Atlet-atlet muda bingung mau menempa diri di mana. ’’Yang saya lihat sekarang, tenis meja sudah tidak bergairah lagi. Seperti kehilangan induk,’’ ungkap Christine Ferliana, alumnus PTM Surya.
Saat ini jebolan PTM Surya tersebar ke seluruh Indonesia. Christine, Silir Rovani, dan Ficky Supit Santoso masih berstatus sebagai atlet puslatda sampai sekarang. Setiap pagi dan sore mereka rutin berlatih di GOR Pengprov PTMSI Surabaya. Mereka masih mengejar mimpi tampil di PON XX/Papua.
Diana Wuisan, mantan ketua harian PTM Surya, menjelaskan bahwa hal itu terjadi pada hampir seluruh atlet tenis meja di Indonesia. Mereka berlatih sendiri-sendiri. Tidak seperti sepak bola atau basket, tak banyak klub yang bisa menaungi.
’’Mereka, atlet-atlet itu, membina diri sendiri dengan tujuan menjaga stabilitas permainan saja. Tidak dikelola secara profesional dalam sebuah program satu paket yang punya target,’’ jelasnya. ’’Sampai saat ini, belum ada klub tenis meja yang menyamai skala pegelolaan setara PTM Surya,’’ lanjut peraih emas SEA Games 1981 tersebut.
Karena tidak ada yang menaungi, otomatis kesempatan mengikuti tryout ke berbagai kejuaraan bergengsi di luar negeri berkurang. Sebab, mereka harus berangkat dengan biaya sendiri. Kondisi makin menyedihkan karena tidak ada nama baru yang muncul di level nasional. Penyebabnya, lagi-lagi tidak ada klub yang mencari bibit baru. ’’Junior-junior itu masih berat bersaing,’’ katanya.
Tanpa Emas SEA Games Setelah 2008
(Pasca PTM Surya Bubar)
2009
1 perunggu
beregu putra
2011
3 perunggu
tunggal putra
tunggal putri
ganda putri
2013
NIHIL
2015
1 perunggu
beregu putra
2017
4 perunggu
ganda putra
ganda putri
beregu putra
beregu putri