← Beranda

7 Pengalaman Masa Kecil yang Mengungkap Kurangnya Empati Orang Tua di Masa Lalu

Aunur RahmanMinggu, 23 Maret 2025 | 15.57 WIB
Ilustrasi seorang anak yang merasa diabaikan oleh orang tuanya. (Freepik)

JawaPos.com - Masa kanak-kanak adalah fondasi penting dalam perkembangan emosional seseorang. Pengalaman di masa kecil, terutama interaksi dengan orang tua, membentuk cara anak memahami dan merespons emosi. Kurangnya empati dari orang tua dapat meninggalkan bekas mendalam pada diri seorang anak.

Melansir Global English Editing pada Minggu (23/3), berikut adalah 7 pengalaman masa kecil yang bisa menjadi tanda kurangnya empati dari orang tua di masa lalu. Mengenali hal ini bisa menjadi langkah awal untuk memahami diri sendiri dan memperbaiki hubungan di masa depan.

1. Diberitahu untuk Tegar saat Sedih atau Terluka

Ketika seorang anak merasa sedih atau terluka, respons alami orang tua yang penuh kasih adalah memberikan dukungan dan pengertian. Namun, bagi sebagian orang, mereka mungkin sering mendengar kalimat seperti, "Sudahlah, jangan cengeng," atau "Kamu harus kuat."

Alih-alih menawarkan kenyamanan, orang tua justru menyuruh anak untuk bersikap tegar dan menghadapi kesulitan sendiri. Kurangnya empati ini membuat anak merasa emosinya tidak valid atau penting.

2. Kritik yang Konstan dan Meremehkan

Kritik membangun tentu diperlukan dalam mendidik anak, tetapi kritik yang terus-menerus dan meremehkan dapat sangat menyakitkan.

Anak-anak yang tumbuh dengan orang tua yang selalu melihat kesalahan dan kekurangan mereka cenderung memiliki harga diri yang rendah. Mereka merasa tidak pernah cukup baik di mata orang tuanya. Situasi ini menghambat perkembangan rasa percaya diri dan kemampuan untuk mengambil risiko.

3. Emosi Anak Dianggap Berlebihan atau Drama

Ketika anak mengungkapkan kekecewaan, ketakutan, atau kemarahan, orang tua yang kurang berempati mungkin merespons dengan mengatakan, "Kamu terlalu dramatis," atau "Jangan berlebihan."

Respons ini membuat anak merasa bahwa emosi yang mereka rasakan tidak valid atau tidak pantas untuk diungkapkan. Anak jadi belajar untuk menekan perasaannya karena takut dianggap berlebihan.

4. Orang Tua Lebih Sibuk dengan Diri Sendiri

Orang tua yang kurang berempati sering kali lebih fokus pada kebutuhan dan masalah mereka sendiri daripada mendengarkan atau memperhatikan apa yang dirasakan anak.

Anak mungkin merasa diabaikan atau tidak penting ketika orang tua terus-menerus mengalihkan pembicaraan kembali pada diri mereka sendiri. Hal ini bisa menciptakan rasa kesepian dan kurangnya koneksi emosional antara orang tua dan anak.

5. Sulit Menerima Kegagalan atau Kesalahan Anak

Setiap anak pasti pernah melakukan kesalahan atau mengalami kegagalan. Orang tua yang berempati akan membantu anak belajar dari pengalaman tersebut dengan memberikan dukungan dan pengertian.

Namun, orang tua yang kurang berempati cenderung marah, menyalahkan, atau mempermalukan anak atas kesalahannya. Ini bisa membuat anak takut untuk mencoba hal baru atau mengakui kesalahan karena takut akan hukuman atau reaksi negatif.

6. Perbandingan dengan Anak Lain yang Dianggap Lebih Baik

Membandingkan anak dengan saudara kandung atau teman sebaya yang dianggap lebih pintar, lebih sukses, atau lebih baik dalam hal tertentu dapat sangat merusak harga diri anak. Anak merasa tidak dihargai apa adanya dan selalu dibandingkan dengan standar yang tidak realistis.

Ini bisa memicu persaingan yang tidak sehat dan perasaan rendah diri. Pengalaman-pengalaman ini sering dirasakan oleh mereka yang tumbuh dengan orang tua yang kurang memiliki kepekaan emosional.

7. Tidak Ada Ruang untuk Pendapat atau Preferensi Anak

Orang tua yang kurang berempati sering kali membuat keputusan tanpa mempertimbangkan pendapat atau preferensi anak. Anak merasa tidak memiliki kontrol atas hidupnya dan suaranya tidak didengar.

Mereka mungkin dipaksa untuk mengikuti kegiatan atau pilihan yang tidak mereka sukai tanpa ada penjelasan atau ruang untuk berdiskusi. Hal ini dapat menghambat perkembangan kemandirian dan kemampuan untuk membuat keputusan sendiri.

Mengenali pengalaman-pengalaman ini dapat membantu seseorang memahami akar dari masalah emosional yang mungkin mereka hadapi di kemudian hari. Penting untuk diingat bahwa setiap pengalaman individu itu unik.

Memahami bahwa masa lalu telah memengaruhi kita adalah langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih sehat dan penuh empati di masa depan. (*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah