← Beranda

Kanvas Sunyi Kyai Ridlwan, Drama di Balik Penciptaan Lambang NU

M SholahuddinRabu, 27 Oktober 2021 | 18.03 WIB
Photo
JawaPos.com- Pertunjukan drama semidokumenter bertajuk Kanvas Sunyi Kyai Ridlwan di Auditorium Universitas Ciputra, Surabaya, Selasa malam (26/10) berlangsung sukses. Selain disaksikan ratusan penonton, juga dihadiri keturunan pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Satu di antaranya Nyai Hj Munjidah Wahab, yang juga bupati Jombang.

Sebetulnya, kapasitas Auditorium Universitas Ciputra dapat menampung sebanyak 400 orang. Namun, karena protokol kesehatan (prokes), panitia dari PCNU Kota Surabaya membatasi hanya untuk 150 penonton saja. Beberapa tokoh yang hadir antara lain dari pimpinan DPRD Jatim, DPRD Surabaya, dan sejumlah pejabat Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya.

‘’Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap karya seni seperti ini. Tidak hanya dalam tulisan, namun memvisualisasikan sejarah penting NU. Dengan demikian, akan lebih mudah dipahami. Terutama generasi muda,’’ kata Nyai Munjidah Wahab dalam sambutannya.

Dalam drama yang disutradarai Adi Halim Faus itu, ada empat pemeran tokoh utama. Yakni, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyari (pengasuh Ponpes Teburieng, Jombang), KH Wahab Chasbullah (Ponpes Tambakberas, Jombang), KH Mas Alwi (sepupu KH Mas Mansur), dan KH Ridlwan Abdullah (pencipta lambang NU).

Pertunjukan drama malam itu dimulai kecemasan Kiai Hasyim. Kala itu, sudah setahun NU lahir, tepatnya pada 31 Januari 1926, namun belum memiliki simbol. Apalagi dua bulan akan tergelar muktamar ke-2 di Kota Surabaya. Karena itu, kakek KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) itu lantas mengundang Kiai Wahab, Kiai Mas Alwi, dan Kiai Ridlwan.

Awalnya, Kiai Hasyim meminta Kiai Wahab untuk membuat lambang atau simbol NU tersebut. Karena tidak memiliki keahlian, Kiai Wahab menyerahkan ke Kiai Mas Alwi. Namun, dengan alasan serupa, Kiai Mas Alwi akhirnya mandat menciptakan lambang itu diserahkan ke Kiai Ridlwan. Kebetulan, Kiai Ridlwan memang dikenal memiliki cukup keahlian dalam seni melukis atau menggambar.

Kiai Hasyim pun memberikan sejumlah syarat tentang pencipataan lambang NU tersebut. Di antaranya, harus benar-benar bagus dan memiliki makna. ‘’Selain itu, juga nggak boseni. Tidak lekang di telan zaman. Tetap indah sampai kapan pun,’’ kata M. Hasyim Asyari, yang berperan sebagai sosok Kiai Hasyim.

Sejak itu, Kiai Ridlwan pun berikhtiar untuk dapat menciptakan lambang NU sesuai pesan Kiai Hasyim. Termasuk melakukan tirakat dengan berpuasa hingga melaksanakan salat Istikharah. Tujuannya, agar diberikan petunjuk dari Allah SWT. Berhari-hari belum juga mendapatkan ide. Padahal, muktamar NU ke-2 segera diselenggarakan di Hotel Muslimin, kawasan Kampung Peneleh, Surabaya. Tepatnya, pada Rabiul Awal 1346 H atau Oktober 1927.

Waktu muktamar tinggal dua hari lagi. Kiai Wahab sebagai ketua panitia muktamar pun menagih lambang NU itu kepada Kiai Ridlwan. Sebetulnya, Kiai Ridlwan sudah memiliki sejumlah sketsa. Namun, dia merasa belum ada yang cocok. Hingga akhirnya, pada satu malam setelah salat Istikharah dan dilanjutkan berzikir, Kiai Ridlwan tertidur sekejapan mata. Nah, pada saat itulah mendapat petunjuk. Dia seolah melihat langit biru. Bentuknya seperti lambang NU sekarang.

Lalu, inspirasi itu divisualisasikan dalam sebuah gambar dengan diberi tulisan Arab Nahdlatul Ulama dan NU huruf latin. Dalam sehari, gambar dapat diselesaikan oleh Kiai Ridlwan. Gambar itu pun dibawa ke Kiai Hasyim untuk mendapat persetujuan. Tapi, Kiai Hasyim meminta, sebelum resmi dijadikan sebagai lambang NU diperkenalkan di muktamar ke-2, hendaknya dibawa ke KH Mas Nawawi (pengasuh Ponpes Sidogiri, Pasuruan).

Kiai Mas Nawawi setuju dengan lambang tersebut. Namun, ada satu yang dirasa masih kurang. Dia meminta agar lambang itu ditambahi simbol lain sebagai perwujudan surat Al Imron ayat 103. Yang artinya: Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.

Kiai Ridlwan pun menyempurnakan lambang itu dengan memberikan tambahan gambar tali (tampor) yang mengitari jagat dengan dikelilingi sembilang bintang. Semuanya pun setuju dengan penyempurnaan tersebut. Termasuk Kiai Hasyim. Namun, masih ada pekerjaan lagi. Bagaimana menuangkan lambang untuk menjadi salah satu dekorasi berupa di muktamar. Beberapa toko kain di Kota Surabaya, tidak ada yang cocok warnanya. Sampai akhirnya, Kiai Ridlwan mencari ke Malang.

Lambang NU dibuat berupa panji. Memanjang ke bawah dalam selembar kain tersebut. Lebar 4 meter dan panjang 6 meter. Saat muktamar dibuka, ribuan muktamirin dari berbagai daerah di Nusantara berdecak kagum dengan lambang tersebut. Indah, sarat nilai, dan terasa sakral. Bahkan, gubernur Belanda di Surabaya yang ikut hadir di muktamar NU, juga ikut memuji lambang tersebut. Betul, seperti harapan Kiai Hasyim dan beberapa pendiri NU lainnya, lambang itu memang tetap artistik hingga sekarang.
EDITOR: M Sholahuddin