JawaPos.com–Akreditasi menjadi perhatian penting lembaga pendidikan tinggi. Tidak terkecuali Universitas Hang Tuah (UHT). Berbagai upaya ditempuh untuk meningkatkan akreditasi kampus demi mutu pendidikan yang lebih baik bagi masyarakat.
Pekan lalu UHT menerima akreditasi unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT). Menurut Rektor Prof Dr Ir Supartono MM CIQaR, pihaknya membutuhkan waktu tiga tahun untuk mempersiapkan akreditasi.
’’Mulai mempersiapkan segala fasilitas yang kemudian kami buat laporannya untuk diajukan (ke BAN PT),” jelas Supartono.
Setelah semua siap, dokumen lengkap diajukan pada Desember 2023. Tim asesor lantas melakukan penilaian langsung ke kampus selama tiga hari. Asesmen berlangsung pada 15–17 Maret.
’’Hari pertama, tim asesor meninjau fasilitas di fakultas kedokteran gigi (FKG), kapal simulasi fakultas vokasi perkapalan (FVP), dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) UHT,” ungkap Supartono kepada Jawa Pos.
Ruang Aerosol RSGM UHT menjadi salah satu fasilitas yang dinilai tim asesor BAN PT. Ruangan itu dilengkapi dengan sensor yang akan menunjukkan tekanan udara di dalam ruangan.
’’Jadi, kalau pintu terbuka, tekanannya negatif,” ungkap Dekan FKG Nora Lelyana.
Saat pintu tertutup, tekanan di dalam ruangan netral atau ditunjukkan dengan angka nol. Itu artinya, ruangan tersebut steril. Di dalam ruangan itu, para dokter muda mempraktikkan ilmu mereka langsung terhadap pasien.
Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah (FK UHT) menambah satu spesialisasi anyar pada Senin (25/3). Program pendidikan dokter spesialis (PPDS) kedokteran kelautan yang didirikan UHT menjadi yang kedua di Indonesia setelah Universitas Mataram. Pendiriannya dilatarbelakangi jumlah spesialis kelautan yang masih sedikit di tengah dominannya kawasan laut di Indonesia.
Rektor UHT Prof Dr Ir Supartono MM CIQaR menyatakan, spesialis kelautan bakal mengisi ruang-ruang di rumah sakit pelabuhan. Selama ini kasus kesehatan di laut harus ditangani di darat.
”Di darat pun harus dirujuk ke RSPAL dr Ramelan. Jadi, panjang perjalanan penanganan ini,” kata Supartono.
Jika dokter spesialis kelautan sudah tersebar di berbagai rumah sakit pelabuhan, penanganan bisa lebih cepat. Selama ini, dokter hanya menjalani sertifikasi atau kursus.
”Pendidikan spesialis kelautan banyak juga yang ke Malaysia atau Belanda,” jelas Supartono.
Dibukanya PPDS kedokteran kelautan di Surabaya diharapkan mampu mengambil ceruk pasar luar negeri tersebut. ”Dokter juga bisa menjalani pendidikan yang lebih murah daripada di luar negeri,’’ ujar Supartono.
Dekan FK UHT dr Djatiwidodo Edi Pratiknya MKes SpKL Subsp PH(K) menegaskan, pihaknya sudah menerima lima mahasiswa baru.
”Segera mulai pendidikan untuk semester pertama ini,” tutur Djatiwidodo Edi Pratiknya. Pembukaan untuk semester kedua dilakukan pada Agustus. Jumlah peserta didik juga mencapai lima orang.
Djati menjelaskan, pihaknya memberikan batasan umur 40 tahun untuk peserta PPDS. Namun, pihaknya juga masih melihat kondisi permintaan di daerah.
”Kalau dari institusi ada kebutuhan dan memberikan rekomendasi, umur 45 tahun juga bisa dipertimbangkan,” ungkap Djatiwidodo Edi Pratiknya.
Peserta PPDS, nanti menjalani pendidikan selama tujuh semester. FK UHT juga akan menggandeng Lembaga Kesehatan Kelautan TNI AL (Lakesla) Drs Med R Rijadi Sastropanola Phys yang memiliki hyperbaric chamber. Dokter spesialis kelautan bakal banyak menangani pasien dengan penggunaan terapi hiperbarik tersebut. (ann/dya/c12/c14/ai /hep)