JawaPos.com- Kegiatan belajar-mengajar (KBM) tahun ajaran 2022–2023 di Surabaya berjalan efektif mulai Kamis (21/7). Namun, siswa kelas VII yang masuk sekolah masih mengenakan pakaian yang tak seragam. Ada yang memakai pakaian sekolah bekas kakak kelas, ada pula yang masih mengenakan seragam SD.
Pemandangan itu terjadi di semua SMP negeri. Misalnya, di SMPN 3 Surabaya. Zeini Sirhidayat, salah seorang siswi, tampak mengenakan seragam lama. Yaitu, ketika masih jadi siswa di SD Muhammadiyah 2 Surabaya.
Pakaian yang dikenakan bocah itu tampak kekecilan. Tidak presisi dengan tubuhnya yang tinggi. ”Ini (seragam, Red) memang kekecilan,” kata Zeini.
Zeini mengatakan, orang tuanya sudah membeli seragam baru. Namun, belum tahu kapan seragam anyar itu akan dibagikan pihak sekolah. Dia berharap secepatnya. ”Pengin banget segera dapat seragam sekolah baru,” tutur pelajar 13 tahun itu.
Humas SMPN 3 Surabaya M. Lutfi menyampaikan, pihaknya memang belum memesan seragam untuk siswa baru. Baik siswa dari jalur reguler maupun kategori siswa masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Sekolah, kata dia, masih menunggu petunjuk dari Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya. Apakah pengadaan seragam boleh dilakukan melalui koperasi sekolah atau tidak. ”Prinsipnya, tidak ada paksaan untuk membeli seragam di sekolah. Silakan bisa beli di luar,” jelas Lutfi.
Hampir semua siswa memang masih memakai seragam SD. Tapi, ada juga beberapa siswa yang sudah mendapatkan seragam. Itu berasal dari seragam lama milik siswa kelas VIII dan kelas IX. ”Ada beberapa anak yang menyumbangkan seragam lamanya. Sebagian sudah diberi ke siswa baru,” tuturnya.
Koordinator Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Negeri Effendi Rantau menyampaikan, sejauh ini sekolah belum memesan seragam. Kendala utamanya adalah keterbatasan dana.
Sejauh ini anggaran pengadaan seragam MBR belum dicairkan oleh Dispendik Surabaya. Anggaran itu muncul dalam sistem informasi pengelolaan keuangan sekolah (SIPKS). ”Anggaran (pengadaan seragam, Red) di SIPKS belum muncul,” kata Effendi.
Pihak sekolah, sambung dia, masih menunggu pencairan anggaran. Dana tersebut berasal dari APBD Kota Surabaya melalui bosda. Biasanya, pencairan bosda dilakukan pada pertengahan triwulan ketiga. Sekitar Agustus atau September. Diperkirakan anggaran baru cair sebulan lagi. ”Kalau dana sudah cair, kita langsung bisa pesan di SIPLah,” ucap Effendi.
Jumlah anggaran pengadaan seragam berbeda-beda di setiap sekolah. Itu bergantung pada jumlah data MBR di setiap satuan pendidikan. Selain menanti pencairan dana, sekolah juga masih menunggu data profil siswa jalur mitra warga.