JawaPos.com - Rabu (18/10/17) sore, tim JawaPos.com berkesempatan untuk singgah di rumah Sutan Diego Armando Zico. Begitu masuk di halaman rumah, ibunda Zico langsung menawari kami minuman hangat mengingat udara di Gunung Putri, Bogor, yang dingin apalagi baru diguyur hujan.
Kebetulan, sang ibunda, Neneng Suhartini, sedang menggoreng bakwan jagung untuk suaminya yang pukul 17:30 WIB akan tiba di rumah. Kami pun turut disuguhi bakwan jagung yang hangat itu, sepertinya baru saja matang.
Zico yang baru saja pulang dari sekolah sedang berbenah di dalam. "Zico itu sekolahnya enggak jauh dari sini. Dia memang baru pulang jam 4 sore sampai rumah. Sebentar, saya panggilkan," tutur sang ibunda.
Tak berapa lama Zico keluar dengan masih mengenakan pakaian sekolah. Dia lantas bertanya, "Bang, mau pakai baju apa? Polo timnas saja, ya?," bilang Zico.
Kami pun kemudian berbincang bersama di teras depan dengan diwarnai gemercik hujan. Ya, basa-basi orang Indonesia, kami kemudian mencicipi bakwan jagung dan menyeruput kopi yang dibuatkan ibu. Dalam hati, "Lumayan, ini masih hangat."
"Ayah sebentar lagi juga pulang. Kerjanya di dekat situ. Ya paling 15 menitan lah sampai sini. Deket sih," imbuh Nining sambil bercakap-cakap dengan kami.
Kemudian kami pun diberi waktu untuk wawancara bersama Zico. Kehangatan keluarga ini memang sudah kami rasakan semenjak tiba. Bahkan, kami yang ingin melakukan sesi foto untuk Zico, sang tuan rumah bersedia susunan ruang terasnya kami ubah.
Usai wawancara dengan Zico, tak lama kemudian sang ayah tiba mengendari sepeda motor bebek. "Silakan mas dilanjut," kata sang ayah, Oriyanto Jhosan yang mengetahui ada kami sedang berkunjung ke rumahnya.
"Kemarin juga banyak tuh yang datang ke sini. Ada tiga stasiun televisi, terus dari radar. Ya tapi mohon maaf begini kondisi rumahnya," sambung dia.
Sebagai informasi, Oriyanto merupakan mantan pemain sepak bola. Dia pernah perkuat beberapa klub, seperti Persikabo, PSP Padang, Semen Padang, PS Lampung Putra, PSB Bogor, serta Mataram Indocement.
Dalam rumah, selain terpampang foto prestasi Zico di lapangan hijau, juga ada gambar-gambar Oriyanto ketika masih aktif bermain. Berbagai foto masa lalu itu tersusun rapi di ruangan tamu rumah keluarga itu.
"Kalau saya, terus terang begini adanya. Zico dari dahulu memang berbakat. Dia banyak yang menawarkan main di SSB, cuma saya bilang, 'Maaf saya enggak ada kalau harus pakai uang'. Alhamdulillah semua SSB yang mengajak main anak saya, tak pernah meminta uang," cerita sang ayah.
Awalnya, kami cuma berniat sebentar berkunjung ke sana. Bukan tak betah, tapi kami sadar Oriyanto butuh istirahat usai pulang kerja. Apalagi, Zico besoknya harus kembali sekolah lagi.
Akan tetapi, kami justru larut dalam perbincangan dengan kedua orang tua Zico. Dari yang kami tangkap, mereka merupakan keluarga yang sangat hangat. Anak pertamanya sedang kuliah dan memilih indekos di Jakarta, sedang di rumahnya tinggal bersama Zico, dan dua adik perempuannya.
Kami kemudian melihat jam yang berdetak di tangan waktu menandakan pukul 7 malam. Kami pun kemudian izin untuk pulang. Tak disangka keluarga mereka justru menahan kami. "Makan dulu mas, sudah disiapin ini. Apa adanya saja, ya," bilang Oriyanto.
Berhubung lapar, tak banyak basa-basi kami menyantap masakan yang disediakan ibunda Zico. Lauknya bermacam-macam, ada sayur asam, ayam, dan teman-temannya. Usai menyantap makanan, tak berapa lama lagi kami kemudian izin untuk pulang lantaran jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam, waktu sangat tak terasa karena kami larut dalam obrolan panjang.
Kami sendiri sepulangnya dari sana mendapatkan pelajaran. Kunci sukses memang berasal dari keluarga yang bahagia. Tak perlu bergelimang uang, cukup dengan kesederhanaan, semuanya akan terasa bahagia. Karena, bahagia itu ternyata sangatlah sederhana.