← Beranda

8 Kebiasaan Orang Tua yang Harus Dihentikan agar Dihormati Anak Saat Dewasa

Aunur RahmanJumat, 7 November 2025 | 13.55 WIB
Ilustrasi seorang anak dewasa dan orang tuanya sedang duduk bersama di rumah, dengan suasana yang menunjukkan batasan yang sehat dan saling mendengarkan./Freepik

JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak yang sudah dewasa sering kali harus mengalami penyesuaian baru.

Meskipun ikatan batin tetap kuat, dinamika hubungan berubah drastis seiring anak tumbuh menjadi individu mandiri.

Penting bagi orang tua untuk mengubah perilaku mereka agar rasa hormat dari anak dewasa tetap terjaga. Salah satu caranya adalah berhenti melakukan hal-hal yang dapat mengikis batas-batas ini, m

elansir dari Geediting.com Jumat (7/11). Perubahan perilaku ini menunjukkan pengakuan terhadap kemandirian dan kedewasaan anak.

Sering kali, orang tua tidak menyadari beberapa kebiasaan yang secara tidak sengaja dapat mengurangi rasa hormat dari anak.

Mengidentifikasi dan menghilangkan perilaku ini menjadi kunci untuk memelihara hubungan sehat.

Rasa hormat tidak didapatkan begitu saja, tetapi harus dijaga dengan tindakan yang tepat.

Mari kita telaah delapan kebiasaan yang seharusnya dihindari saat berada di dekat anak dewasa.

1. Mengkritik Keputusan Hidup Mereka

Baca Juga: Jalan Mulus Menuju Kekayaan! 7 Weton Istimewa Tak Perlu Proses Lama untuk Gapai Kejayaan Duniawi Menurut Primbon Jawa

Anak-anak dewasa pasti akan membuat keputusan yang berbeda dari harapan atau standar orang tua.

Terus-menerus mengkritik pilihan karir, pasangan, atau gaya hidup mereka akan merusak harga diri anak.

Perilaku ini menunjukkan bahwa orang tua masih melihat mereka sebagai anak kecil yang tidak mampu membuat keputusan sendiri.

2. Membicarakan Masalah Pernikahan Sendiri

Mengungkapkan detail intim dan konflik dalam pernikahan orang tua kepada anak dewasa menempatkan beban yang tidak semestinya pada mereka.

Anak dewasa tidak seharusnya menjadi terapis atau penasihat dalam masalah rumah tangga orang tua. Hal ini dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan terbebani secara emosional.

3. Bergosip tentang Anggota Keluarga Lain

Berbicara buruk atau menggosipkan anggota keluarga lain di hadapan anak dewasa menunjukkan kurangnya kebijaksanaan.

Perilaku ini dapat membuat anak dewasa ragu terhadap kepercayaan dan privasi orang tua. Ini juga bisa membuat anak merasa wajib memihak dalam konflik keluarga.

4. Mencoba Bersaing dengan Anak Sendiri

Beberapa orang tua secara halus mencoba bersaing dengan kesuksesan, kekayaan, atau bahkan penampilan anak dewasa mereka.

Perilaku tidak sehat ini menciptakan suasana permusuhan dan kecemburuan. Orang tua harusnya menjadi pendukung, bukan rival dalam hidup anak.

5. Mengeluh tanpa Mencari Solusi

Mengeluh secara terus-menerus tentang masalah pribadi tanpa pernah berusaha mencari jalan keluar sangat melelahkan bagi anak dewasa.

Anak akan merasa terbebani dan melihat orang tua sebagai individu yang pasif. Orang tua harusnya menunjukkan ketahanan dan kemandirian dalam menghadapi masalah.

6. Tidak Menghormati Batasan Pribadi Mereka

Satu di antara kebiasaan yang harus dihentikan adalah melanggar batasan pribadi yang telah ditetapkan oleh anak dewasa.

Ini bisa berupa mengunjungi tanpa pemberitahuan atau mengganggu privasi keuangan mereka. Orang tua harus menghargai ruang dan privasi anak sebagai orang dewasa.

7. Terlalu Banyak Bergantung secara Finansial

Meskipun anak dewasa mungkin menawarkan bantuan, terlalu banyak menuntut atau bergantung secara finansial dapat mengikis rasa hormat.

Hal ini dapat membuat anak merasa dimanfaatkan dan membebani mereka. Orang tua harus menjaga kemandirian finansial sebisa mungkin.

8. Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Membandingkan anak dewasa dengan saudara kandung, sepupu, atau teman mereka adalah kebiasaan yang sangat merusak hubungan.

Perilaku ini hanya akan menimbulkan perasaan tidak aman dan rasa benci pada anak. Orang tua perlu menghargai keunikan dan pencapaian masing-masing anak.

Untuk mempertahankan rasa hormat dari anak dewasa, orang tua harus bertransisi dari peran pemberi perintah menjadi penasihat yang bijaksana.

Orang tua perlu menyadari bahwa peran mereka telah berubah seiring dengan bertambahnya usia anak. Anak dewasa menghargai kemandirian dan penerimaan dari orang tua.

Memperlakukan anak dewasa sebagai individu yang setara dan mandiri adalah bentuk rasa hormat tertinggi.

Sikap saling menghargai akan menghasilkan hubungan yang lebih kuat dan harmonis di masa depan. Fokuslah pada membangun ikatan yang saling mendukung dan penuh kasih.

EDITOR: Hanny Suwindari