← Beranda

Mengenang Sejarah Sepak Bola di Empat Kota Tuan Rumah Piala Dunia U-17 2023

Ashadi CakhyadiRabu, 29 November 2023 | 22.07 WIB
Jakarta International Stadium sebagai salah satu venue Piala Dunia U-17 2023 (JAWA POS/HARITSAH ALMUDATSIR)

JawaPos.com - Pentas sepak bola bertajuk Piala Dunia U-17 tahun 2023 di Indonesia telah meramaikan para penggemar sepak bola di Tanah Air. Sebanyak 24 negara menjalani 52 laga sejak (10/11/2023) hingga (2/12/2023). Seluruh pertandingan tersebut tersaji dari babak penyisihan grup hingga babak final.

Dikutip dari Indonesia.go.id pada Rabu (29/11), seluruh partai digelar di empat kota yang telah mempersiapkan stadion terbaik mereka untuk turnamen resmi oleh FIFA untuk para pesepak bola usia 17 tahun dari enam konfederasi.

Keempat stadium tersebut antara lain, Si Jalak Harupat di Bandung, Jakarta International Stadium di Jakarta, Manahan di Solo, dan terakhir adalah Gelora Bung Tomo di Surabaya.

Keempat kota tersebut juga memiliki tradisi dan sejarah panjang di sepak bola. Cerita tentang sepak bola telah ada sebelum Republik Indonesia merdeka. Hal tersebut ditandai dengan hadirnya klub sepak bola yang berusia sekitar satu abad.

Beberapa klub masih berdiri sampai sekarang dan menjelma menjadi magnet sepak bola di tanah air seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, Persis Solo, dan Persebaya Surabaya. Setiap kali klub-klub tadi berlaga, puluhan ribu pendukungnya bakal memadati stadion.

Bandung

 

Uitgever W. Berrety  menyebutkan di dalam bukunya 40 Jaar Voetbal in Ned. Indie 1894-1934, bahwa Bandoengsche Voetbal Club (BVC) menjadi klub sepak bola pertama di Bandung yang berdiri pada tahun 1900.

Masyarakat termasuk anak-anak mudanya antusias menyambut klub pertama di kota berjuluk Paris van Java itu. Lokasi latihannya kala itu, kini telah menjadi Alun-alun Bandung.

Pada April 1904, diadakan sebuah turnamen sepak bola di Bandung dan menjadi salah satu yang pertama di Pulau Jawa. Hampir 20 tahun kemudian, berdirilah Bandoeng Inlandsche Voetbalbond (BIVB) pada 1923 sebagai wadah bagi klub-klub di Bandung.

BIVB melandasi kelahiran Persib Bandung pada 14 Maret 1933. Persib selama berpuluh tahun menjadikan Stadion Sidolig sebagai kandang.

 

Baca Juga: Mobil Tertemper Kereta di Lintasan Tak Berpalang di Kedaung Kali Angke Cengkareng, Penjaganya Luka-luka

Jakarta

 

Kota yang dulu bernama Batavia ini juga memiliki sejarah perkembangan sepak bola yang tak kalah menarik. Bermula dari berdirinya Rood-Wit, sebuah klub sepak bola yang didirikan pada 28 September 1893 dan diakui secara hukum pada Mei 1894.

Klub tersebut tercatat sebagai tim sepak bola pertama yang berdiri di Nusantara saat itu. Dalam perkembangannya, klub tersebut hanya menerima pemain dari Hindia Belanda saja.

Maka dari itu, tokoh muda Batavia kala itu, Mohammad Husni Thamrin menggagas dibentuknya Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ) pada 1928.

Pada tahun 1950, VIJ diubah namanya menjadi Persatuan Sepak Bola Jakarta atau Persija dan memindahkan markas mereka ke Stadion Menteng.

Solo

 

Sepak bola mulai diperkenalkan di tanah Solo pada 1906 yang dibawa oleh prajurit Hindia Belanda. Benteng Vastenburg menjadi saksi bisu berdirinya organisasi sepak bola pertama buatan Hindia Belanda, Vosterlandsche Voetbalbond Soerakarta, atau lebih dikenal sebagai VBS.

Beberapa tahun kemudian, sejumlah tokoh pribumi juga mendirikan klub sejenis. Ada bermacam-macam namanya. Misalnya klub Romeo singkatan dari Riwe Onggo Marsoedi Eko Oetomo dan berisi keluarga keraton Kasunanan Surakarta. 

Secara berkala, pihak keraton menggelar pertandingan yang diikuti oleh klub-klub tersebut di kawasan Alun-alun Solo.

Para pegiat sepak bola di Solo bersepakat untuk mendirikan wadah pada 8 November 1923 bernama Vorstenlandsche Voetbalbond (VVB), yang kemudian berubah menjadi Persatuan Sepak Bola Indonesia Surakarta (Persis) pada tahun 1933.

 

Baca Juga: Rinoa Aurora Kerap Menangis, Ibunda Minta Rekomendasi Visum Psikologis ke Penyidik

Surabaya

 

Dalam buku 40 Jaar Voetbal in Ned. Indie 1894-1934 karya Uitgever W. Berrety, diceritakan bahwa sejarah sepak bola di Kota Pahlawan Surabaya sudah dimulai sejak didirikannya klub Victoria oleh pemuda Hoogere Burger School bernama John Edgar pada 1895.

Menurut pemerhati olahraga Rojil Nugroho Bayu Aji dalam buku Mewarisi Sepakbola, Budaya dan Kebangsaan Indonesia, para pecinta sepak bola lokal seperti Pamoedji dan Paidjo mendirikan Soerabajasche Indonesiche Voetbalbond (SIVB) pada 18 Juni 1927.

Kemudian, nama SIVB berubah menjadi Persatuan Sepak Bola Surabaya (Persebaya) dan ikut mendirikan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).

Persebaya tak hanya diikuti oleh masyarakat pribumi saja. Klub-klub yang didirikan oleh kolonial dan masyarakat Tionghoa pun turut melebur diri bersama Persebaya.

 

EDITOR: Banu Adikara