JawaPos.com – Di dalam pembelajaran era sekarang, ada sejumlah tuntutan kemampuan yang harus dimiliki siswa. Mulai dari kemampuan berpikir kritis, kerjasama, mengembangkan kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah. Tim Program PINTAR Tanoto Foundation mengembangkan pembelajaran dengan pendekatan MIKiR untuk mencetak siswa dengan kemampuan abad ke-21.
Kepala Pembelajaran Tanoto Foundation Ujang Sukandi menuturkan pembelajaran berbasis MIKiR mengajak siswa untuk mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi. Kegiatan tersebut merupakan unsur pembelajaran aktif yang selama ini mereka kembangkan.
"Dengan MIKiR siswa akan difasilitasi untuk bekerjasama, mengembangkan kreativitas, berpikir kritis, memecahkan masalah, serta melatih kemampuan berkomunikasi,’’ tuturnya di Jakarta, Rabu (4/3).
Untuk mengimplementasikan pembelajaran berbasis MIKiR itu, tim Program PINTAR Tanoto Foundation bekerjasama dengan Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan Kemenag. Total ada 30 widyaiswara madrasah dilatih materi pembelajaran berbasis MIKiR itu.
Lebih lanjut Ujang mengatakan dalam penerapan MIKiR ada sejumlah unsur yang ditekankan. Seperti pada unsur mengalami, siswa difasilitas untuk lebih banyak melakukan kegiatan dan mengamati seperti melakukan percobaan, pengamatan, dan wawancara.
Unsur lainnya adalah interaksi. Untuk unsur ini, siswa melakukan proses pertukaran gagasan, berdiskusi, atau memberikan komentar serta pernyataan dan saling menjelaskan. Kegiatan ini dapat menunjang pola pemahaman konsep dengan baik.
Sementara untuk unsur komunikasi, siswa dimotivasi untuk berani menyampaikan gagasan. Kegiatannya bisa berupa presentasi, mendemonstrasikan, menjelaskan, bercerita, dan mengemukakan pendapat. Unsur pembelajaran terakhir adalah refleksi. Yaitu memunculkan sikap untuk mau menerima kritik dan memperbaiki gagasan, hasil karya, maupun sikapnya.
Kepala Bidang Program dan Pengendalian Mutu Pusdiklat Kemenag Aden Daenuri menyebut paradigma guru-guru madrasah dalam mengajar harus berorientasi sebagai fasilitator. Menurutnya saat ini sudah jangan lagi guru sebagai satu-satunya pusat sumber belajar. Melalui kerjasama itu, mereka meningkatkan kemampuan widyaiswara. ’’Agar kompeten dalam mendidik, mengajar, dan melatih pembelajaran aktif pada guru madrasah,” katanya.