← Beranda

Terapis Tunanetra Bertahan pada Masa Pandemi

Latu Ratri MubyarsahSelasa, 17 November 2020 | 03.47 WIB
Jono (kiri) ketika memijat pelanggan yang datang ke tempat praktiknya. Istimewa
JawaPos.com–Banyak sektor terdampak dan terpuruk akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam dengan memberikan bantuan sosial untuk masyarakat.

Beberapa mencoba bertahan. Salah satunya Karjono, 38, terapis tunanetra. Dia tetap menjalani profesinya untuk menafkahi keluarga. Pria yang akrab disapa Jono itu sudah berprofesi sebagai tukang pijat sejak 20 tahun lalu.

Jono membuka praktik pijat penyembuhan dan penyegaran di Rusunawa Siwalankerto Selatan lantai 1 No 03 Surabaya. Dia mengaku sudah mempelajari anatomi tubuh, teori pijat, hingga fungsi tubuh manusia, sejak bertahun-tahun lalu.

”Waktu usia 18 tahun saya sekolah di panti rehabilitasi sosial Malang selama 30 bulan hingga mendapatkan ijazah pijat. Saya belajar banyak hal. Mulai dari anatomi tubuh manusia hingga bagaimana teori pijat yang benar. Jadi tidak asal pijat,” tutur Jono pada Senin (16/11).

Tidak hanya memiliki ijazah pijat, Jono juga mempunyai sertifikat profesi dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Jono melayani aneka macam pijat seperti terapi massage, pijat shiatsu, pijat akupresure, dan pijat refleksi.

”Dari berbagai macam jenis pijat itu saya kombinasikan. Untuk pijat penyegeran ini bisa untuk relaksasi atau capek-capek. Nah yang penyembuhan misal keseleo, gangguan perut, dan lain-lain. Titik-titik yang akan dipijat juga beda,” ucap Jono.

Namun, selama pandemi Covid-19, Jono mengaku pelanggannya berkurang. Sebelummya, dalam sehari bisa melayani 6 orang. Kini dalam sehari dia hanya melayani 1 orang. Bahkan sering tidak ada pelanggan yang datang.

”Orang-orang ini masih takut dengan kondisi saat ini. Sejak November sudah lumayan, seminggu bisa dapat tiga orang,” ujar Jono, bapak 5 anak itu.

Jono mematok harga yang cukup variatif. Untuk pijat selama 15 menit, pelanggan bisa merogoh kocek sebesar Rp 30 ribu. ”Kalau 30 menit Rp 50 ribu, 1 jam Rp 80 ribu, dan 2 jam Rp 150 ribu. Tapi kalau untuk warga sini (rusunawa) saya nggak ngasih harga, karena mereka saya anggap keluarga sendiri, di kasih ya saya terima,” tutur Jono.

Jono berharap, masyarakat bisa memanjakan diri dengan datang ke terapi pijat. ”Saya juga berharap pemerintah dapat memberikan wadah bagi teman-teman disabilitas ini untuk menyalurkan bakatnya selain memijat,” kata Jono.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=hxX2Rb3ZK-g
EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah