← Beranda

Bertahan di Era Digital, Kampung Ilmu Surabaya Tetap Eksis Jual Buku Bekas Murah, Intip Strateginya

Nanda Pramudya Fadli IllahiRabu, 10 Januari 2024 | 23.39 WIB
Sejumlah pengunjung sedang memilih buku di Kampung Ilmu Surabaya./

 

JawaPos.com – Kampung Ilmu merupakan salah satu kawasan yang terkenal sebagai sentra penjual buku-buku bekas di wilayah Surabaya.

Setiap hari, kawasan ini selalu disibukkan dengan aktivitas jual-beli buku second atau bekas dengan berbagai genre, mulai dari pelajaran, komik, novel, ataupun majalah umum.

Kampung ilmu yang terletak di Jalan Semarang, Kota Surabaya ini, selalu menjadi rujukan bagi masyarakat yang ingin mencari buku-buku murah tetapi dengan kualitas baik.

Terutama bagi kalangan pembaca atau pecinta buku, tempat ini menjadi destinasi yang wajib dikunjungi.

Pengunjung yang datang ke Kampung Ilmu akan langsung disambut dan dimanjakan dengan tumpukan buku-buku yang dijual di toko.

Menariknya, tak seperti di toko penjual buku baru pada umumnya yang tidak memperbolehkan pengunjung membaca isi buku terlebih dahulu.

Di Kampung Ilmu, pengunjung boleh sekadar membuka dan membaca dulu buku yang disediakan, atau sekadar bertanya informasi seputar buku yang sedang mereka cari kepada penjual. Baru kemudian pengunjung membeli buku atau berpindah ke toko lainnya.

Iklim jual-beli seperti itu yang telah terjadi selama ini di Kampung Ilmu Jalan Semarang, Kota Surabaya.

Baca Juga: Wali Kota Surabaya Titip Pesan Soal PSU ke Para Pengembang

Lalu bagaimana dengan perkembangan saat ini? ketika teknologi sudah berkembang pesat dan kebanyakan sudah serba digital?

Saat ini masyarakat sudah dimudahkan dengan adanya buku elektronik (e-book) dan platform online yang bisa diakses gratis ketika membuka smartphone masing-masing.

Tentu hal tersebut merupakan tantangan besar bagi para penjual buku di Kampung Ilmu. Terlebih dapat menurunkan jumlah pengunjung yang datang dan membeli buku di sana.

Hal itu dapat berdampak pada menurunnya minat masyarakat terhadap buku fisik , lalu berkurangnya pemasukan mereka. Sehingga banyak toko buku yang kemudian gulung tikar.

Dilansir dari Radar Surabaya (JawaPos Group) salah satu pedagang buku yang ditemui oleh mereka bernama Wahyuni mengatakan kini memang pengunjung sudah mulai sepi jika dibandingkan dengan dulu.

“Begini keadaannya, sekarang sepi. Mungkin karena para pembeli sekarang lebih suka beli secara online” ujarnya pada Minggu (6/1).

“Dulu orang beli buku di kampung ilmu ini karena penasaran untuk bisa melihat bukunya secara langsung” lanjut dia.

Kondisi pengunjung yang berubah drastis itu membuat para pedagang di Kampung Ilmu berupaya untuk tetap bertahan di era digital. Upaya yang mereka lakukan salah satunya adalah dengan berjualan buku secara online lewat berbagai platform dan sosial media.

Baca Juga: Cegah Kebakaran, Pemkot Surabaya Lakukan Pemetaan di Kawasan Padat Penduduk

Penjual buku lain yang turut merasakan dampak dari berubahnya iklim berjualan di Kampung Ilmu adalah Siti Sholikhah.

Ia menyampaikan sepinya pembeli mulai ia rasakan ketika Wabah Covid-19 melanda dan berdampak pada penjualan bukunya.

“Perubahan ke online itu sangat terasa, apalagi posisi toko saya ada di dalam. Sementara mereka yang punya toko di pinggir jalan saja sepi, apalagi toko saya” ucapnya.

Ia menyampaikan bahwa untuk saat ini penjualan bukunya hanya sekitar 5-6 buku saja per harinya. Karena kebanyakan pengunjung hanya sekadar tanya atau buku yang mereka cari adalah buku yang sulit ditemukan.

Upaya penjualan buku secara online itu ternyata efektif dan dapat membantu pemasukan mereka yang sebelumnya hilang karena sepinya pengunjung, meskipun belum sepenuhnya kembali seperti semula.

Wahyuni berujar kepada Radar Surabaya, bahwa beberapa toko buku di Kampung Ilmu yang melakukan inovasi berjualan online dapat meningkatkan penjualannya dan melakukan pengiriman ke berbagai tempat.

Baca Juga: Update Terbaru Performa Skuad Persebaya Surabaya Jelang Laga Menghadapi PSIS Semarang

Meskipun jumlah pengunjung menurun, tetapi buku fisik masih dibutuhkan oleh masyarakat dan tidak kehilangan penggemar.

Seperti dilansir dari Radar Surabaya (JawaPos Group), salah seorang pengunjung bernama Fahri Dwi Kuncahyo mengungkapkan pendapatnya.

“Sebagai mahasiswa, saya banyak kebutuhan. Tetapi karena suka membaca, saya tetap menyisihkan untuk membeli buku. Saya membeli buku di sini karena harganya yang miring dan ramah di kantong” ujarnya.

Ia mengaku, meskipun kini buku elektronik sudah banyak dan bisa diakses secara gratis dirinya tetap lebih nyaman membaca buku fisik. Karena membaca buku sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil.

Selain itu, harga buku terutama buku bekas yang dijual di Kampung Ilmu menurutnya sangat terjangkau bagi mahasiswa seperti dirinya.***

EDITOR: Novia Tri Astuti