JawaPos.com — Dana White, sosok yang kini menduduki puncak kejayaan sebagai Presiden Ultimate Fighting Championship (UFC), memulai kariernya dari awal yang sederhana. Dari seorang pelayan hotel hingga menjadi sosok terdepan dalam industri Mixed Martial Arts (MMA), perjalanan Dana White penuh dengan lika-liku dan keberanian.
Melalui kerja keras, visi, dan sedikit keberuntungan, dia berhasil mengubah UFC dari perusahaan kecil yang nyaris bangkrut menjadi kekuatan global yang menguasai olahraga tarung.
Perjalanan Dana White di dunia pertarungan dimulai ketika dia masih berusia 19 tahun. Kala itu, dia baru saja lulus dari sekolah menengah dan bekerja sebagai pelayan di sebuah hotel di New England. Meski pekerjaannya nyaman dan menjanjikan gaji yang layak, Dana White merasakan kekosongan.
"Saya berdiri di lobi, memikirkan apa yang sebenarnya saya lakukan di sini. Saya mendapatkan uang, tapi saya tidak bahagia," ungkapnya dikutip dari wawancara bersama Forbes. Tanpa ragu, dia keluar dari pekerjaan tersebut dan memutuskan untuk terjun ke dunia tinju.
Keputusan Dana White untuk beralih ke dunia pertarungan bukan tanpa risiko. Selama dekade berikutnya, dia berkecimpung di berbagai sisi dunia tinju. Mulai dari menjadi petinju, melatih, hingga mengelola petinju lain, Dana White mencoba peruntungannya di setiap sudut industri ini. Bahkan, dia sempat mengelola pusat kebugaran, mengajar tinju kepada berbagai kalangan, termasuk ibu rumah tangga.
Namun, tantangan terbesarnya datang ketika dia harus berhadapan dengan dunia gelap Boston yang kala itu dikendalikan oleh mafia legendaris Irlandia, Whitey Bulger.
Suatu hari, Dana White mendapat peringatan dari beberapa pria yang menuntutnya membayar USD2.500. Tanpa alasan yang jelas, mereka memintanya untuk segera melunasi jumlah tersebut, atau konsekuensinya akan berbahaya.
Alih-alih menyerah pada intimidasi, Dana White memilih untuk melarikan diri dari Boston. Dia mengambil keputusan berani, meninggalkan segala sesuatu di belakang dan naik pesawat menuju Las Vegas. Keputusannya untuk melarikan diri itu menjadi salah satu momen penentu dalam hidupnya.
Setelah tiba di Las Vegas, Dana White mulai membangun kariernya di dunia olahraga pertarungan, dengan fokus awal pada tinju. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan Lorenzo Fertitta, teman sekolah lamanya yang kini mengelola kasino besar bersama saudaranya, Frank Fertitta. Pertemuan itu menjadi awal dari perubahan besar dalam hidup Dana White.
Sementara itu, minat Dana White terhadap dunia pertarungan berkembang dari tinju ke Mixed Martial Arts (MMA), olahraga yang saat itu masih relatif baru. MMA menawarkan aksi tak terbatas dari para atlet yang menguasai berbagai teknik bertarung, mulai dari gulat hingga Muay Thai.
Dana White melihat potensi besar di dalam olahraga ini dan mulai mengelola beberapa petarung MMA. Dia pun mulai terlibat dalam promotor utama MMA, UFC.
Namun, Dana White menyadari bahwa UFC tengah berada di ambang kebangkrutan. Meski perusahaan tersebut menawarkan pertarungan yang menghibur, manajemen yang buruk membuat mereka kesulitan untuk bertahan.
Alih-alih menyerah, Dana White melihat peluang emas. Dia pun menghubungi Lorenzo dan Frank Fertitta, mengajak mereka untuk membeli UFC. “Saya pikir UFC dalam masalah, tapi saya yakin kita bisa membelinya dan menjadikannya besar,” ujar Dana White.
Pada Januari 2001, Dana White bersama keluarga Fertitta membentuk perusahaan induk Zuffa, LLC, dan secara resmi mengakuisisi UFC. Dana White pun diangkat sebagai presiden. Di bawah kepemimpinannya, UFC mengalami perubahan signifikan.
Salah satu langkah awalnya adalah mendapatkan persetujuan untuk mengadakan pertarungan di Nevada, pusat hiburan dan perjudian dunia. Dengan menjadikan Las Vegas sebagai markas, UFC mulai membangun pondasi untuk menjadi organisasi olahraga tarung terbesar di dunia.
Di bawah bimbingan Dana White, UFC terus berkembang. Dia berhasil mendapatkan kesepakatan dengan stasiun televisi besar, memperkenalkan Ultimate Fighter, sebuah acara realitas yang membantu memperluas popularitas UFC di Amerika Serikat.
Dana White juga membawa UFC ke panggung global, mengadakan pertarungan di berbagai negara dan memperkenalkan MMA kepada audiens yang lebih luas. Pertarungan UFC kini disiarkan di lebih dari 175 negara, menjangkau lebih dari satu miliar rumah tangga di seluruh dunia.
Meski UFC telah tumbuh menjadi raksasa olahraga global, Dana White tak pernah berpuas diri. “Kamu selalu berpikir, kalau sudah sampai di titik ini, kita bisa sedikit bersantai. Tapi, kenyataannya, tidak ada waktu untuk bersantai. Bisnis ini terus bergerak dan berkembang,” kata Dana White. Meskipun begitu, bagi Dana White, tantangan itu adalah bagian dari kenikmatan dalam menjalankan UFC.
Di bawah kepemimpinan Dana White, UFC bukan hanya sekadar promotor MMA. Organisasi ini berkembang menjadi merek global yang mendominasi industri olahraga tarung. Mereka tidak hanya mengadakan pertarungan, tetapi juga menciptakan bintang-bintang besar seperti Conor McGregor, Ronda Rousey, dan Khabib Nurmagomedov yang mendunia.
UFC juga berperan besar dalam mengubah persepsi masyarakat tentang MMA, dari olahraga yang dianggap brutal menjadi olahraga yang diakui secara global.
Kini, UFC memiliki lebih dari 100 fasilitas pelatihan di seluruh dunia, membantu mencetak generasi baru petarung MMA. Bisnis UFC pun terus berkembang dengan berbagai inovasi, termasuk kerja sama dengan merek-merek besar, penjualan merchandise, hingga penyelenggaraan acara pay-per-view yang selalu laris manis.
Namun, Dana White bukanlah orang yang cepat merasa puas. Di balik kesuksesan UFC, dia terus bekerja keras untuk menjaga UFC tetap berada di puncak. “Hal yang selalu membuat saya beruntung adalah saya tahu persis apa yang ingin saya lakukan,” ungkap Dana White dengan penuh keyakinan.
Perjalanan Dana White dari seorang petinju amatir hingga menjadi presiden UFC adalah kisah tentang keberanian, visi, dan ketekunan. Dengan tekad yang kuat, Dana White berhasil mengubah UFC dari perusahaan yang hampir bangkrut menjadi kekuatan besar di industri olahraga global.
Kini, UFC tak hanya menjadi pusat dari MMA, tetapi juga menjadi inspirasi bagi jutaan penggemar olahraga di seluruh dunia. Dan, di tengah kesibukan dan tekanan, Dana White masih berdiri kukuh, siap untuk terus bertarung demi masa depan UFC.