Saat itu, pada partai final di kandang sendiri, Kuala Lumpur, Malaysia mengalahkan Indonesia dengan skor tipis 3-2. Kok Keong tampil baik dengan menyumbangkan angka bagi Malaysia.
Pada partai ketiga, dia mengalahkan pemain yang belakangan meraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992, Alan Budikusuma dalam dua game, 15-6 dan 15-12.
Gelar itu adalah trofi Piala Thomas kelima bagi Malaysia. Setelah kesuksesan tersebut, Malaysia sudah tidak pernah lagi menggenggam gelar kejuaraan beregu putra paling bergengsi di dunia tersebut.
Prestasi terbaik Malaysia setelahnya adalah empat kali runner-up. Terbaru adalah saat mereka dikalahkan Jepang pada final edisi 2014 di New Delhi, India.
Walau sudah lama puasa gelar, namun Kok Keong sangat yakin Malaysia akan kembali naik di podium tertinggi. Dia mengatakan, Malaysia memiliki kualitas dan talenta untuk memenangi piala yang mulai diperebutkan pada 1949 itu.
Kok Keong sendiri adalah bagian dalam tim yang berisikan Sidek bersaudara– Rashid, Razif, dan Jalani. Lalu ada nama Soon Kit, Beng Kiang, Kwan Yoke Meng, Rahman Sidek, dan Wong Ewee Mun.
Pria yang sekarang berusia 56 tahun itu juga adalah bagian Malaysia yang menjadi runner-up Piala Thomas pada 1988, 1990, dan 1994.
Menurut Kok Keong, inti kekuatan Malaysia terletak pada ganda putra muda. Pasangan nomor 11 dunia Aaron Chia/Soh Wooi Yik bisa bersinar. Apalagi, tahun ini, Aaron/Soh tampil lumayan. Antara lain dengan menembus final All England dan meraih emas SEA Games 2019.
Selain itu masih ada nama Ong Yew Sin/Teo Ee Yi (no 18 dunia) dan Goh Sze Fei/Nur Izzuddin Rumsani (no 25).
Di sektor tunggal, Lee Zii Jia akan menjadi andalan masa depan. Pemain nomor 13 dunia berusia 21 tahun itu juga meraup emas SEA Games 2019. Soong Joo Ven (No 56) dan Cheam June Wei (No 64) merupakan prospek bagus. Namun, kualitasnya memang masih di bawah Zii Jia.
Saat ini, asosiasi bulu tangkis Malaysia (BAM) sedang meluncurkan program bernama Project 24. Ini adalah wujud ambisi Malaysia untuk meraih emas pada Olimpiade 2024 dan mencapai final dan juara Piala Thomas 2024.
Koo Keong sangat yakin program tersebut akan berjalan dengan baik. Target-target besar juga bakal bisa dicapai. ''Sekarang, mereka sudah memiliki target. Artinya pemain juga memiliki sesuatu untuk dikejar. Itu akan memberikan mereka tujuan dan motivasi setiap kali mereka melangkah ke lapangan,'' kata Kok Keong seperti dilansir dari media Malaysia The Star Online.
''Saya rasa, kami sudah memiliki pemain tunggal dan ganda yang bisa mewujudkan kerja tersebut. Namun, mereka butuh bekerja dengan sangat keras. Mereka harus berinisiatif untuk mendorong mereka lebih jauh lagi,'' tambahnya.
Mantan juara Asia itu mengatakan bahwa aspek kepelatihan akan memegang peranan yang sangat penting. Merekalah yang akan mengembangkan talenta-talenta muda agar berkembang menjadi pemain level top dunia.
''Para pemain harus mengalokasikan waktu tambahan di gym dan di lapangan. Mereka harus bekerja untuk mengembangkan skill yang spesifik. Mungkin juga mulai melakukan analisis kepada lawan,'' kata Kok Keong.
''Dan yang paling penting adalah, para pemain harus bertanya kepada diri mereka sendiri. Apa yang mereka inginkan dengan bermain badminton? Apakah mereka ingin menjadi pemain yang lebih baik atau mencapai sesuatu?'' imbuhnya.