JawaPos.com – Suhu di Surabaya beberapa hari belakangan terasa lebih panas. Saat siang, matahari bersinar sangat terik. Ketika malam, udaranya gerah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi itu secara tidak langsung dipengaruhi oleh gerak semu matahari. Prakirawan BMKG Maritim Tanjung Perak Ady Hermanto menjelaskan, hawa panas adalah dampak dari posisi matahari.
Saat ini matahari sedang bergerak menuju lintang selatan. ”Melewati garis astronomi wilayah Jawa Timur,” katanya kemarin (29/9). Imbas gerak semu itu, kata Ady, membuat jarak matahari ke bumi lebih dekat sehingga berpengaruh pada kenaikan suhu.
Cuaca Panas sampai Oktober
Diperkirakan, puncak cuaca panas di Surabaya terjadi pada pertengahan bulan depan. Titik kulminasi atau matahari tepat berada di atas kepala diprediksi pada 11 Oktober nanti.
Menurut Ady, saat puncak cuaca panas, suhu maksimum bisa mencapai 36 derajat Celsius. Dia mengimbau masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan selalu menjaga kesehatan. Misalnya, mencukupi kebutuhan air minum agar tidak dehidrasi.
”Juga jangan buang puntung rokok dan bakar sampah sembarangan,” terangnya.
Tindakan itu, lanjut Ady, sangat rawan memicu kebakaran. Sebab, kontur tanah akan lebih kering. Ditambah angin yang sesekali berembus kencang.
Ketua Tim Meteorologi BMKG Juanda Shanas Prayuda menyatakan, kenaikan suhu udara saat ini belum mendekati rekor tertinggi yang terjadi di Surabaya dan sekitarnya. Selama ini, suhu tertinggi yang tercatat di Stasiun Meteorologi Maritim Perak mencapai 38,5 derajat Celsius. Masyarakat memang harus bersabar menghadapi panas.
Musim Hujan Terjadi Awal November
Shanas menambahkan, Surabaya juga tengah mengalami musim kemarau. Diperkirakan kemarau berlangsung hingga akhir Oktober. ”Diprakirakan awal musim hujan Surabaya baru pada November,” tuturnya.
Prakirawan BMKG Juanda Andrie Wijaya menambahkan, salah satu tanda memasuki musim pancaroba adalah awan konvektif yang mulai bertambah. Kondisi cuaca juga tidak menentu. Misalnya, kondisi panas tiba-tiba berubah mendung disusul hujan dengan intensitas lebat.
”Hujan juga akan disertai sambaran petir dan angin kencang sesaat. Bahkan juga bisa berupa puting beliung,” terangnya.
Menurut Andrie, gerak semu matahari ke selatan khatulistiwa berlangsung sejak beberapa hari lalu. Jatim diperkirakan mengalami kulminasi atau hari tanpa bayangan pada 11 sampai 14 Oktober.
”Suhu udara diperkirakan semakin meningkat saat siang. Kondisi normal pada Oktober,” jelasnya. (edi/dya/c19/aph)