← Beranda

Ayah Welber Jardim: Apa pun yang Dipilih Welber, Kami Mendukung Penuh

Farid S. MaulanaJumat, 17 November 2023 | 01.45 WIB
Amar Brkic dan Welber Jardim, 2 pemain diaspora yang memperkuat Timnas U-17 Indonesia.

Demi Anak, Mereka Terbang dari Penjuru Dunia untuk Memberikan Dukungan

Menurut sang ibu, Welber Jardim betah di sini meski terkendala cuaca panas. Baik yang datang dari Brasil, Selandia Baru, maupun Kanada, para orang tua sepakat bukan menang-kalah yang terpenting, tetapi pengalaman bermain di Piala Dunia.

BAGUS P.P., Surabaya, FARID S.M., Solo, DIMAS R., Kab. Bandung

---

TAK terkira kebanggaan Elisangelo Jardim de Jesus melihat buah hatinya, Welber Jardim, berseragam Garuda Asia. Meski warga Brasil, bagi mantan gelandang Persiba Balikpapan itu, yang terpenting buah pernikahannya dengan Lielyana Halim itu bahagia bermain.

’’Apa pun yang dia pilih, Indonesia atau Brasil, saya sebagai orang tua akan selalu mendukung,’’ katanya saat dihubungi Jawa Pos kemarin (15/11).

Elisangelo dan sang istri tiba di Surabaya pada Minggu (12/11) dan menginap di hotel yang berbeda dari hotel skuad Indonesia U-17. Besok (13/11) siangnya, mereka mengunjungi Welber. Kemudian, malam harinya langsung menuju ke Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, tempat dihelatnya laga Indonesia U-17 versus Panama U-17.

Laga berakhir imbang 1-1. Gol Garuda Asia yang dicetak Arkhan Kaka merupakan umpan dari Welber yang bermain di posisi bek kanan.

Sejak awal sang istri, Lielyana, dihubungi PSSI, Elisangelo mendukung penuh apa pun pilihan sang anak. ’’Justru semua tergantung Sao Paolo (klub Welber). Begitu klub sudah memberikan izin, dia langsung pergi ke Indonesia,’’ paparnya.

Kepadanya, Welber mengaku ingin membela Indonesia karena dirinya punya ikatan kuat dengan negeri tempat dia dilahirkan. ’’Saya kira ini momen yang bagus buat anak saya karena dia langsung bisa bermain di ajang Piala Dunia,’’ beber pria yang fasih berbahasa Indonesia itu.

Lielyana menuturkan, sejak kecil Welber tak bisa dipisahkan dari sepak bola. ’’Dari pagi sampai sore mainnya bola dan bola,’’ kata perempuan asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu. Hanya beberapa kegiatan lain yang bisa membuatnya sejenak lupa dengan sepak bola. ’’Kadang juga suka main layang-layang, sama bersepeda,’’ ujarnya.

DATANG DARI BRASIL: Elisangelo Jardim de Jesus dan Lielyana Halim.
DATANG DARI BRASIL: Elisangelo Jardim de Jesus dan Lielyana Halim.

Welber yang lahir di Bali dibawa orang tuanya ke Brasil saat berusia 5 tahun. Meski demikian, Indonesia tetap dia akrabi. ’’Setiap hari saya selalu menyelipkan bahasa Indonesia dalam percakapan dengan anak-anak. Tujuannya agar mereka bisa berkomunikasi dengan keluarga saya di Indonesia,’’ jelas Lielyana.

Lielyana sudah lama tidak mengajak Welber mudik ke Banjarmasin. ’’Karena sekarang anak-anak sudah sekolah dan punya banyak kegiatan. Apalagi, Welber masih ikut kompetisi (di Brasil, Red),’’ tambahnya.

Dia belum tahu apakah seusai Piala Dunia U-17 Welber akan diajak pulang kampung. Yang jelas, Lielyana menyebut anaknya betah di Indonesia. ’’Kesulitan yang dirasakan anak saya cuma satu, cuaca (panas),’’ terangnya.

Sama seperti pasangan Elisangelo-Lielyana, Sophie Ukich juga datang langsung dari Auckland, Selandia Baru, ke Bandung, Jawa Barat, untuk mendukung sang putra, Stipe Ukich, yang memperkuat penggawa All Whites muda. Sophie tiba pada Sabtu (11/11) malam, kurang dari 24 jam Selandia Baru U-17 memainkan laga perdana kontra Venezuela U-17. Bersama saudarinya, Wi, dia menginap di hotel yang sama dengan skuad Selandia Baru U-17. ’’Kamar saya hanya beda lantai dengan kamar Stipe,’’ ucapnya kepada Jawa Pos.

Sophie menyebut dia akan bertahan di Bandung untuk tiga pertandingan yang dijalani Selandia Baru U-17. Artinya, Sophie akan selalu hadir di tribun Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, tiap kali Stipe bermain. ’’Selama dia terus berlari, tidak menyerah mengejar impian, itulah yang penting. Tidak masalah menang atau kalah. Untuk pengalaman juga,’’ pesannya.

Di Solo, Jawa Tengah, ada raut kecewa dari wajah Daniel Abraham seusai pertandingan Uzbekistan U-17 melawan Kanada U-17 pada Senin (13/11). Anaknya yang jadi penjaga gawang Kanada U-17, Nathaniel Abraham, harus kebobolan tiga kali. Satu gol di antaranya merupakan blunder dari Nathaniel. ’’Dalam hidup, ada hari baik dan hari buruk. Mungkin hari ini buruk untuknya,’’ katanya.

Meski begitu, Daniel tetap bangga atas capaian sang anak. Apalagi, di pertandingan pertama ketika melawan Spanyol U-17, dia tampil bagus dengan melakukan sembilan penyelamatan.

Meski Kanada U-17 dipastikan tidak lolos ke babak selanjutnya, rasa bangga juga ditunjukkan oleh George Londono, ayah gelandang Kanada U-17 Tyler Londono. Dia merasa, bisa masuk skuad Kanada U-17 dan bermain di Piala Dunia U-17 adalah prestasi bagi sang anak. ’’Tidak mudah masuk skuad Kanada U-17. Tyler punya umpan bagus dan kepercayaan diri ketika membawa bola. Skill itulah yang membuatnya sampai di sini,’’ tuturnya. (*/c18/ttg)

EDITOR: Ilham Safutra