← Beranda

Betawi, Masyarakat Sungai yang Kini Mengalami Krisis Air

Raihan ImmaduddinKamis, 15 Agustus 2024 | 01.32 WIB
Banjir yang merendam pemukiman padat penduduk di kawasan Kebon Pala, Kelurahan Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis, (30/11/2023). Permukiman warga di Kebon Pala RT. 10 dan RT. 13, RW. 04 Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta

SUNGAI telah lama menjadi bagian terpenting dalam sejarah peradaban manusia. Banyak peradaban besar dan maju yang dibangun di sekitar aliran sungai. Beribu-ribu tahun lamanya manusia sudah menggantungkan hidupnya pada sungai dan sumber daya di dalamnya. Selain untuk kebutuhan makan, minum, dan mandi, sungai juga dimanfaatkan sebagai sarana transportasi serta saluran irigasi guna menghidupi berbagai jenis tanaman yang digarap dan ternak yang digembalakan.

Betawi adalah contoh kecil dari banyaknya sejarah peradaban manusia yang tercipta di pinggiran sungai. Hal ini dibuktikan dari temuan arkeologis berumur 5.000 tahun berupa kapak berimbas dan beliung di tepi sungai Ciliwung, Condet. Penemuan tersebut secara tidak langsung membantah anggapan bahwa Betawi baru muncul di abad ke-15 Masehi.

Menurut sejarawan, JJ Rizal, masyarakat Betawi dan Jakarta lahir bersama air. Awal kisahnya ribuan tahun yang lalu, air hujan mengikis tiga gunung yang ada di selatan Jakarta (Gunung Pangrango, Gede, dan Salak) lalu air-air tersebut mengalir ke wilayah Jakarta membawa lumpur, pasir, batu dan material keras lain  sehingga lama-kelamaan membentuk daratan serta sungai-sungai.

Basis historis inilah yang menyebabkan wilayah Jakarta banyak dilalui oleh sungai dan identik dengan sebutan kota air. Terbukti dengan banyaknya tempat di Jakarta yang mengandung unsur air, semisal Kalideres, Kalibata, Rawamangun, Rawa Buaya, Cipayung, Pancoran, Tugu, Kamal Muara, Tanjung Priok dan lain sebagainya.

Sungai Sebagai Sumber Kebudayaan Orang Betawi

Selain berpengaruh pada penamaan tempat, hubungan Jakarta dan air juga mempengaruhi ragam jenis kebudayaan orang Betawi, seperti cerita rakyat, ritus, bahkan makanan.

Sebagai masyarakat yang hidupnya di antara 13 sungai, orang-orang Betawi lekat dengan berbagai cerita dan mitos yang menyelimuti tiap-tiap sungai. Buaya menjadi simbol utama dari cerita rakyat masyarakat Betawi yang berkaitan dengan air. Buaya dianggap sebagai penghuni dan penguasa seluruh sungai, rawa, situ, kedung, dan kobakan di Jakarta.

Menurut JJ Rizal, terdapat kepercayaan di orang-orang Betawi bahwa buaya bukanlah hewan yang berbahaya, melainkan penjaga kawasan dan bagian dari keluarga besar masyarakat Betawi. Buaya diibaratkan simbol dari reinkarnasi leluhur yang menjaga kawasan air. Bila di darat ada ondel-ondel dan di udara ada elang bondol, maka di air ada buaya sebagai penjaga kawasan.

Masyarakat sekitar Condet misalnya, beberapa menyakini buaya buntung menghuni dan menguasai sungai-sungai di Jakarta sehingga terdapat larangan untuk mengotori atau mencemari sungai.

Lain buaya buntung, lain pula buaya putih di kali-kali selatan Jakarta. Ridwan Saidi selaku budayawan Betawi menyebut, buaya putih merupakan simbol kesaktian dan bukan hewan biasa. Setiap naik ke permukaan biasanya buaya putih muncul sepasang dan membawa pesan-pesan tertentu untuk masyarakat sekitarnya. Kali Lebak Bulus, Kali Cideng, dan Kali Gunung Sari menjadi tempat tinggal buaya putih di masa lalu.

Ketiga sungai yang ditanggali sepasang buaya putih ini seringkali dianggap angker oleh orang-orang. Hal ini memunculkan tradisi baru yang disebut sebagai "nyugu" atau pemberian sesajen ke sungai dengan sajian bunga tujuh rupa, telur ayam, bekakak, dan nasi kuning.

Cerita lain yang berkenaan buaya putih juga ada di Setu Babakan. Menurut kisah yang beredar di sana, dahulu ada seorang gadis yang lompat ke Setu Babakan karena cintanya tak direstui oleh ayahnya. Melihat kondisi Si Gadis, siluman buaya putih menjadi iba dan mengubah si gadis menjadi buaya putih agar tidak mati. Sejak saat itu, buaya putih menjadi penjaga kawasan situ dan akan memangsa orang-orang yang berbuat jelek atau tidak senonoh.

Simbol buaya sebagai penjaga tidak hanya terjadi di kawasan air, tetapi juga di dalam sebuah ikatan pernikahan orang-orang Betawi. Buaya dikenal hewan yang setia terhadap pasangannya, buaya hanya kawin sekali sepanjang hidupnya dan tidak akan kawin dengan buaya lain meski pasangannya mati ataupun menghilang. Alasan tersebut yang melatarbelakangi orang Betawi untuk membuat roti buaya sebagai ungkapan perasaan ke pasangan mereka.

Selain kesetiaan, roti buaya juga melambangkan kesabaran, kejantanan, kesuburan, kemapanan ekonomi, dan harapan. Dengan terus menghadirkan roti buaya di acara-acara pernikahan, bukan hanya telah melestarikan nilai dan budaya Betawi, tetapi juga merawat ingatan bahwa Betawi berasal dari masyarakat sungai dan air.

Baca Juga: Lalu, untuk Apa (Event) Olahraga?

Kondisi Sungai-Sungai di Jakarta Hari ini

Berdasarkan laporan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta tahun 2023, hampir keseluruhan mutu air sungai di Jakarta terkategori cemar berat selama tahun 2018 hingga 2023. Sungai-sungai ini mengandung berbagai unsur pencemar, seperti BOD, MBAS, DO, H2H, klorin bebas, lumpur, dan lain sebagainya. Unsur-unsur tersebut yang menyebabkan kondisi sungai-sungai di Jakarta berwarna coklat, keruh, dan berbau.

Kandungan mikrobiologi berupa bakteri koli tinja dan bakteri total koli di sungai-sungai Jakarta juga sangat tingi. Bakteri-bakteri ini dapat menyebabkan diare dan jika dikonsumsi terus-menerus dalam jangka panjang akan menyebabkan penyakit radang usus, infeksi pada saluran kemih serta saluran empedu. Bakteri koli tinja di perairan juga mengindikasikan kondisi air sungai yang telah terkontaminasi feses manusia dan hewan. Dengan begitu, kualitas air di sungai-sungai Jakarta bukan hanya tidak layak dikonsumsi, tetapi juga tidak layak digunakan sehari-hari.

Bukan hanya bermasalah dalam segi kualitas air, dari segi kuantitas air juga sangat mengkhawatirkan. Akses masyarakat terhadap sumber air permukaan (sungai, waduk, danau, rawa) sudah sangat terbatas, mayoritas sumber air bagi rumah tangga di Jakarta berasal dari air dalam kemasan. Bayangkan, jika dahulu air menjadi sumber kehidupan, kini malah menjadi penambah beban kehidupan. Bagaimana tidak, sekadar memenuhi kebutuhan air bersih, masyarakat Jakarta harus menyisihkan uangnya untuk membeli air. Belum lagi permasalahan privatisasi air yang mengancam pemenuhan hak atas air dan memicu penurunan permukaan tanah yang makin parah.

Suatu kondisi yang sangat memprihatinkan ketika satu wilayah yang selama berpuluh-puluh tahun dikenal sebagai rumah air bahkan seringkali kelebihan air (dibaca: banjir) saat ini malah mengalami krisis air. Sungai yang dahulu menjadi ruang suci dan rezeki bagi masyarakat di sekitarnya, kini menjelma ruang penuh penyakit yang harus segera ditinggalkan

Menurut JJ Rizal, Jakarta sudah durhaka dengan alam yang membentuknya. Jakarta mestinya berkembang menjadi kota biru sekaligus kota hijau, kota yang menjadi rumah bagi air dan tumbuh-tumbuhan. Namun, kini malah berkembang menjadi kota abu-abu, aspal, dan beton melulu.

Secapatnya pemerintah daerah bersama masyarakat Jakarta wajib mengembalikan wajah Jakarta sebagai rumah air. Rumah bagi berbagai jenis tumbuhan, mata pencaharian, serta kebudayaan yang sejak awal terbentuk dan berkembang di sana. Dengan begitu, harapan Jakarta sebagai kota maju dan bahagia warganya tidak sekadar angan-angan, tetapi juga dapat dirasakan, dimanfaatkan, dan dinikati sampai generasi-generasi selanjutnya.

*) Raihan Immaduddin, Mahasiswa Sejarah Universitas Diponegoro

EDITOR: Ilham Safutra