amerika Serikat dan konflik Ukraina-Rusia di Eropa, berbagai perusahaan di Indonesia mengalami ketidakpastian rencana bisnis.

Tidak hanya startup, perusahaan-perusahaan besar pun turut merasakan perubahan iklim ekonomi ini. Bahkan di Amerika Serikat, indeks saham Dow Jones yang terdiri dari 30 perusahaan blue-chip pun telah mengalami penurunan sebesar 15 persen year-to-date (YTD).

"Menanggapi kondisi pasar saat ini, saya melihat ada dua faktor yang menjadi penyebabnya. Pertama, apabila kita mempertimbangkan faktor eksternal, ekonomi dunia sedang mengantisipasi resesi yang disebabkan oleh kenaikan suku bunga, inflasi tinggi, dan perang Russia-Ukraina," jelas Italo Gani selaku Venture Partner, East Ventures dalam kesempatan yang sama.

Hal-hal di atas disebut menyebabkan disrupsi pada rantai pasokan secara global, regulasi startup di Tiongkok yang diperketat, serta penjualan besar-besaran saham teknologi di Amerika Serikat. Pada gilirannya, investor growth-stage jauh lebih berhati-hati dalam berinvestasi dengan valuasi tinggi.

"Kemudian terdapat pula faktor internal dari para startup itu sendiri, yakni selama dua tahun terakhir, akibat pandemi Covid-19, sejumlah startup teknologi terlalu percaya diri dan kurang bijaksana dalam mengatur pengeluaran. Asumsi sejumlah startup bahwa akselerasi digital akan berlangsung secara terus menerus kurang tepat. Secara singkat, terdapat kesenjangan antara ekspektasi dan realita yang terjadi di beberapa startup," lanjut Gani.

Senada, benedicto Haryono, CEO dan Co-Founder dari KoinWorks yang sekaligus merupakan Coach di SSI Batch 4 berpendapat bahwa, di masa-masa menantang ini, para founder tahap awal justru harus berfokus pada produk inti yang telah menghasilkan traction atau bahkan profit.

Bagi founder startup, usahakan untuk mempertahankan laju pertumbuhan dengan runway selama 12-18 bulan ke depan. Salah satunya dengan menggunakan jalur akuisisi pasar yang lebih terjangkau.

"Kami di Koinworks pun menerapkan strategi yang sama, yakni mengembangkan solusi inti yang sudah berkembang dan berpotensi profit, serta mengurangi inisiatif atau eksperimen baru untuk sementara," tandasnya.
EDITOR: Estu Suryowati