← Beranda

7 Kalimat Beracun Ini Diam-Diam Bisa Merusak Mental Anak, Jangan Sampai Keluar dari Mulutmu!

Nanda PrayogaKamis, 2 Oktober 2025 | 06.25 WIB
Ilustrasi kesalahan pola asuh berdampak pada perkembangan mental anak sejak dini (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Setiap orang tua pasti mendambakan memiliki anak yang tumbuh menjadi individu yang percaya diri, tangguh, dan mampu mengelola emosinya dengan baik.

Namun, tanpa disadari, seringkali ada frasa atau ucapan yang terasa biasa saja tetapi memiliki dampak destruktif jangka panjang pada psikis anak. 

Kalimat-kalimat ini bisa mengikis harga diri mereka, mematikan rasa ingin tahu, bahkan membuat mereka meragukan validitas perasaan mereka sendiri.

​Membesarkan anak yang percaya diri bukanlah soal memanjakan, melainkan soal memilih kata-kata yang mendukung pertumbuhan mental dan emosional mereka. 

Bahasa yang digunakan orang tua sangat menentukan bagaimana anak memandang dirinya dan dunia di sekitarnya.

Yuk, kita bongkar tujuh frasa umum yang wajib kamu hindari jika kamu ingin anakmu tumbuh menjadi pribadi yang berani, mandiri, dan penuh keyakinan, seperti dirangkum dari laman Your Tango.

​1. 'Kamu Terlalu Sensitif'

​Ketika seorang anak menunjukkan emosi yang kuat, entah itu sedih, marah, atau kecewa, dan kamu langsung melabelinya dengan frasa "Kamu terlalu sensitif", tanpa sadar kamu sedang menolak dan mengabaikan perasaannya. 

Frasa ini mengajarkan anakmu untuk tidak memercayai apa yang mereka rasakan. Seolah-olah, perasaan mereka itu salah atau berlebihan. Padahal, validasi emosional adalah kunci utama dalam membangun harga diri yang kuat. 

Daripada menolaknya, cobalah untuk mengakui "Iya, mama/papa lihat kamu marah/sedih" dan bantu mereka mengelola emosi tersebut.

Ini mengirimkan pesan bahwa semua perasaan itu normal dan bisa dikelola, bukan suatu kelemahan yang harus disembunyikan.

​2. 'Karena Aku Bilang Begitu'

​Mungkin frasa ini adalah jurus pamungkas untuk mengakhiri perdebatan yang melelahkan. Namun, menutup diskusi dengan sikap otoriter "Karena aku bilang begitu" secara efektif mematikan api rasa ingin tahu dan pemikiran kritis anakmu. 

Anak-anak yang tumbuh percaya diri dibesarkan oleh orang tua yang mau repot menjelaskan alasannya, bahkan jika keputusan akhirnya tetap sama.

Dengan menjelaskan mengapa suatu aturan ada, kamu mengajarkan mereka tentang logika dan konsekuensi. 

Pengasuhan yang mendukung otonomi ini mendorong mereka menjadi pribadi yang mandiri dan mampu membuat keputusan yang baik, alih-alih hanya patuh karena takut.

​3. 'Kamu Tidak Akan Pernah Bisa Melakukannya dengan Baik'

​Ini adalah racun paling cepat untuk menghancurkan kepercayaan diri. Ketika orang yang paling mereka cintai dan percayai meramalkan kegagalan, anak akan langsung menanamkan batasan mental itu pada dirinya. 

Orang tua yang ingin anaknya tangguh akan menghindari prediksi kegagalan seperti ini. Mereka fokus pada usaha, bukan hasil.

Alih-alih meramalkan kegagalan, dorong mereka untuk terus mencoba, belajar dari kesalahan, dan gigih. 

Mengadopsi pola pikir berkembang yang percaya bahwa kemampuan bisa ditingkatkan melalui dedikasi terbukti menghasilkan pencapaian dan kepercayaan diri yang jauh lebih tinggi. Katakanlah, "Ayo coba lagi, kamu pasti bisa belajar dari kesalahan yang tadi!"

​4. 'Berhenti Pamer'

​Semua orang tua pasti ingin anaknya rendah hati, tetapi ada perbedaan tipis antara mengajarkan kerendahan hati dan meredam kegembiraan.

Ketika anakmu dengan bangga menunjukkan prestasinya, sekecil apa pun itu, dan kamu membalas dengan "Berhenti pamer", kamu membuatnya merasa malu atas pencapaiannya. 

Anak-anak membutuhkan ruang untuk merayakan keberhasilan dan usahanya. Merayakan usaha dan kesuksesan adalah kunci menumbuhkan rasa percaya diri.

Ajarkanlah kerendahan hati melalui tindakan dan empati, bukan dengan mengorbankan momen kebanggaan mereka. Biarkan mereka bersemangat, sambil tetap mengingatkan untuk menghargai usaha orang lain juga.

​5. 'Kamu Akan Mempermalukanku Kalau Kamu Melakukan Itu'

​Frasa ini menciptakan tekanan emosional yang luar biasa pada anak. Kamu secara tidak langsung mengajarkan mereka bahwa fungsi utama mereka adalah melindungi citra dan reputasi orang tua di mata publik. 

Hal ini menanamkan rasa takut yang mendalam untuk membuat kesalahan di depan umum dan membuat harga diri mereka bergantung pada validasi eksternal.

Studi menunjukkan bahwa bahasa yang mempermalukan anak seperti ini sangat erat kaitannya dengan peningkatan kecemasan. 

Orang tua yang percaya diri tidak akan pernah menggantungkan harga diri mereka pada bagaimana anak mereka berperilaku.

Biarkan anakmu bertindak sesuai usianya, tanggung jawabmu adalah membimbing, bukan menuntut kesempurnaan demi citramu.

​6. 'Jangan Konyol'

​Mungkin kamu mengatakannya secara spontan saat anakmu mengungkapkan ide yang tidak masuk akal atau pertanyaan yang aneh.

Namun, komentar yang terkesan tidak berbahaya seperti "Jangan konyol" justru sangat efektif dalam menghambat kreativitas dan imajinasi. 

Frasa ini membuat anakmu ragu untuk menyuarakan ide-ide yang tidak konvensional, takut dicap aneh atau bodoh. Orang tua yang membesarkan anak percaya diri akan memilih untuk terlibat dengan proses berpikir anak, meskipun idenya aneh.

Dengan begitu, kamu menciptakan lingkungan yang aman di mana anak merasa bebas untuk mengekspresikan diri, berpikir out of the box, dan mempertahankan rasa ingin tahu alaminya.

​7. 'Bukan Begitu Cara yang Seharusnya Kamu Lakukan'

​Ketika anakmu mencoba melakukan sesuatu dengan caranya sendiri (misalnya menyusun balok dengan metode unik), dan kamu langsung menyergah dengan "Bukan begitu cara yang seharusnya kamu lakukan", kamu mengirimkan pesan bahwa hanya ada satu cara "benar" dan kesalahan itu dilarang. 

Ini menghambat eksplorasi dan eksperimen yang sangat penting. Anak-anak yang percaya diri dibesarkan dalam rumah yang menerima berbagai eksperimen dan pemecahan masalah yang fleksibel. Berikan mereka izin untuk menemukan jalan keluar mereka sendiri. 

Biarkan mereka membuat kesalahan kecil asalkan aman, karena kemampuan untuk mencoba dan menemukan cara baru inilah yang akan membangun kepercayaan diri mereka dalam mengatasi tantangan di masa depan.

 

EDITOR: Bayu Putra