JawaPos.com - Sebagian besar layanan online memiliki sistem keamanan bawaan yang memberikan peringatan ketika mendeteksi aktivitas "tidak biasa" di akun kita, apa pun, termasuk berbagai media sosial (medsos) yang biasa kita gunakan sampai layanan email populer.
Notifikasi atau pemberitahuan tersebut biasanya berisi imbauan untuk mengatur ulang nomor telepon dan alamat email yang ditautkan ke akun, hingga kata sandi. Sebetulnya ini lumrah bagi mereka yang cukup aktif di berbagai platform digital.
Sayangnya, karena dianggap biasa, hal ini kemudian dianggap sebagai kesempatan besar oleh para pelaku kejahatan siber. Para penjahat dunia maya dengan gigih meniru mekanisme ini untuk menyerang para pengguna baik perorangan atau korporat yang secara keuntungan memang lebih besar.
Kaspersky menjelaskan tentang bagaimana phishing dengan skema notifikasi atau pemberitahuan palsu ini digunakan oleh para pelaku kejahatan siber. Salah satu yang paling bisa dikenali adalah penyerang layanan online publik, mereka biasanya akan melakukan segala upaya untuk membuat salinan tepat seperti pesan yang sebenarnya.
Namun, jika penyerang mencari akses ke sistem internal, mereka sering kali harus menggunakan imajinasi mereka karena ketidaktahuan tentang bagaimana penampilan email yang seharusnya. Biasanya, seluruh isi pesan di email ini terlihat tidak beraturan, mulai dari penggunaan bahasa yang salah hingga logika yang tampak meragukan.
Ini ditunjukkan dengan menautkan nomor telepon baru dan sekaligus cara mengirim kode pengaturan ulang kata sandi. Alamat email support juga tidak memberikan kredibilitas pada pesan, misalnya seperti anjuran yang tak beralasan mengapa email support harus ditempatkan di domain asing.
Para penyerang berharap bahwa korbannya merasa khawatir akan keamanan akun mereka dan mengklik tombol merah “DON’T SEND CODE”. Setelah itu, mereka akan diarahkan ke situs web yang meniru halaman login akun dan selanjutnya para penyerang hanya mencuri kata sandi mereka.
Akun email yang dibajak kemudian dapat digunakan untuk serangan tipe BEC (business email compromise) atau sebagai sumber informasi untuk serangan lebih lanjut dengan menggunakan rekayasa sosial.
“Untuk perusahaan, secara umum, yang terbaik adalah menjauhkan email phishing dari kotak masuk karyawan secara keseluruhan. Idealnya (ditambah dengan seluruh korespondensi yang tidak diinginkan lainnya, termasuk pesan dengan lampiran berbahaya dan email terkait BEC) harus dicegat di tingkat gateway email," ujar Roman Dedenok pakar keamanan di Kaspersky.
Demi meminimalisir kemungkinan penjahat dunia maya mendapatkan kredensial karyawan, Kaspersky menyarankan perusahaan untuk komunikasikan beberapa hal seperti jangan pernah mengeklik tautan dalam pemberitahuan keamanan otomatis, baik yang tampak nyata maupun tidak.
Kemudian, saat menerima pemberitahuan, periksa pengaturan keamanan dan detail tertaut, lakukan dengan membuka situs web di browser secara manual. Penting juga untuk menghindari pemberitahuan dengan kata-kata yang tidak beraturan (seperti dalam contoh). Sebaiknya diabaikan dan dihapus.
Jika notifikasi terlihat nyata, beri tahu tim keamanan atau layanan terkait. Hal ini mungkin merupakan tanda serangan yang ditargetkan.