JawaPos.com - Laga antara Real Madrid dan Benfica di Estadio da Luz seharusnya dikenang karena gol indah Vinicius Jr. Namun, yang terjadi justru drama panas yang membuat dunia sepak bola kembali membahas isu rasisme.
Real Madrid menang tipis 1-0 lewat gol spektakuler Vinicius ke sudut atas gawang. Selebrasi tarian khasnya memancing reaksi keras dari tribun.
Tapi situasi memburuk bukan hanya karena emosi penonton melainkan karena dugaan komentar rasis yang dilontarkan oleh Gianluca Prestianni.
Ketegangan memuncak ketika Vinicius tampak terganggu oleh sesuatu yang dikatakan pemain Benfica tersebut. Bahkan pertandingan sempat terhenti selama 10 menit sebelum akhirnya dilanjutkan kembali. Namun, dampaknya jelas sudah terasa.
Mbappe Menunjukkan Kekecewaan
Melansir Give Me Sport, usai peluit akhir, Kylian Mbappe berbicara tegas. Tanpa banyak basa-basi, penyerang Prancis itu langsung menyerukan hukuman berat.
"Prestianni seharusnya tidak pernah bermain di Liga Champions lagi."
Ia juga mengungkapkan bahwa para pemain sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan lapangan.
"Saya bertanya kepada Vini apa yang dia ingin kami lakukan. Dia menjawab, 'Ya, kami akan meninggalkan lapangan.'"
Bagi Mbappe, ini bukan sekadar soal emosi sesaat di tengah pertandingan. Ini tentang prinsip dan contoh yang harus dijaga oleh para pemain profesional.
"Mereka bersiul kepada kami karena para penggemar tidak mendengar apa yang mereka katakan kepada kami. Kita harus melakukan sesuatu; kita tidak bisa membiarkan ini terjadi. Saya harap tindakan akan diambil. Kita harus memberi contoh bagi semua anak-anak yang mengidolakan kita; ada hal-hal yang tidak bisa kita terima."
Tuduhan Serius di Tengah Lapangan
Mbappe bahkan mengungkap secara detail apa yang ia dengar terjadi di lapangan.
"Pemain Benfica yang mengenakan nomor 25 (Prestianni), saya tidak akan menyebut namanya karena dia tidak pantas disebut namanya.... dia menutupi mulutnya dengan bajunya untuk mengatakan, 'Vini adalah monyet' sebanyak lima kali."
"Saya mendengarnya... pemain ini tidak pantas bermain di Liga Champions."
Jika tuduhan ini terbukti benar, konsekuensinya bisa sangat berat. Dalam Regulasi Disiplin UEFA, khususnya Pasal 14 tentang rasisme dan perilaku diskriminatif, pemain yang terbukti bersalah bisa menerima sanksi skorsing minimal sepuluh pertandingan atau hukuman setara lainnya.
Sepak Bola dan Tanggung Jawab Moral
Kasus ini kembali mengingatkan bahwa sepak bola bukan hanya soal taktik dan gol indah. Ada tanggung jawab moral yang melekat pada setiap pemain. Sorotan kamera, jutaan pasang mata, dan jutaan anak-anak yang menonton—semuanya membuat perilaku di lapangan punya dampak besar.
Mbappe menegaskan bahwa usia muda bukan alasan pembenar.
"Saya tidak mengatakan saya sempurna, tetapi saya tidak membiarkan hal semacam itu terjadi begitu saja. Pemain ini masih muda. Bagaimana Anda bisa mengatakan hal-hal seperti ini di lapangan sepak bola?"
Kini, semua mata tertuju pada otoritas sepak bola Eropa. Apakah akan ada sanksi tegas? Atau kontroversi ini akan menjadi satu lagi catatan pahit dalam perjuangan panjang melawan rasisme di sepak bola?