← Beranda

7 Kalimat yang Sering Dikatakan Orang Tua yang Secara Emosional Tidak Dewasa dan Bisa Merusak Anak

Lania MonicaSenin, 10 Maret 2025 | 22.52 WIB
Ilustrasi Orang Tua yang Secara Emosional Tidak Dewasa (freepik)

JawaPos.com - Setiap orang tua tentu ingin yang terbaik untuk anaknya. Namun, tanpa disadari, beberapa kata yang diucapkan justru bisa berdampak buruk pada perkembangan emosional anak.

Psikologi menunjukkan bahwa kalimat-kalimat tertentu dapat meninggalkan luka batin yang bertahan lama, mempengaruhi kepercayaan diri, serta hubungan sosial anak di masa depan.

Alih-alih membangun mental yang kuat, beberapa ungkapan justru membuat anak merasa tidak cukup baik, takut mengungkapkan perasaan, dan terbiasa mencari validasi dari orang lain.

Jika ingin membesarkan anak yang percaya diri dan bahagia, penting untuk menyadari kata-kata yang bisa melukai perasaan mereka.

Dilansir dari laman Geediting, Senin (10/03), berikut adalah 7 kalimat yang sering dikatakan orang tua yang secara emosional tidak dewasa dan tanpa sadar dapat merusak anak:

1. “Berhenti menangis. Kamu terlalu berlebihan.”
Banyak orang tua menganggap menangis sebagai tanda kelemahan atau berlebihan. Padahal, anak-anak masih belajar memahami dan mengelola emosinya. Mengatakan mereka "terlalu sensitif" justru mengajarkan mereka untuk menekan perasaan, bukan mengelolanya dengan sehat.

Sebaliknya, anak yang merasa aman untuk mengekspresikan emosinya akan lebih mudah mengatasi stres dan kecemasan di masa depan. Daripada menyuruh mereka berhenti menangis, lebih baik tanyakan, “Apa yang sedang kamu rasakan?” atau “Mau cerita ke Ibu/Ayah tentang yang terjadi?”

2. “Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?”
Perbandingan antar saudara bisa sangat merusak rasa percaya diri anak. Ketika orang tua mengatakan, “Kenapa kamu tidak bisa seperti saudaramu?” anak bisa merasa tidak cukup baik dan mulai melihat saudaranya sebagai pesaing, bukan sebagai teman.

Penelitian menunjukkan bahwa hubungan saudara yang suportif berkontribusi pada kesejahteraan emosional anak. Namun, jika mereka terus dibandingkan, mereka akan tumbuh dengan rasa rendah diri atau bahkan keinginan untuk selalu membuktikan diri. Sebagai gantinya, fokuslah pada usaha dan pencapaian unik setiap anak tanpa membandingkan mereka satu sama lain.

3. “Aku sudah mengorbankan segalanya untukmu. Kamu harus membalasnya.”
Banyak orang tua memang melakukan banyak pengorbanan demi anak mereka, tetapi jika hal ini sering diungkit, anak akan merasa bahwa kasih sayang orang tua bersyarat. Mereka bisa tumbuh dengan perasaan bersalah atau terpaksa memenuhi ekspektasi orang tua, bukan mengikuti jalan hidup mereka sendiri.

Anak tidak seharusnya merasa berhutang budi atas kehidupan yang mereka jalani. Sebaliknya, orang tua bisa mengajarkan rasa syukur dan tanggung jawab dengan cara yang lebih sehat, tanpa membuat anak merasa terbebani.

4. “Jangan banyak tanya. Orang tua selalu benar.”
Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan itu adalah hal yang baik. Namun, ketika orang tua menutup diskusi dengan kalimat seperti ini, mereka tanpa sadar mengajarkan anak untuk tidak berpikir kritis atau mempertanyakan hal-hal penting dalam hidup mereka.

Psikolog Dr. Shefali Tsabary menjelaskan bahwa anak-anak yang diberi ruang untuk bertanya dan berpikir sendiri cenderung tumbuh menjadi individu yang lebih mandiri dan kreatif. Daripada membungkam rasa ingin tahu mereka, orang tua bisa menjelaskan alasan di balik aturan yang dibuat, sehingga anak belajar memahami konsep sebab-akibat dengan lebih baik.

5. “Kalau kamu terus begitu, kamu tidak akan sukses.”
Mengancam anak dengan kegagalan justru bisa merusak rasa percaya diri mereka. Alih-alih merasa termotivasi, mereka justru bisa tumbuh dengan ketakutan untuk mencoba hal baru karena takut gagal.

Menurut penelitian dari Center for Children and Youth, anak-anak berkembang lebih baik ketika usaha mereka dihargai, bukan ketika mereka diberi label seperti "pemalas" atau "tidak akan sukses." Sukses adalah proses yang dibangun dari usaha kecil setiap hari. Jadi, daripada menakut-nakuti, bantu mereka memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari pembelajaran.

6. “Aku tidak punya waktu untuk hal tidak penting seperti ini.”
Saat anak berbicara atau berbagi sesuatu yang menurut mereka penting, tetapi orang tua malah mengabaikannya, mereka akan merasa bahwa suara mereka tidak dihargai. Lama-kelamaan, mereka bisa berhenti berbicara dengan orang tua dan mencari validasi dari orang lain.

Jika sedang sibuk, daripada langsung menolak, lebih baik katakan, “Ibu/Ayah sedang sibuk sebentar, tapi nanti kita bisa ngobrol, ya?” Dengan begitu, anak tetap merasa dihargai tanpa harus mengganggu aktivitas penting orang tua.

7. “Apa kata orang nanti?”
Kalimat ini mengajarkan anak untuk lebih peduli pada pendapat orang lain dibandingkan dengan apa yang sebenarnya mereka inginkan atau rasakan. Akibatnya, mereka tumbuh dengan kebiasaan mencari validasi eksternal, bukan dari diri sendiri.

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang sering diberi tekanan untuk memenuhi ekspektasi sosial cenderung mengalami kecemasan dan kesulitan mengambil keputusan. Alih-alih menanamkan ketakutan akan penilaian orang lain, lebih baik ajarkan mereka untuk bertanggung jawab atas pilihan mereka sendiri dan bangga dengan siapa mereka.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho