SAYA mengikuti pemberitaan Jawa Pos sejak puluhan tahun silam. Saya mengenal sejak SMA, pertengahan dekade ’80-an, meskipun saat itu membaca koran secara sporadis. Terkadang membaca di perpustakaan sekolah atau pinjam koran tetangga.
Dan, memang ketika itu pemberitaan koran Jawa Pos telah menjadi salah satu rujukan informasi masyarakat. Tidak lengkap rasanya jika tidak membaca Jawa Pos.
Suatu sore pada Februari 1990, ketika masih indekos di kawasan Kedung Tarukan Baru, Surabaya, saya mendengar kabar Gunung Kelud meletus. Dan, esoknya Jawa Pos menyajikan pemberitaan besar. Saya berasal dari Kota Blitar sehingga punya interest tinggi pada keadaan di kampung halaman. Saya ingat, pasca-Kelud meletus, saya mudik. Menengok keadaan rumah dan keluarga. Turun dari bus, saya melihat Kota Blitar sudah dipenuhi pasir seperti yang diliput Jawa Pos.
Saya juga terkesan dengan liputan Jawa Pos tentang peristiwa people power di Filipina yang menjatuhkan Presiden Ferdinand Marcos pada 1986. Pada 1993, Jawa Pos juga menulis berita-berita terbunuhnya tokoh buruh Marsinah yang menarik perhatian masyarakat. Juga tentang insiden waduk Nipah, Sampang, September 1993, yang menewaskan beberapa warga sipil akibat tembakan aparat. Kala itu, peristiwa-peristiwa tersebut sangat menyedot perhatian publik.
Untuk halaman Metropolis Jawa Pos, saya juga tertarik pada liputan-liputan kriminal, seperti kasus pembunuhan Kampung Malang oleh Astini dan kasus pembunuhan keluarga di Jojoran oleh Sugik.
Juga liputan-liputan politik Jawa Pos, seperti Kongres Luar Biasa PDI di Asrama Haji Sukolilo yang melahirkan kepemimpinan Ibu Megawati Soekarnoputri hingga sekarang. Kemudian, gerakan PDI Promeg tahun 1996, gerakan mahasiswa di masa reformasi, tentang terpilihnya Wali Kota Bambang D.H. melalui pilkada langsung, Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana, dan kemudian Eri Cahyadi-Armudji selalu menjadi referensi penting publik Surabaya.
Itu kepingan-kepingan kenangan saya terhadap pemberitaan Jawa Pos dan masih banyak lagi.
Saya ingat, di pengujung dekade ’90-an, redaksi koran Jawa Pos merombak gaya penyajian berita. Jawa Pos menjadi pionir media yang menyajikan tulisan berita-berita ringkas. Tidak lagi panjang.
Di sisi lain, sajian-sajian foto lebih berani dengan memakan space koran. Didukung infografis serta merombak tata letak. Perubahan itu telah menjadi ciri Jawa Pos yang menyajikan berita ringkas. Tidak bertele-tele. Satu foto peristiwa mengalahkan seribu kata-kata. Itu sebabnya, sejak dulu Jawa Pos selalu selektif memasang foto-foto utama. Memang, tren pembaca koran ialah tidak mempunyai waktu panjang untuk membaca. Karena kesibukan masyarakat yang makin meningkat.
Selain tema-tema politik, Metropolis Jawa Pos juga sering menyajikan banyak artikel human interest. Tulisan ringan tentang kisah atau wajah manusia di balik peristiwa.
Bagi saya pribadi, Jawa Pos memberi ruang untuk memuat artikel-artikel opini yang saya tulis tentang berbagai isu. Jawa Pos juga memberi ruang pemberitaan aktivitas-aktivitas saya di DPRD Kota Surabaya sejak saya dilantik 10 Januari 2012 melalui pergantian antarwaktu.
Pemberitaan di Jawa Pos mendukung artikulasi pendapat saya di ruang-ruang publik untuk memaksimalkan kinerja saya di DPRD dengan tujuan: memperjuangkan aspirasi masyarakat.
Kini sejak masa pandemi Covid-19 yang dimulai Maret 2019, apalagi di tengah merebaknya varian baru, Jawa Pos dengan setia mengunjungi rumah-rumah pelanggan, pagi hari sejak subuh. Pemberitaan Jawa Pos, selain mengulas Covid, juga meng-endorse berbagai upaya pemerintah yang sekuat tenaga berusaha membendung dan menekan angka positif Covid. Juga tentang penanganan pasien-pasien yang membeludak.
Sejak semula, Jawa Pos berupaya serius untuk memberikan informasi yang benar kepada masyarakat tentang apa itu virus Covid-19, protokol kesehatan, pentingnya masyarakat mematuhi prokes agar tidak terpapar. Artinya, Jawa Pos berjibaku setiap hari untuk menanggulangi Covid-19 melalui karya-karya jurnalisme yang jernih, objektif, dan ulasan-ulasan yang ringan mengalir. Mudah dimengerti pembaca.
Saran saya, di tengah gelombang zaman saat ini, Jawa Pos tetap memegang teguh jurnalisme yang berimbang, check and balance, cover both side untuk kepentingan pembaca yang beragam. Saya berharap, Jawa Pos terus menjadi oase dari masyarakat yang bermacam-macam latar belakang dan kepentingannya.
Selamat ulang tahun koran Jawa Pos yang ke-72, 1 Juli 2021. Selalu hadir memberi pencerahan pembaca! (*)