← Beranda

Ganda No 27 Dunia, Pastikan Indonesia Dulang Enam Emas Beruntun

Ainur RohmanRabu, 4 Desember 2019 | 21.04 WIB
Photo
JawaPos.com-Tim bulu tangkis beregu putra Indonesia masih menjadi yang terbaik di Asia Tenggara. Pada final SEA Games 2019 di Muntinlupa Sports Center, Manila, hari ini (5/12), Indonesia kembali mendulang emas.

Secara meyakinkan, kita membekap Malaysia dengan skor 3-1.

Emas 2019 ini adalah yang keenam secara beruntun bagi Indonesia. Sejak 2007, Indonesia konsisten menjaga tradisi emas (pada 2013 di Singapura, nomor beregu putra dicoret).

Total, sejak SEA Games 1977, Indonesia mampu meraup 17 emas. Sedangkan negara lain, kalau ditotal, hanya mendapatkan 8 emas SEA Games.

Ganda nomor 27 dunia Wahyu Nayaka/Ade Yusuf Santoso menjadi penentu kemenangan bagi Merah Putih. Pada partai keempat, Wahyu/Ade membekap pasangan Malaysia Ong Yew Sin/Teo Ee Yi dalam dua game langsung, 21-16 dan 21-19.

Wahyu/Ade bermain sangat baik. Mereka cepat mengalirkan bola. Lalu terus mendominasi permainan, melakukan cegatan-cegatan mantap, dan tak memberikan kesempatan bagi Ong/Teo untuk berkembang.

Padahal, di atas kertas, peringkat Wahyu/Ade berada di bawah ganda Malaysia tersebut. Dalam ranking Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), Ong/Teo berada di peringkat 19 dunia.

Photo
Photo
Tim putra Indonesia berdiri di podium tertinggi SEA Games 2019. (Nafielah Mahmudah/PP PBSI)

''Ambisi kami memang luar biasa untuk menang di sini. Apalagi ini SEA Games pertama kami,” kata Wahyu dalam siaran pers PP PBSI yang diterima Jawa Pos.

''Alhamdulillah bisa menyumbangkan medali emas buat Indonesia. Kami tadi lebih ingin membuktikan. Pelatih sudah memberikan kepercayaan, jadi kami nggak mau menyia-nyiakannya. Kemenangan ini untuk Indonesia, orangtua, keluarga, dan kekasih saya,” imbuh Ade.

Wahyu sendiri mempersembahkan emas ini ini khusus buat anaknya. ''Memang dari awal meniatkan dapat hasil terbaik untuk anak saya dan keluarga,” ujar pemain berusia 27 tahun kelahiran Masbagik, Lombok Timur tersebut.

Selain Wahyu/Ade, tunggal putra Indonesia menjadi kunci kemenangan atas Malaysia. Keptusan PP PBSI untuk menurunkan dua tunggal terbaik nasional Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting ternyata membuahkan hasil.

Jonatan dan Ginting sama-sama mendulang angka di final. Mereka tidak pernah sekalipun menelan kekalahan sejak semifinal. Memang, sebagai unggulan pertama, Indonesia mendapatkan bye dan langsung lolos ke empat besar.

Photo
Photo
Skuad tunggal putra Indonesia berpose bersama setelah pengalungan medali emas SEA Games 2019. (Nafielah Mahmudah/PP PBSI).

Pada final hari ini, Jonatan membuka kemenangan dengan mengalahkan tunggal nomor satu Malaysia Lee Zii Jia dengan skor telak 21-9, 21-17. Pemain nomor enam dunia itu menang nyaman hanya dalam tempo 32 menit.

''Puji Tuhan bisa sumbang poin untuk Indonesia, rasanya seneng banget. Pastinya pertandingan ini tidak mudah, karena babak final apalagi bertemu Malaysia,'' kata Jonatan.

''Bulu tangkis Indonesia lawan Malaysia itu gengsinya sama tegangnya pasti ada. Dari suporter juga ramai. Saya harus pintar-pintar jaga emosi dan polanya jangan berubah. Dan tetap fokusnya harus ada di lapangan,” imbuh Jojo, panggilan akrabnya.

Kalau Jonatan menang dua game langsung, Ginting meraih kemenangan sedikit lebih sulit. Dia dipaksa bertarung tiga game melawan Soo Joo Ven. Ginting membawa Indonesia unggul 2-1 dengan skor 13-21, 21-15, dan 21-18 dalam 69 menit.

Ini memang agak di luar dugaan. Sebab, Ginting yang menempati ranking delapan dunia susah payah menundukkan Soo yang berada di peringkat 62 dunia.

''Jujur tadi di game pertama ada sedikit nervous. Sudah gitu lapangan, angin dan shuttlecocknya kayak beda dari kemarin. Agak lebih kencang. Jadi waktu mau melarikan lawannya harus lebih sabar. Karena selain ada nervous juga feelingnya harus dienakkan. Nggak langsung in. Waktu mau cari ritme dan pola, terganggu dengan kondisi angin dan shuttlecock,” kata Ginting.

''Di game kedua saya coba buat tidak macem-macem dulu di lapangan, nggak boleh langsung menyerang dan ingin matiin lawan. Harus lebih siapin kakinya. Game ketiga kami baru sama-sama bisa main normal sesuai kemampuan masing-masing,” imbuh Ginting.

Sayang, ganda putra nomor lima dunia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto gagal menyumbangkan angka untuk Indonesia. Mereka kembali kalah melawan andalan Malaysia Aaron Chia Teng Fong/Soh Wooi Yik.

Fajar/Rian bertekuk lutut dalam dua game langsung 17-21, 13-21. Artinya, dalam empat pertemuan sepanjang tahun ini, Fajar/Rian selalu kandas. Ya, skornya telak 0-4.

''Kami nggak bisa mengeluarkan permainan kami. Kami juga nggak bisa keluar dari tekanan lawan. Kami sudah coba tapi hasilnya seperti itu,'' ucap Fajar.

Untung saja, ganda kedua Wahyu/Ade berhasil menjawab kepercayaan dengan memastikan emas bagi Indonesia.

Kita memang tidak mengirimkan dua ganda nomor satu dan dua dunia Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan di SEA Games 2019.

Saat ini mereka fokus untuk bermain pada turnamen puncak akhir tahun BWF World Tour Finals di Tianhe, Guangzhou, 11 sampai 15 Desember mendatang.
EDITOR: Ainur Rohman