JawaPos.com — Total menit bermain tembus angka 1.534, empat pemain U-23 Persebaya Surabaya benar-benar mendapat panggung unjuk gigi di Super League 2025/2026. Di tengah ketatnya persaingan liga, pemain muda binaan klub internal kini tampil sebagai bagian penting, bukan sekadar pelapis.
Momen itu semakin terasa setelah Persebaya Surabaya meraih kemenangan meyakinkan 0-3 atas PSIM Yogyakarta di Stadion Sultan Agung Bantul, Minggu (25/1/2026) sore.
Gol-gol Green Force dicetak oleh Gali Freitas, Bruno Paraiba, dan Rachmat Irianto tanpa balasan hingga laga usai.
Kemenangan tersebut membawa pulang tiga poin krusial sekaligus menjaga posisi Persebaya Surabaya di peringkat keenam klasemen sementara dengan koleksi 31 poin.
Namun, bukan hanya hasil akhir yang mencuri perhatian, melainkan keberanian memberi menit bermain kepada pemain muda U-23 seperti Toni Firmansyah yang moncer di laga tersebut.
Empat pemain U-23 Persebaya Surabaya telah mengoleksi total 1.534 menit bermain sepanjang Super League 2025/2026.
Angka itu menjadi bukti konkret komitmen Persebaya Surabaya dalam membangun kekuatan jangka panjang berbasis akademi internal.
Toni Firmansyah
Nama Toni Firmansyah menjadi sorotan utama dengan kontribusi menit bermain paling besar. Gelandang tengah kelahiran Surabaya, 14 Januari 2005, tersebut telah mencatatkan 1.023 menit bermain bersama tim utama.
Toni merupakan produk klub internal Putra Mars yang bergabung dengan Persebaya Surabaya sejak 1 Juli 2023. Dengan nilai pasar mencapai Rp 2,17 miliar, Toni menunjukkan kematangan permainan meski usianya baru 21 tahun.
Fleksibilitas menjadi keunggulan Toni karena mampu bermain sebagai gelandang tengah, gelandang serang, hingga gelandang bertahan.
Kepercayaan pelatih terlihat jelas dari konsistensi menit bermain yang terus ia dapatkan.
Sadida Nugraha Putra
Nama berikutnya adalah Sadida Nugraha Putra, pemain muda dari klub internal HBS. Gelandang bertahan kelahiran 26 April 2005 itu telah mencatatkan 298 menit bermain sejak bergabung pada 1 Juli 2025.
Sadida dikenal memiliki postur ideal dengan tinggi 1,75 meter dan karakter permainan disiplin di lini tengah. Nilai pasarnya saat ini berada di angka Rp 434,54 juta, sejalan dengan perannya sebagai penjaga keseimbangan permainan.
Ichsas Baihaqi
Kontribusi pemain termuda juga datang dari Mochammad Ichsas Baihaqi. Gelandang tengah kelahiran 17 Maret 2007 itu telah mencatatkan 199 menit bermain di usia 18 tahun.
Ichsas berasal dari klub internal PSAL dan bergabung dengan Persebaya Surabaya pada awal musim 2025/2026. Kemampuannya bermain di berbagai peran lini tengah membuatnya dinilai memiliki prospek jangka panjang.
Dimas Wicaksono
Nama keempat adalah Dimas Wicaksono Putra Rahman, pemain sayap kanan kelahiran Surabaya, 16 Juli 2007. Meski baru mengoleksi 94 menit bermain, kehadirannya memberi warna baru di sektor sayap Persebaya Surabaya.
Dimas berasal dari klub internal PS Pelindo dan dikenal memiliki kecepatan serta fleksibilitas bermain hingga posisi bek kanan. Nilai pasarnya saat ini tercatat Rp 434,54 juta, mencerminkan potensi besar yang masih bisa berkembang.
Keberanian memberi panggung kepada pemain U-23 tidak lepas dari filosofi pelatih Bernardo Tavares. Pelatih asal Portugal itu menegaskan pentingnya memahami dan menjaga kekuatan internal klub.
“Di saat ini kita harus mengetahui rumah yang kita miliki. Akademi, pemain muda, tim utama kita,” ujar Bernardo Tavares. Pandangan tersebut menjadi dasar pendekatan Persebaya Surabaya dalam membangun skuad yang berkelanjutan.
Bernardo juga menekankan pentingnya menjaga pemain potensial sekaligus membuka ruang bagi talenta baru. Ia melihat akademi sebagai aset emas yang harus terus dirawat.
“Jadi kita harus menjaga pemain yang baik dan mencoba menemukan pemain yang baik,” lanjutnya. Menurutnya, pemain akademi membawa ambisi segar untuk terus membuktikan diri.
Bernardo menilai pemain muda memiliki nilai jangka panjang bagi klub, bukan hanya solusi instan. Dari sanalah budaya klub dibangun secara konsisten.
“Tapi kita juga harus mencari pemain dari akademi kita,” ucap Bernardo. Ia menyebut pemain akademi sebagai fondasi untuk masa depan tim.
“Ini penting untuk memiliki pemain jangka panjang tapi juga pemain baru dengan ambisi baru yang ingin menunjukkan karena ini adalah emas dari klub yang datang dari akademi,” sambungnya.
Filosofi itu kini mulai terlihat nyata di lapangan.
Total 1.534 menit bermain menjadi penanda perubahan arah kebijakan Persebaya Surabaya. Pemain muda tak lagi sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dalam persaingan Super League 2025/2026.
Di era Bernardo Tavares, regenerasi bukan sekadar wacana, tetapi dijalankan secara nyata dan terukur.
Persebaya Surabaya kini tak hanya berburu kemenangan, tetapi juga menyiapkan masa depan dengan fondasi yang kuat dari akademi sendiri.