← Beranda

Barcelona Gelar Pemilihan Presiden di Tengah Kontroversi

M Shofyan Dwi KurniawanSabtu, 24 Januari 2026 | 15.31 WIB
Penetapan tanggal pemilu presiden Barcelona pada 15 Maret menuai kritik dari kandidat lain yang menilai keputusan tersebut menguntungkan Joan Laporta. (Instagram/@jlaportaoficial)
 

JawaPos.com - Keputusan Barcelona menetapkan tanggal pemilihan presiden klub berikutnya memicu polemik internal. 

Joan Laporta secara resmi mengonfirmasi bahwa pemungutan suara akan digelar pada 15 Maret, lebih cepat dari perkiraan banyak pihak dan di tengah padatnya agenda kompetisi.

Yang membuat keputusan ini semakin kontroversial, pemilu tersebut akan bertepatan dengan pertandingan kandang Barcelona melawan Sevilla. 

Fakta bahwa pemilihan dijadwalkan di tengah musim langsung menuai keberatan, terutama dari para kandidat penantang Laporta yang menilai langkah tersebut sarat kepentingan.

Kritik Keras dari Kubu Oposisi

Melansir Football Espana, salah satu suara paling vokal datang dari Marc Ciria. Ia menilai penetapan tanggal ini sebagai langkah oportunistik yang secara tidak langsung menguntungkan petahana.

“Kami sudah merencanakan bahwa Laporta akan memanfaatkan setiap momen yang menguntungkan untuk mengadakan pemilihan,” kata Ciria.

“Kami memahami bahwa statuta mengizinkannya, tetapi hal yang normal adalah melakukannya setelah musim berakhir dan berbagai tim berjuang memperebutkan gelar, bukan di tengah hiruk pikuk ini.”

Ciria menegaskan bahwa pihaknya tidak terkejut dengan manuver tersebut. 

“Namun, ini jelas merupakan proses oportunistik dari pihak Laporta. Kami siap karena dia sudah pernah melakukannya sebelumnya, untuk memanfaatkan momentum yang menguntungkan dirinya dan bukan Barca.”

Meski demikian, ia tetap menekankan sisi demokratis klub.

“Kami senang bahwa ini adalah klub yang demokratis dan kami akan mempercepat langkah agar para anggota memberikan kepercayaan mereka kepada kami.”

Lebih jauh, Ciria juga membingkai pemilu ini sebagai pertarungan ide. Menurutnya, ada pilihan jelas antara mempertahankan sistem lama atau membawa perubahan.

“Saya pikir ini akan menjadi hal yang besar karena jelas ada perdebatan: mempertahankan model pemerintahan usang yang diwakili oleh Laporta atau memodernisasi klub dengan proposal berbeda seperti yang kami wakili.”

“Polarisasi cara-cara yang bertentangan ini akan membuat anggota yang merasa tersingkir oleh mandat ini ingin menyampaikan pendapat mereka.”

Victor Font Ikut Menyuarakan Keberatan

Kritik serupa juga datang dari Victor Font, kandidat lain dalam pemilihan presiden Barcelona. Ia menilai 15 Maret dipilih murni karena menguntungkan Laporta.

“Jelas sekali bahwa pemilihan ini diadakan ketika sesuai dengan keinginan Laporta. Bahwa dia tidak peduli mengadakan pemilihan di tengah pertandingan Liga Champions,” ujarnya.

“Tapi kami sudah memperkirakannya, kami tidak terkejut. Kami sudah siap. Ini adalah pemilihan yang sangat penting untuk masa depan Barca. Saatnya untuk mengembalikan Barca kepada para anggotanya.”

Font juga menyoroti potensi masalah partisipasi anggota jika pemilu digelar bersamaan dengan laga besar. Ia pun mengajukan tuntutan khusus.

“Tentu saja, jika tanggal 15 Maret akhirnya bertepatan dengan pertandingan melawan Sevilla, kami menuntut agar pada hari itu pertandingan tersebut khusus untuk anggota dan tiket dijual dengan harga minimum.”

“Partisipasi harus didorong dan mereka yang tidak memiliki tiket musiman tidak boleh didiskriminasi.”

Dengan tensi yang mulai memanas, pemilu presiden Barcelona tampaknya bukan sekadar soal siapa yang memimpin klub ke depan, tetapi juga tentang arah dan model kepemimpinan yang akan dipilih para anggota.

Maret nanti, bukan hanya hasil di lapangan yang akan jadi sorotan, melainkan juga masa depan Barca di balik layar.

EDITOR: Edi Yulianto