← Beranda
Bejo Sugiantoro, Legenda Persebaya Surabaya yang Mengukir Sejarah Kejayaan di Liga Indonesia dan Pebisnis Andal
Moch. Rizky Pratama PutraMinggu, 24 Desember 2023 | 23.00 WIB
Bejo Sugiantoro.pergi berlatih ke Persebaya Surabaya naik motor bersama Rachmat Irianto (Miftakhul F.S/Jawa Pos)

JawaPos.com – Bejo Sugiantoro, seorang legenda hidup Persebaya Surabaya, telah membawa nama baik Indonesia di kancah sepak bola nasional dan internasional.

Pria yang lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, pada 2 April 1977, Bejo Sugiantoro memiliki perjalanan karier yang menginspirasi dan penuh prestasi.

Bejo Sugiantoro memulai kiprahnya di dunia sepak bola melalui Indonesia Muda, klub internal Persebaya Surabaya. Pada 1994, saat usianya baru 17 tahun, Bejo Sugiantoro sudah mendapatkan kontrak di tim senior Persebaya Surabaya.

Bergabung dengan Persebaya Surabaya junior selama tiga tahun, Bejo Sugiantoro kemudian melangkah ke tim senior, mengukir sejarah dengan menjadi bagian dari kejayaan Persebaya Surabaya di Liga Indonesia.

Bejo Sugiantoro tidak hanya menjadi pemain, tapi juga salah satu arsitek keberhasilan Persebaya Surabaya. Prestasi tertinggi diraihnya saat Persebaya Surabaya meraih gelar juara Liga Indonesia pada musim 1996/1997 dan 2004.

Dalam dua momen tersebut, Bejo Sugiantoro menjadi pilar kokoh di lini belakang Persebaya Surabaya, menciptakan sejarah yang tak terlupakan bagi Green Force.

Bejo Sugiantoro teringat ketika Persebaya Surabaya meraih gelar juara Liga pada musim 1997 dan 2004. Itu adalah momen yang akan selalu terkenang dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang pemain sepak bola. Rasa kebanggaan yang luar biasa menyelimuti hatinya ketika berhasil mengangkat trofi juara.

Tak hanya bersinar di level klub, Bejo Sugiantoro juga menjadi bagian penting dari Timnas Indonesia. Mulai dari 1997 hingga 2004, Bejo Sugiantoro turut membela warna Merah Putih di berbagai turnamen internasional. Prestasi terbaiknya adalah meraih perak di SEA Games 1997 dan perunggu di SEA Games 1999, menyumbangkan kebanggaan untuk Indonesia.

Pada 2014, setelah mengakhiri karier bermainnya, Bejo Sugiantoro beralih menjadi pelatih sepak bola. Bergabung dengan Persebaya Surabaya sebagai asisten pelatih, Bejo Sugiantoro terus memberikan kontribusi besar dalam mengembangkan potensi pemain muda.

Selain karier di sepak bola, Bejo Sugiantoro juga sukses di dunia bisnis. Dia menjalankan usaha penyewaan kontainer yang dimulai sejak 2000. Meski awalnya hanya dua unit truk, usahanya kini berkembang pesat dengan memiliki tujuh truk. Bisnis ini menjadi sumber penghasilan utama bagi Bejo Sugiantoro dan keluarganya.

Kisah inspiratif Bejo Sugiantoro tidak berhenti di situ. Bakat sepak bola Bejo Sugiantoro turun kepada sang putra, Rachmat Irianto. Rachmat Irianto mengikuti jejak sang ayah dengan bermain di Persebaya Surabaya dan menjadi salah satu pemain muda yang dipanggil untuk membela Timnas Indonesia di level junior.

Rachmat Irianto selalu diperingatkan oleh Bejo Sugiantoro agar selalu rendah hati dan etos kerja kerasnya tetap terjaga, sehingga kariernya di dunia sepak bola dapat bertahan lama.

Bejo Sugiantoro bukan hanya seorang legenda di lapangan, tetapi juga di luar lapangan. Disiplin, dedikasi, dan semangat juangnya telah menjadikan Bejo Sugiantoro sebagai panutan bagi pemain muda dan pencinta sepak bola. Kiprahnya dalam mengembangkan potensi sepak bola Indonesia, baik sebagai pemain, pelatih, maupun pengusaha, menjadikan Bejo Sugiantoro sebagai figur yang menginspirasi.

Pensiun dari dunia sepak bola pada 2014 tidak membuat Bejo Sugiantoro berhenti berkontribusi. Keberhasilannya dalam usaha penyewaan kontainer dan perannya sebagai pelatih Persebaya Surabaya membuktikan bahwa Bejo Sugiantoro adalah pribadi yang berkomitmen dan visioner.

Usaha yang dimulai Bejo Sugiantoro ini berawal dari titik nol dengan hanya dua unit truk pada awalnya, dan sekarang telah meningkat menjadi tujuh. Niat untuk menambah lagi akan dilakukan jika memang ada rezeki.

Melalui perjalanan hidupnya, Bejo Sugiantoro memberikan pesan inspiratif untuk terus berjuang, bekerja keras, dan menjaga semangat pantang menyerah.

EDITOR: Edi Yulianto