Bicara otonomi daerah, sulit untuk tidak mengingat sosok Djohermansyah Djohan. Pria 69 tahun berdarah Minang itu terlibat banyak dalam perumusan salah satu agenda reformasi tersebut. Setelah menuntaskan tugas sebagai Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri pada 2014, apa saja kesibukannya kini? Berikut perbincangan Jawa Pos dengan pria yang akrab disapa Prof Djo itu.
Apa kabar Prof, sehat? Baik, iya sehat-sehat.
Setelah purnatugas dari birokrasi (terakhir sebagai Dirjen otda), apa saja kesibukan setelah itu?
Kembali ke fungsional. Karena sebelumnya saya guru besar di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta (sekarang IPDN, Red), ketika masa jabatan di birokrasi selesai, saya diaktifkan lagi sebagai guru besar. Balik kampus. Ngajar S-1, S-2, S-3, bimbing skripsi, bimbing tesis, bimbing disertasi.
Prof Djo juga mendirikan lembaga I-Otda, bagaimana ceritanya?
Saya punya teman-teman dekat yang sering membantu di Ditjen Otonomi Daerah menyusun berbagai kebijakan pemerintahan. Ada J. Kristiadi (peneliti senior) CSIS, Prof Siti Zuhro dari LIPI (sekarang BRIN, Red), dan Prof Satya Arinanto FH UI. Itu empat serangkai. Kami rundingan yuk ikut edukasi, advokasi, riset, publikasi terkait otonomi daerah. Lahirlah Institut Otonomi Daerah untuk terlibat membantu pemda membuat kebijakan otda yang baik.
Prof masih kritis terhadap pemerintah. Tidak banyak mantan birokrat yang memilih jalur itu. Apa alasannya?
Saya basic-nya orang kampus. Ketika di dalam pemerintahan pun bikin kebijakan kalau ada yang kurang tepat, saya kritisi di internal. Kebetulan saya juga dari muda sudah latihan nulis. Sejak mahasiswa udah suka nulis di koran, bikin buku. Pernah jadi kepala biro humas KPU pada Pemilu 1999. Itu teman-teman wartawan banyak sekali. Mereka udah jadi Pemred atau redaktur senior. Kalau ada apa-apa, mereka lewat reporternya tanya soal kebijakan.
Di luar kegiatan formal, aktivitas Prof di waktu luang?
Saya suka gowes. Sejak muda sudah sepedaan. Dulu ketika saya menjabat, selalu bawa sepeda. Kalau ada kunjungan ke daerah, bisa sambil sepedaan, ngobrol, habis itu ngopi. Dari aktivitas informal itu bisa dapat cerita nyata, bukan cuma dengar laporan di meja rapat. Terus (hobi gowes) terbawalah sampai sudah pensiun.
Sampai sekarang masih rutin gowes?
Saya ada komunitas, anggotanya teman-teman SMA dulu di Jakarta. Kami ada kumpul sepedaan, saya ketuanya. Insya Allah kalau ada kegiatan, saat keliling Indonesia ataupun trip mancanegara, bawa sepeda lipat. Kesehatannya dapat sambil have fun juga.
Masih kuat gowes berapa km sekarang, Prof?
Main sepeda itu kalau belum 40–50 km belum pulang. Hahaha. Tapi, manfaatnya badan lebih fit, masih bisa keliling ke mana-mana. Jadi, walaupun sudah pensiun sebagai pejabat, badan tetap sehat.
Prof aktif di media sosial, hampir tiap hari update. Apa dikelola sendiri?
Oh iya saya kelola sendiri, belajar sama cucu-cucu. Facebook punya, IG ada, TikTok juga. Kegiatan yang dibagikan niatnya untuk berbagi pengetahuan dan inspirasi. Silaturahim juga. (far/c6/nor)