← Beranda

Aturan Baru Liga Inggris: Musim Baru Terapkan 6 Perubahan Penting, Salah Satunya Tentang Penalti dan Kiper

Alvin Fahrizal BayyuniSenin, 18 Agustus 2025 | 02.15 WIB
Trofi Inggris Premier League. (Sky Sports)

JawaPos.com – Premier League 2025/26 tidak hanya menghadirkan semangat baru bagi klub-klub Inggris, tetapi juga disertai sederet perubahan hukum permainan yang akan langsung berlaku sejak pekan pertama. Seperti biasa, International Football Association Board (IFAB) bersama FIFA melakukan penyesuaian demi menjaga ritme pertandingan, mengurangi kontroversi, sekaligus meningkatkan kualitas tontonan.

Beberapa aturan ini sebelumnya sudah diuji coba di ajang FIFA Club World Cup dan Kejuaraan Eropa U-21, dan kini siap diadopsi di level tertinggi sepak bola Inggris. Mulai dari aturan kiper, peran kapten, hingga penindakan keras di kotak penalti, semuanya diyakini akan memengaruhi jalannya kompetisi.

Berikut beberapa aturan baru yang diterapkan di Premier League 2025/26, yang dirangkum dari BBC.

1. Aturan Delapan Detik untuk Kiper

Salah satu perubahan paling menonjol adalah soal waktu kiper memegang bola. Jika sebelumnya batasnya enam detik dengan sanksi tendangan bebas tidak langsung – yang nyaris tak pernah diterapkan – kini regulasinya diperketat.

Mulai musim ini, penjaga gawang yang memegang bola lebih dari delapan detik akan dihukum dengan tendangan sudut untuk lawan. Wasit akan memberikan peringatan berupa hitungan mundur lima detik sebelum benar-benar memberi sanksi.

Kasus ini sempat terlihat di Piala Dunia Antarklub, ketika kiper Al Hilal, Yassine Bounou, kedapatan terlalu lama memegang bola melawan Real Madrid. Untungnya bagi tim asal Arab Saudi itu, Los Blancos gagal memanfaatkan hadiah sepak pojok.

Mantan asisten wasit Premier League, Darren Cann, menilai perubahan ini positif. Menurutnya, aturan baru tersebut akan membuat tempo permainan lebih cepat. Ia optimistis kiper-kiper akan segera beradaptasi dan jarang ada situasi yang berujung hukuman sudut.

2. Hanya Kapten yang Boleh Protes

Pemandangan pemain berkerumun mengerubungi wasit kerap mencoreng citra sepak bola. Karena itu, Premier League mengikuti jejak Liga Champions dengan menerapkan aturan "only the captain".

Kini, hanya kapten tim yang boleh mendekati dan berbicara dengan wasit. Pemain lain yang ikut protes dengan cara tidak sopan bisa langsung diganjar kartu kuning. Jika kapten adalah seorang kiper, klub boleh menunjuk kapten lapangan tambahan sebelum laga dimulai.

Darren Cann menjelaskan, aturan ini bertujuan menjaga wibawa wasit dan mengurangi kericuhan di lapangan. “Jika wasit ingin berbicara dengan kapten, mereka akan memberi isyarat dengan mengetuk lengan, tanda ban kapten,” ujarnya. Pemain lain wajib menghormati mekanisme tersebut.

3. Penalti Sentuhan Ganda Kini Bisa Diulang

Ada pula perubahan pada skenario tendangan penalti. Jika penendang tak sengaja melakukan dua sentuhan (misalnya terpeleset lalu bola menyentuh kaki tumpuan) dan bola masuk, maka tendangan bisa diulang.

Sebelumnya, gol otomatis dianulir dan tendangan dianggap gagal, seperti yang dialami Julian Alvarez bersama Atletico Madrid di Liga Champions musim lalu. Kini, selama kejadian dinilai tidak disengaja, VAR bisa merekomendasikan untuk retake.

Contoh nyata terjadi di final Euro Wanita 2025, ketika Beth Mead harus mengulang penalti setelah terpeleset. Sayangnya, usaha keduanya berhasil ditepis. Namun secara hukum permainan, kini semua situasi serupa akan diperlakukan dengan adil.

4. Penertiban Tarik-Menarik di Kotak Penalti

Set-piece kerap menimbulkan sengketa karena pemain saling menarik atau merangkul. Mulai musim ini, wasit dan VAR diminta lebih tegas terhadap aksi tersebut. Fokus utama ada pada niat pemain: apakah ia berusaha menguasai bola atau sekadar menahan lawan.

Contoh pernah terjadi saat Nottingham Forest vs Brighton, di mana Tariq Lamptey dihukum penalti karena dianggap menahan Morgan Gibbs-White. Premier League merasa sudah cukup baik dalam penggunaan VAR musim lalu, tetapi area duel bola mati masih jadi perhatian utama.

5. Perubahan Lain yang Lebih Kecil

Selain empat poin utama tadi, ada juga sejumlah penyesuaian kecil:

  • Drop ball bisa diberikan kepada tim yang berpotensi menguasai bola sebelum permainan dihentikan.
  • Jika ada pemain atau ofisial di luar lapangan menyentuh bola yang jelas-jelas akan keluar, lawan mendapat tendangan bebas tidak langsung, tanpa kartu.
  • Offside khusus kiper kini dihitung dari sentuhan terakhir bola oleh penjaga gawang, bukan sentuhan pertama.
  • Semi-automated offside (SAOT) tetap digunakan, setelah diuji coba di akhir musim lalu.

6. Dampak Jadwal karena Kompetisi Eropa

Bukan perubahan aturan, tapi penting bagi fans: musim ini ada rekor sembilan klub Inggris bermain di kompetisi Eropa. Itu berarti banyak laga Premier League berpotensi diubah jadwalnya, terutama jika klub melaju ke babak gugur.

Liverpool, Arsenal, Manchester City, Chelsea, Newcastle, dan Tottenham tampil di Liga Champions. Aston Villa dan Nottingham Forest di Liga Europa, sedangkan Crystal Palace akan mentas di Conference League (masih menunggu hasil banding).

Premier League sudah memperingatkan bahwa laga bisa bergeser ke Minggu malam untuk menyesuaikan jadwal Eropa, dan pertandingan tersebut akan otomatis disiarkan oleh Sky Sports.

Perubahan-perubahan hukum permainan ini mungkin terlihat kecil, tetapi efeknya bisa signifikan dalam menjaga intensitas Premier League. Kiper harus lebih cepat melepas bola, kapten mendapat tanggung jawab ekstra, pemain harus lebih disiplin di kotak penalti, dan eksekutor penalti kini mendapat sedikit “keadilan”.

Baca Juga: Arsenal dan Manchester United Bersaing Datangkan Lee Kang-in dari PSG, Kontak Awal Sudah Dilakukan

Musim baru Premier League jelas bukan hanya soal siapa yang jadi juara atau siapa yang terdegradasi, tapi juga bagaimana semua pihak—pemain, wasit, hingga penonton—menyesuaikan diri dengan wajah baru aturan sepak bola modern.

EDITOR: Hendra